Pendidikan
Rahman Abdullah

5 Kelemahan Pelaku Bullying yang Perlu Dipahami Guru agar Perundungan Bisa Dicegah

5 Kelemahan Pelaku Bullying yang Perlu Dipahami Guru agar Perundungan Bisa Dicegah

26 Oktober 2026 | 18:22

KebonCinta.com-- Perundungan atau bullying di sekolah tidak bisa diselesaikan hanya dengan memberikan hukuman kepada pelakunya. Sekolah juga perlu memahami pola perilaku yang mendorong seseorang melakukan intimidasi agar penanganannya lebih tepat dan tidak berhenti pada sanksi semata.

Pelaku bullying terkadang terlihat percaya diri, berani, bahkan seolah memiliki kuasa atas teman-temannya. Namun, perilaku tersebut tidak selalu mencerminkan kemampuan mengelola emosi, menyelesaikan konflik, atau membangun hubungan sosial yang sehat.

Memahami faktor di balik perilaku perundungan dapat membantu guru dan orang tua menentukan pendekatan yang lebih efektif. Tujuannya bukan mencari cara untuk mempermalukan atau mengalahkan pelaku, melainkan menghentikan perilaku yang merugikan sekaligus mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.

Berikut lima pola kelemahan yang dapat muncul pada sebagian pelaku bullying dan perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan.

Baca Juga: Cara Mencegah Bullying pada Anak Dimulai dari Rumah, Orang Tua Perlu Tahu 

1. Keberanian Sangat Bergantung pada Dukungan Kelompok

Sebagian pelaku bullying merasa lebih berani ketika berada bersama teman-teman yang mendukung tindakannya. Dukungan kelompok dapat membuat mereka merasa lebih kuat, terlebih jika teman-temannya ikut menertawakan korban atau membenarkan perilaku intimidasi.

Sebaliknya, ketika berada di luar kelompok tersebut, keberanian mereka mungkin tidak terlihat sebesar saat bersama teman-temannya. Meski begitu, kondisi ini tidak berlaku pada semua pelaku dan tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk mengenali perilaku bullying.

Sekolah dapat mengurangi pengaruh negatif kelompok dengan membangun budaya pertemanan yang sehat. Siswa perlu didorong untuk tidak ikut mengejek, tidak menyebarkan penghinaan, serta berani mencari bantuan ketika melihat temannya menjadi sasaran perundungan.

Guru juga dapat memberikan pemahaman bahwa mengikuti tindakan kelompok yang menyakiti orang lain tetap memiliki konsekuensi. Keberanian yang sebenarnya justru terlihat ketika seseorang mampu menolak ajakan yang salah, meskipun datang dari teman dekatnya.

2. Perilaku Berubah Ketika Ada Guru atau Orang Dewasa

Pengawasan orang dewasa dapat memengaruhi perilaku sebagian pelaku bullying. Mereka mungkin menahan diri ketika guru berada di dekatnya karena khawatir mendapat teguran atau sanksi.

Namun, saat pengawasan berkurang, perilaku intimidasi bisa kembali muncul. Hal ini menunjukkan bahwa kepatuhan yang hanya didorong oleh rasa takut terhadap hukuman belum tentu disertai pemahaman tentang pentingnya menghormati orang lain.

Karena itu, pencegahan bullying tidak cukup dilakukan dengan meningkatkan pengawasan saja. Sekolah perlu menanamkan aturan yang konsisten, menjelaskan dampak perundungan, dan memastikan setiap laporan ditangani secara serius.

Guru juga perlu memperhatikan lokasi dan waktu yang berpotensi luput dari pengawasan, seperti pergantian jam pelajaran, kantin, lorong sepi, serta area sekitar gerbang sekolah.

Dengan perpaduan pengawasan dan pendidikan karakter, siswa diharapkan memahami bahwa perilaku menghormati orang lain harus diterapkan di mana pun, bukan hanya ketika guru sedang melihat.

Baca Juga: Rangkuman Materi PKN Kelas 10 Semester Ganjil untuk Persiapan UAS, Pelajari Poin Penting Ini 

3. Kesulitan Menyelesaikan Konflik dengan Cara Sehat

Perbedaan pendapat merupakan bagian wajar dari kehidupan sosial siswa. Masalah muncul ketika konflik diselesaikan melalui ancaman, penghinaan, pemaksaan, atau kekerasan.

Sebagian pelaku bullying mungkin belum memiliki keterampilan komunikasi yang memadai untuk menghadapi perbedaan. Mereka bisa menggunakan intimidasi untuk menguasai situasi, membuat orang lain takut, atau memaksakan keinginannya.

Dalam kondisi seperti ini, guru perlu membantu siswa mempelajari cara menyampaikan pendapat tanpa merendahkan orang lain. Keterampilan mendengarkan, mengendalikan respons, bernegosiasi, dan mencari penyelesaian bersama dapat dilatih melalui kegiatan pembelajaran maupun pendampingan.

Meski demikian, perundungan tidak boleh dianggap sekadar konflik biasa yang harus diselesaikan oleh kedua pihak secara seimbang. Jika terdapat tindakan intimidasi berulang atau ketimpangan kekuatan, sekolah perlu memprioritaskan keselamatan korban dan menangani perilaku pelaku secara tegas.

4. Kesulitan Mengelola Emosi

Kemarahan, rasa kecewa, frustrasi, atau kesulitan menghadapi penolakan dapat menjadi faktor yang berkaitan dengan perilaku agresif pada sebagian siswa. Ketika tidak mampu mengelola perasaan tersebut, mereka mungkin melampiaskannya kepada teman.

Akan tetapi, emosi negatif bukan pembenaran untuk melakukan bullying.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Pelaku bullying Perundungan sekolah Cara mengatasi bullying

Komentar Pengguna