KebonCinta.com — Sebanyak 83 mahasiswa program sarjana terpilih mendapatkan dukungan penelitian melalui program Indofood Riset Nugraha atau IRN 2026.
Mereka berhasil melewati proses seleksi dari 595 proposal penelitian yang masuk.
Program tersebut diarahkan untuk mendorong mahasiswa mengembangkan penelitian pangan dengan memanfaatkan sumber daya dan potensi lokal.
Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa dana penelitian.
Mahasiswa juga mendapatkan pendampingan dari tim pakar yang berasal dari berbagai bidang keilmuan.
Pendampingan tersebut membantu mahasiswa memperkuat metode penelitian, membaca hasil serta mengembangkan gagasan agar memiliki relevansi terhadap kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bereksplorasi dan memperkuat kemampuan ilmiah,” ujar Head of Corporate Communications Indofood Stefanus Indrayana.
Ia kemudian menjelaskan kekayaan pangan lokal dapat dikembangkan menjadi inovasi apabila didukung penelitian yang kuat.
Program tahun ini juga bertepatan dengan dua dekade pelaksanaan Indofood Riset Nugraha.
IRN merupakan program bantuan penelitian bagi mahasiswa S1 yang melakukan riset di bidang pangan maupun bidang terkait.
Tema yang dikembangkan antara lain berkaitan dengan pangan fungsional berbasis sumber daya lokal.
Pangan fungsional tidak hanya dipandang sebagai sumber energi.
Produk pangan juga dapat dikaji berdasarkan kandungan maupun manfaat tertentu yang berpotensi mendukung kesehatan.
Namun setiap klaim mengenai manfaat suatu bahan tetap membutuhkan bukti ilmiah.
Karena itu, penelitian mahasiswa diharapkan memperhatikan aspek keamanan, mutu serta metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam Simposium Pangan Nasional 2026, peneliti muda juga mendapatkan kesempatan bertemu dengan akademisi, pemerintah serta pelaku industri.
Pertemuan tersebut penting agar hasil riset tidak berhenti menjadi dokumen tugas akhir di kampus.
Penelitian yang memiliki potensi dapat dikembangkan lebih lanjut menuju penerapan dan hilirisasi.
Ketua Tim Pakar IRN Prof. Purwiyatno Hariyadi menekankan bahwa inovasi pangan membutuhkan hubungan antara penelitian, kebutuhan masyarakat, kesiapan industri dan regulasi.
Mahasiswa karena itu perlu memahami bahwa menghasilkan inovasi bukan hanya menemukan sesuatu yang baru.
Sebuah hasil riset juga harus memperhatikan kemungkinan penerapan, keamanan produk serta manfaat yang dapat dibuktikan.
Sejak program pendahulunya dimulai, IRN telah menerima lebih dari 19.200 proposal penelitian.
Lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa dari lebih dari 200 perguruan tinggi disebut telah mendapatkan pendanaan.
Jumlah tersebut menunjukkan besarnya minat mahasiswa terhadap penelitian di bidang pangan.
Bagi 83 mahasiswa yang terpilih tahun ini, dukungan penelitian memberikan kesempatan untuk membawa gagasan dari ruang kelas menuju penelitian yang lebih serius.
Pengalaman tersebut juga dapat menjadi bekal apabila mereka ingin melanjutkan pendidikan atau berkarier sebagai peneliti.
Indonesia mempunyai beragam bahan pangan lokal dengan karakteristik berbeda di setiap wilayah.
Penelitian generasi muda dapat membantu mengidentifikasi potensi tersebut dan mengembangkannya menjadi inovasi yang tetap berlandaskan bukti ilmiah.
Dari ratusan proposal yang masuk tahun ini, 83 penelitian kini mendapatkan kesempatan untuk dikembangkan lebih jauh.
Hasilnya diharapkan tidak hanya menjadi karya akademik, tetapi mampu memberi manfaat bagi pengembangan pangan, kesehatan dan masyarakat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir