KebonCinta.com – Kehadiran bayi baru biasanya menjadi momen membahagiakan bagi keluarga. Namun, bagi anak yang sebelumnya menjadi pusat perhatian orang tua, perubahan tersebut tidak selalu mudah diterima.
Sebagian anak merasa senang memiliki adik. Namun, ada pula yang menunjukkan kecemburuan, menjadi lebih rewel, atau meminta perhatian lebih banyak setelah adiknya lahir.
Misalnya, anak yang sebelumnya sudah mampu makan sendiri tiba-tiba meminta disuapi. Ada pula yang kembali ingin digendong atau menangis ketika melihat ibunya menyusui bayi.
Perilaku tersebut terkadang membuat orang tua merasa bingung karena menganggap anak seharusnya langsung menyayangi adik barunya.
Padahal, menurut American Academy of Pediatrics (AAP), kehadiran anggota keluarga baru dapat menimbulkan berbagai perubahan emosi pada anak, termasuk rasa cemburu dan kekhawatiran kehilangan perhatian orang tua.
UNICEF juga menjelaskan bahwa sebagian anak usia balita dapat menunjukkan perubahan perilaku ketika sedang menyesuaikan diri dengan kehadiran adik.
Karena itu, orang tua perlu memahami kondisi tersebut sebagai bagian dari proses penyesuaian, sambil tetap memperhatikan batasan perilaku yang aman.
Sebelum memiliki adik, seorang anak mungkin terbiasa memperoleh perhatian orang tua dalam berbagai kegiatan.
Ia dapat bermain bersama ibu, meminta bantuan ayah, atau menikmati waktu keluarga tanpa harus berbagi perhatian dengan bayi.
Ketika adiknya lahir, sebagian besar waktu orang tua digunakan untuk menyusui, mengganti popok, menidurkan bayi, dan memenuhi kebutuhan lainnya.
Perubahan rutinitas tersebut dapat membuat anak merasa kehilangan kebiasaan yang sebelumnya memberikan rasa aman.
Bagi anak usia kecil, keadaan itu mungkin belum dapat dijelaskan menggunakan kata-kata.
Akibatnya, perasaan tersebut dapat muncul dalam bentuk tangisan, kemarahan, atau keinginan memperoleh perhatian.
Namun, tidak semua perubahan perilaku berarti kecemburuan. Orang tua tetap perlu mempertimbangkan faktor tidur, kesehatan, perubahan rutinitas, dan kebutuhan perkembangan anak.
Ketika anak mulai rewel setelah adiknya lahir, orang tua mungkin tergoda mengatakan bahwa kakak sedang nakal atau mencari perhatian.
Padahal, mencari perhatian dari orang tua merupakan kebutuhan yang wajar, terutama saat anak menghadapi perubahan besar.
Daripada langsung memberikan label negatif, cobalah mengamati situasi yang memicu perilaku tersebut.
Apakah anak menjadi rewel setiap kali ibunya menggendong bayi?
Apakah ia merasa kecewa ketika kegiatan bermain bersama orang tua dibatalkan?
Apakah ia kehilangan waktu tidur karena suasana rumah berubah?
Dengan memperhatikan penyebabnya, orang tua dapat memberikan respons yang lebih sesuai.
Anak dapat merasa sedih, kesal, atau cemburu terhadap adiknya.
Perasaan tersebut tidak perlu dipermalukan.
Orang tua dapat mengatakan, "Kakak kangen ya bermain sama Ibu seperti dulu?"
Kalimat semacam itu membantu anak memahami bahwa perasaannya didengarkan.
Namun, menerima perasaan bukan berarti membenarkan tindakan menyakiti bayi.
Jika anak mencoba memukul atau mencubit adiknya, orang tua harus segera menghentikan tindakan tersebut dengan tenang.
Contohnya, "Kakak boleh kesal, tetapi tidak boleh memukul. Ibu akan bantu Kakak mengatakan apa yang dirasakan."
Dengan demikian, anak belajar membedakan antara emosi yang boleh dirasakan dan perilaku yang perlu dibatasi.
Salah satu cara membantu anak menyesuaikan diri adalah menyediakan waktu khusus bersama orang tua.
Waktu tersebut tidak harus berlangsung lama.
Kegiatan sederhana seperti membaca buku, menggambar, atau mengobrol dapat menjadi kesempatan untuk membangun kedekatan.
AAP menyarankan orang tua tetap menyediakan waktu individual bersama anak yang lebih besar setelah kelahiran bayi.
Selama kegiatan berlangsung, usahakan perhatian benar-benar diberikan kepada anak.
Jika memungkinkan, anggota keluarga lain dapat membantu menjaga bayi sementara.
Namun, tidak perlu membuat janji waktu yang sulit dipenuhi setiap hari.
Yang lebih penting adalah konsistensi dan kualitas interaksi.
Baca Juga: Cara Mengatasi Rasa Cemburu Kakak pada Adik Baru Tanpa Drama
Perbandingan dapat membuat anak merasa bahwa kasih sayang orang tua ditentukan oleh perilakunya.
Misalnya, mengatakan, "Adik saja tidak rewel, masa Kakak menangis terus?"
Kalimat tersebut kurang tepat karena kebutuhan bayi dan anak yang lebih besar berbeda.
Orang tua juga perlu menghindari membandingkan kakak dengan anak lain.
Sebagai alternatif, fokuslah pada kemampuan dan perkembangan masing-masing.
Misalnya, "Kakak sekarang sudah bisa memilih buku cerita sendiri. Ibu senang kita bisa membacanya bersama."
Pujian seperti itu lebih membantu daripada membandingkan siapa yang lebih pintar, mandiri, atau disayangi.
Tanpa disadari, orang tua mungkin sering mengatakan bahwa suatu kegiatan tidak dapat dilakukan karena adik.
Misalnya, "Ibu tidak bisa bermain karena adik sedang menyusu."
Jika terus-menerus disampaikan, anak dapat menganggap adiknya sebagai penyebab hilangnya kegiatan yang ia sukai.
Orang tua dapat menggunakan penjelasan yang lebih netral.
Misalnya, "Ibu sedang menyelesaikan sesuatu. Setelah itu kita membaca buku bersama."
Kalimat tersebut tetap menjelaskan adanya penundaan tanpa menempatkan bayi sebagai pihak yang dipersalahkan.
Namun, penjelasan harus sesuai keadaan dan janji perlu ditepati sejauh memungkinkan.
Sebagian anak merasa lebih nyaman ketika diberi kesempatan terlibat dalam kegiatan keluarga.
Misalnya, kakak dapat membantu memilih baju bayi atau mengambilkan popok yang disimpan pada tempat mudah dijangkau.
Kegiatan tersebut harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.
Jangan memberikan tugas yang berbahaya, seperti meminta anak kecil menggendong bayi tanpa bantuan orang dewasa.
Selain itu, keterlibatan sebaiknya bersifat sukarela.
Jika kakak sedang tidak ingin membantu, orang tua tidak perlu memaksanya.
Tujuannya adalah membangun hubungan positif, bukan menjadikan anak yang lebih besar sebagai pengasuh utama adiknya.
Sebagian orang tua berharap anak pertama langsung menunjukkan kedewasaan setelah memiliki adik.
Ungkapan seperti "Kamu sudah besar, tidak boleh menangis lagi" dapat membuat anak merasa kebutuhan emosionalnya tidak diperhatikan.
Padahal, anak tetap memerlukan pelukan, bantuan, dan kesempatan bermain sesuai tahap perkembangannya.
AAP menjelaskan bahwa sebagian anak dapat kembali menunjukkan perilaku yang lebih muda ketika menghadapi kelahiran adik.
Misalnya, anak yang sudah lama tidak meminta digendong tiba-tiba kembali meminta hal tersebut.
Orang tua dapat memberikan perhatian yang wajar sambil tetap membantu anak mengembangkan kemandirian secara bertahap.
Perhatian tidak harus selalu berasal dari ibu.
Ayah, kakek, nenek, atau anggota keluarga tepercaya dapat membantu memberikan pengalaman positif kepada kakak.
Misalnya, ayah mengajak anak berjalan sore atau bermain permainan sederhana.
Kegiatan tersebut bukan dimaksudkan untuk menjauhkan anak dari ibu, melainkan memperluas dukungan yang diperolehnya.
Keluarga juga perlu menjaga kesamaan sikap.
Jika salah satu orang dewasa terus membandingkan kakak dengan bayi, anak dapat menerima pesan yang bertentangan dengan pendampingan orang tua.
Tidak semua anak langsung merasa dekat dengan bayi yang baru lahir.
Ada yang ingin menyentuh atau melihat adiknya sepanjang waktu.
Ada pula yang memilih menjaga jarak.
Orang tua tidak perlu memaksa anak menunjukkan kasih sayang melalui pelukan atau ciuman.
Beri kesempatan anak mengenal adiknya secara bertahap.
Jika ingin berinteraksi, ajarkan cara menyentuh bayi dengan lembut dan tetap berikan pengawasan langsung.
Jangan pernah meninggalkan bayi bersama anak kecil tanpa pengawasan orang dewasa yang memadai.
Keselamatan bayi tetap menjadi prioritas.
Sebagian anak mungkin mengatakan, "Aku tidak suka adik" atau "Aku mau adik pergi."
Ucapan tersebut dapat membuat orang tua terkejut.
Namun, anak belum tentu memahami seluruh makna sosial dari kata-kata yang digunakan.
Daripada langsung memarahinya, orang tua dapat menanyakan apa yang membuatnya merasa demikian.
Misalnya, "Apakah Kakak sedih karena sekarang Ibu lebih sering menggendong adik?"
Setelah mengetahui penyebabnya, orang tua dapat memberikan dukungan yang sesuai.
Namun, apabila ucapan disertai ancaman atau tindakan agresif, keselamatan bayi harus dipastikan melalui pengawasan dan pembatasan yang jelas.
Baca Juga: Hangatnya Kebersamaan Keluarga, Kunci Kebahagiaan Anak
Rasa cemburu yang muncul sesekali tidak otomatis menunjukkan masalah perkembangan.
Namun, perhatian tambahan diperlukan apabila perilaku anak semakin berat, berlangsung berkepanjangan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Misalnya, anak terus-menerus mengalami gangguan tidur, sangat menarik diri, menunjukkan agresi berulang, atau berusaha menyakiti bayi.
Dalam keadaan tersebut, orang tua dapat berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak.
Bantuan profesional bertujuan memahami kebutuhan anak dan membantu keluarga menemukan strategi pendampingan yang lebih sesuai.
Memberikan perhatian kepada kakak dan adik bukan berarti harus melakukan hal yang persis sama kepada keduanya.
Bayi membutuhkan perawatan fisik yang intensif, sedangkan anak yang lebih besar mempunyai kebutuhan bermain, komunikasi, dan pengakuan terhadap perasaannya.
Orang tua dapat memberikan dukungan sesuai kebutuhan masing-masing tanpa membandingkan.
Jika kakak membutuhkan waktu khusus, sediakan kesempatan yang realistis.
Jika bayi membutuhkan perawatan, jelaskan dengan tenang bahwa orang tua akan kembali memberikan perhatian setelah selesai.
Proses membangun hubungan saudara dapat berlangsung secara bertahap.
Melalui komunikasi yang hangat, batasan perilaku yang jelas, dan kesempatan berinteraksi secara positif, anak dapat belajar menerima perubahan dalam keluarganya.
Kasih sayang kepada bayi baru tidak harus membuat kakak kehilangan rasa aman sebagai bagian penting dari keluarga.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir