KebonCinta.com - Anggapan bahwa kesuksesan harus diraih melalui pekerjaan kantoran perlahan mulai berubah. Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), generasi muda justru mulai melirik profesi yang mengandalkan keterampilan praktis, seperti teknisi listrik, pengelasan, pertukangan, hingga manufaktur.
Pergeseran ini bukan tanpa alasan. Ketika berbagai tugas administratif semakin mudah dikerjakan oleh teknologi, pekerjaan yang membutuhkan keahlian teknis, ketelitian, serta kemampuan menyelesaikan persoalan secara langsung di lapangan justru memiliki daya tarik tersendiri.
Fenomena tersebut terlihat di Amerika Serikat. Sekolah kejuruan yang sebelumnya kerap dianggap sebagai pilihan alternatif kini mulai menjadi incaran generasi muda. Jurusan seperti teknik listrik, pengelasan, manufaktur, dan pertukangan mengalami peningkatan minat seiring terbukanya peluang kerja di sektor industri.
Perubahan ini sekaligus menggoyahkan pandangan lama bahwa gelar sarjana dan pekerjaan di balik meja merupakan satu-satunya jalan menuju kehidupan mapan.
Meningkatnya minat terhadap pendidikan vokasi mendorong sejumlah institusi untuk memperbarui fasilitas pembelajaran. Pendidikan berbasis keterampilan kini tidak lagi identik dengan bengkel sederhana, melainkan mulai mengadopsi teknologi yang digunakan di industri modern.
Salah satu contohnya adalah sekolah di Middleton yang menggelontorkan investasi sebesar US$ 90 juta atau sekitar Rp 1,5 triliun untuk memperbarui fasilitas praktik. Investasi tersebut mencakup penggunaan lengan robot dan peralatan berbasis komputer.
Hasilnya, lebih dari 2.300 siswa tercatat mendaftar dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan keterampilan mulai mendapatkan tempat baru di mata generasi muda. Mereka tidak hanya mencari pekerjaan yang menawarkan penghasilan menarik, tetapi juga mempertimbangkan relevansi keahlian yang dipelajari dengan kebutuhan industri.
Di sisi lain, perkembangan teknologi turut mengubah karakter pekerjaan teknis. Pekerja tidak cukup hanya mengandalkan tenaga fisik, tetapi juga perlu memahami mesin, sistem otomatisasi, perangkat digital, serta prosedur keselamatan kerja.
Dengan demikian, keterampilan manual yang dipadukan dengan penguasaan teknologi menjadi modal penting untuk bersaing di pasar tenaga kerja.
Salah satu sektor yang memperlihatkan besarnya peluang tenaga teknis adalah pembangunan pusat data atau data center untuk mendukung perkembangan AI.
Pusat data membutuhkan infrastruktur kompleks yang mencakup pasokan listrik, sistem pendingin, jaringan komunikasi, hingga perangkat keamanan. Seluruh komponen tersebut memerlukan tenaga profesional untuk instalasi, pengoperasian, pemeliharaan, dan perbaikan.
Kebutuhan tersebut membuka peluang bagi teknisi yang memiliki kompetensi khusus, terutama di bidang kelistrikan.
Pembawa acara televisi Amerika Serikat, Mike Rowe, pernah membagikan pengalamannya ketika mengunjungi sebuah pusat data besar di Texas. Dalam kisah yang disampaikannya, sejumlah teknisi berusia di bawah 30 tahun mampu memperoleh penghasilan sekitar US$ 240.000 hingga US$ 280.000 per tahun.
Jika dikonversikan dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS, jumlah tersebut setara dengan Rp 3,84 miliar hingga Rp 4,48 miliar per tahun. Nilainya dapat mendekati Rp 5 miliar jika menggunakan kurs yang lebih tinggi.
Menariknya, para pekerja yang diceritakan tersebut tidak semuanya memiliki gelar sarjana. Mereka mengandalkan keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk menangani infrastruktur pusat data.
Namun, angka tersebut tidak dapat dianggap sebagai standar gaji teknisi secara umum. Penghasilan sebesar itu merupakan contoh dari pekerjaan dengan kebutuhan keahlian tertentu dan dapat dipengaruhi pengalaman, lokasi, tanggung jawab, serta jam lembur.
Meski begitu, kisah tersebut memperlihatkan bahwa jalur pendidikan nonuniversitas juga dapat membuka akses menuju pekerjaan berpenghasilan tinggi, terutama ketika kompetensi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan industri.
Peluang serupa juga muncul di industri manufaktur dan pengolahan baja. Keahlian pengelasan, misalnya, menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur, perakitan mesin, konstruksi, hingga produksi berbagai komponen industri.
Quincy Millerjohn, seorang pengajar pengelasan, menyebut pekerja di pabrik baja dapat menerima bayaran sekitar US$ 41 hingga US$ 52 per jam. Dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dolar AS, nominal tersebut setara dengan sekitar Rp 656.000 hingga Rp 832.000 per jam.
Besarnya bayaran tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan yang membutuhkan keterampilan khusus dapat memiliki nilai ekonomi tinggi. Terlebih, sejumlah pekerjaan teknis menuntut ketelitian, pengalaman, pemahaman material, dan kemampuan mengikuti standar keselamatan yang ketat.
John Mihm, konsultan pendidikan pemerintah Wisconsin, juga menyoroti perubahan persepsi terhadap pekerjaan berbasis keterampilan.
Profesi yang dahulu kerap dipandang sebagai pilihan kedua kini semakin diakui sebagai pekerjaan profesional dengan tuntutan kompetensi tinggi. Selain menawarkan peluang penghasilan, pekerjaan tersebut memungkinkan seseorang melihat hasil pekerjaannya secara langsung.
Bagi sebagian generasi muda, aspek ini menjadi daya tarik tersendiri. Mereka dapat mengembangkan keahlian spesifik, membangun pengalaman, dan meningkatkan nilai profesional melalui hasil kerja yang nyata.
Meningkatnya perhatian terhadap pekerjaan teknis tidak bisa dilepaskan dari perubahan yang terjadi di dunia kerja akibat otomatisasi dan AI.
Berbagai perangkat berbasis AI kini mampu membantu mengolah dokumen, memasukkan data, menyusun laporan, menjawab pertanyaan pelanggan, hingga menjalankan sejumlah proses administratif. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu dan tenaga manusia pun dapat diselesaikan secara lebih cepat.
Laporan Future of Jobs dari World Economic Forum (WEF) edisi 2023 memperkirakan sekitar 83 juta pekerjaan dapat hilang secara global dalam periode 2023–2027, sementara 69 juta pekerjaan baru berpotensi tercipta.
Laporan tersebut juga memperkirakan sekitar 23 persen pekerjaan akan mengalami perubahan struktural dalam periode yang sama.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir