KebonCinta.com - Kebiasaan sehari-hari yang terasa menyenangkan ternyata bisa memengaruhi konsentrasi dan produktivitas. Salah satunya adalah aktivitas yang memberikan kesenangan secara instan, seperti bermain media sosial berjam-jam hingga menonton serial favorit tanpa henti.
Dopamin sering disebut sebagai hormon kebahagiaan. Padahal, secara ilmiah, dopamin merupakan neurotransmiter yang berperan dalam motivasi, pembelajaran, gerakan, dan sistem penghargaan otak. Zat ini membantu manusia terdorong untuk melakukan aktivitas yang dianggap menyenangkan atau memberikan hasil tertentu.
Namun, kebiasaan mengejar kesenangan instan secara berulang dapat membuat seseorang lebih sulit mengatur waktu dan mempertahankan perhatian pada pekerjaan yang membutuhkan usaha lebih besar. Bukan berarti dopamin merupakan zat yang buruk, melainkan pola perilaku yang perlu dikendalikan.
Lantas, apa saja kebiasaan pemicu dopamin instan yang berpotensi mengganggu fokus dan produktivitas? Berikut lima di antaranya.
Baca Juga: Sering Cemas Menjelang Gajian? Karjimut Perlu Ubah 8 Kebiasaan Keuangan Ini agar Lebih Tenang
Doomscrolling merupakan kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial untuk membaca berita, melihat konten, atau mencari informasi, meskipun aktivitas tersebut mulai menimbulkan kelelahan dan kecemasan.
Konten yang terus berganti membuat seseorang terdorong mencari informasi berikutnya. Apalagi, media sosial menawarkan beragam hal menarik yang sulit diprediksi, mulai dari berita terkini hingga video hiburan.
Jika berlangsung terlalu lama, doomscrolling dapat menyita waktu, mengganggu konsentrasi, dan membuat pekerjaan tertunda. Kebiasaan ini juga berpotensi mengurangi waktu istirahat ketika dilakukan menjelang tidur.
Untuk mengatasinya, cobalah menetapkan batas waktu penggunaan media sosial. Hindari membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur dan berikan jeda sebelum kembali menggulir layar ketika sedang mengerjakan sesuatu.
Bermain game dapat menjadi sarana hiburan sekaligus membantu seseorang berlatih memecahkan masalah. Akan tetapi, durasi bermain yang tidak terkendali bisa mengganggu keseimbangan aktivitas sehari-hari.
Kemenangan, kenaikan level, pencapaian misi, dan hadiah virtual merupakan bagian dari sistem penghargaan dalam permainan. Tantangan yang terus berubah juga dapat membuat pemain penasaran dan ingin melanjutkan permainan.
Masalah muncul ketika keinginan bermain membuat seseorang menunda belajar, pekerjaan, atau aktivitas penting lainnya. Waktu tidur pun dapat berkurang apabila permainan berlangsung hingga larut malam.
Solusinya, tentukan batas waktu bermain dan selesaikan tanggung jawab utama terlebih dahulu. Dengan begitu, game tetap bisa dinikmati sebagai hiburan tanpa mengorbankan produktivitas.
Belanja online menawarkan kemudahan untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Namun, promosi terbatas, notifikasi diskon, dan flash sale dapat mendorong keputusan pembelian secara spontan.
Antisipasi mendapatkan barang baru bisa menimbulkan rasa senang. Akan tetapi, kepuasan tersebut belum tentu bertahan lama, terutama jika barang yang dibeli sebenarnya tidak dibutuhkan.
Kebiasaan belanja impulsif juga berpotensi mengganggu pengelolaan keuangan. Seseorang bisa mengeluarkan uang berulang kali hanya untuk mengejar sensasi menyenangkan yang sama.
Untuk menghindarinya, terapkan aturan menunggu 24 jam sebelum membeli barang non-esensial.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir