Keluarga
M. Panji Maulana

Anak di Pesantren Menelepon sambil Menangis dan Minta Pulang, Bagaimana Meresponsnya?

Anak di Pesantren Menelepon sambil Menangis dan Minta Pulang, Bagaimana Meresponsnya?

25 Oktober 2026 | 14:36

KebonCinta.com – Menerima telepon dari anak yang sedang tinggal di pondok pesantren bisa menjadi momen yang mengharukan bagi orang tua. Terlebih ketika suara anak terdengar bergetar, menangis, lalu mengatakan bahwa dirinya ingin pulang.

Sebagian orang tua mungkin langsung merasa bersalah karena telah mengizinkan anak tinggal jauh dari rumah.

Ada pula yang berusaha menenangkan anak dengan meminta agar ia berhenti menangis dan tetap bertahan di pesantren.

Namun, bagaimana sebaiknya orang tua merespons situasi tersebut?

Tangisan dan permintaan pulang tidak selalu menunjukkan bahwa anak tidak cocok tinggal di pesantren. Sebagian santri memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan asrama, jadwal kegiatan, aturan, serta kehidupan bersama teman-teman baru.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa rasa rindu rumah atau homesickness dapat muncul ketika anak berada jauh dari keluarga, termasuk dalam kegiatan tinggal bersama di luar rumah.

Meski demikian, tangisan anak juga tidak boleh langsung dianggap sekadar persoalan adaptasi.

Ada kalanya permintaan pulang berkaitan dengan masalah kesehatan, perundungan, ketakutan terhadap seseorang, atau pengalaman yang membuat anak merasa tidak aman.

Karena itu, respons orang tua perlu menggabungkan ketenangan, empati, pemeriksaan keadaan, dan tindakan yang sesuai.

1. Dengarkan Anak sampai Selesai Berbicara

Ketika anak menelepon sambil menangis, langkah pertama adalah memberikan kesempatan kepadanya untuk bercerita.

Jangan langsung memotong pembicaraan dengan kalimat seperti, "Sudah, jangan menangis!" atau "Kamu harus kuat karena sudah memilih mondok."

Meskipun dimaksudkan untuk memberi semangat, respons tersebut dapat membuat anak merasa bahwa keluhannya tidak dipahami.

Cobalah memberikan tanggapan yang lebih terbuka.

Misalnya, "Ibu dengar kamu sedang sedih. Ceritakan pelan-pelan apa yang terjadi."

Jika anak belum mampu berbicara dengan jelas karena menangis, berikan waktu agar ia dapat menenangkan diri.

Orang tua dapat menanyakan apakah anak sedang berada di tempat yang aman dan apakah ada orang dewasa tepercaya yang bisa mendampinginya.

Mendengarkan bukan berarti harus menyetujui semua permintaan anak.

Namun, anak perlu mengetahui bahwa orang tuanya bersedia memahami keadaan sebelum mengambil keputusan.

2. Cari Tahu Mengapa Anak Ingin Pulang

Permintaan pulang dapat muncul karena berbagai alasan.

Sebagian anak mungkin merindukan suasana rumah, makanan keluarga, atau kebiasaan tidur di kamar sendiri.

Ada pula santri yang merasa kesulitan mengikuti jadwal pesantren atau belum menemukan teman dekat.

Namun, alasan lainnya dapat berkaitan dengan konflik bersama teman, intimidasi, hukuman yang tidak pantas, atau ketakutan terhadap situasi tertentu.

Karena itu, orang tua perlu mengajukan pertanyaan yang membantu anak menceritakan pengalaman secara lebih jelas.

Contohnya:

  • "Apa yang paling membuat kamu sedih hari ini?"
  • "Apakah ada kejadian tertentu yang membuat kamu ingin pulang?"
  • "Bagaimana keadaanmu di kamar dan saat belajar?"
  • "Apakah kamu merasa aman di sana?"
  • "Siapa yang bisa kamu temui kalau membutuhkan bantuan?"

Pertanyaan sebaiknya disampaikan secara terbuka, bukan untuk mengarahkan anak pada jawaban tertentu.

Hindari langsung menuduh teman atau pengasuh sebelum memahami keadaan sebenarnya.

Namun, apabila anak menceritakan adanya ancaman atau kekerasan, jangan mengabaikan informasi tersebut hanya karena belum memiliki bukti lengkap.

3. Jangan Langsung Menjanjikan Akan Menjemput

Saat mendengar anak menangis, orang tua mungkin spontan mengatakan akan segera menjemputnya.

Janji tersebut dapat menenangkan sesaat, tetapi keputusan sebaiknya tetap mempertimbangkan penyebab keluhan.

Apabila tangisan berkaitan dengan penyesuaian diri yang masih wajar dan anak berada dalam lingkungan aman, orang tua dapat mengatur langkah pendampingan bersama pengasuh terlebih dahulu.

Namun, apabila terdapat dugaan bahaya, kekerasan, ancaman, atau keadaan darurat kesehatan, keselamatan anak harus didahulukan.

Dalam situasi tersebut, penjemputan atau pemindahan anak ke tempat aman mungkin perlu dilakukan segera.

Dengan demikian, orang tua tidak perlu membuat aturan mutlak bahwa anak harus selalu bertahan ataupun harus langsung pulang setiap kali menangis.

Keputusan perlu disesuaikan dengan kondisi nyata.

4. Hindari Kalimat yang Membuat Anak Malu

Sebagian orang tua menggunakan kalimat yang terdengar tegas untuk membangkitkan semangat anak.

Misalnya, "Masa begitu saja menangis?" atau "Teman-temanmu bisa bertahan, kenapa kamu tidak?"

Kalimat tersebut dapat membuat anak semakin enggan menceritakan kesulitannya.

Rasa sedih tidak selalu menunjukkan lemahnya karakter seseorang.

Anak yang sedang beradaptasi mungkin membutuhkan waktu untuk memahami lingkungan baru dan membangun rasa aman.

Sebagai alternatif, orang tua dapat mengatakan, "Ibu tahu kamu sedang menghadapi masa yang sulit. Kita cari tahu bersama apa yang bisa membantu."

Respons seperti ini tetap mengarahkan anak pada penyelesaian masalah tanpa meremehkan perasaannya.

Baca Juga: Anak Baru Masuk Pesantren dan Sering Rindu Rumah? Ini Cara Orang Tua Mendampinginya

5. Hubungi Wali Kamar atau Pengasuh Pesantren

Setelah mendengarkan cerita anak, orang tua sebaiknya melakukan komunikasi dengan pihak pesantren.

Wali kamar, musyrif, musyrifah, atau pengasuh yang bertanggung jawab dapat membantu memberikan informasi mengenai keadaan anak selama tinggal di asrama.

Tanyakan bagaimana interaksi anak dengan teman sekamar, keikutsertaan dalam kegiatan, pola tidur, kondisi makan, dan perubahan perilaku yang terlihat.

Namun, informasi dari pengasuh tidak boleh menjadi satu-satunya dasar apabila anak telah menyampaikan dugaan kekerasan atau ketakutan terhadap seseorang.

Dalam keadaan demikian, orang tua perlu memastikan anak dapat berbicara secara aman tanpa berada di bawah pengawasan pihak yang mungkin terlibat dalam masalah.

Apabila keluhan berkaitan dengan adaptasi biasa, orang tua dan wali kamar dapat menyusun pendampingan yang sederhana.

Misalnya, memberi kesempatan anak berbicara dengan pengasuh yang dipercaya, membantu memperkenalkan teman yang suportif, atau mengevaluasi kesulitan mengikuti kegiatan.

6. Buat Kesepakatan Komunikasi yang Menenangkan

Bagi sebagian santri, mengetahui kapan dapat menghubungi keluarga membantu mengurangi ketidakpastian selama tinggal di asrama.

Orang tua dapat menanyakan jadwal komunikasi yang berlaku di pesantren, kemudian membuat kesepakatan yang realistis.

Misalnya, keluarga akan melakukan panggilan pada waktu yang diizinkan pihak pesantren.

Kesepakatan tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk membatasi anak meminta bantuan ketika mengalami keadaan darurat.

Anak tetap perlu mengetahui cara menghubungi orang dewasa tepercaya apabila menghadapi masalah serius di luar jadwal komunikasi.

Selain itu, orang tua dapat mengirimkan pesan singkat yang menenangkan dan mendorong anak bercerita tentang kegiatan yang sudah dijalani.

Komunikasi yang baik bukan hanya menanyakan nilai atau perkembangan hafalan, tetapi juga mendengarkan pengalaman sosial dan emosional anak.

7. Bantu Anak Menetapkan Target Adaptasi yang Realistis

Jika setelah diperiksa tidak ditemukan masalah keselamatan dan keluhan terutama berkaitan dengan rasa rindu rumah, orang tua dapat membantu anak menyusun langkah penyesuaian.

Sebagai contoh, anak diajak mencoba mengenal satu teman baru, mengikuti kegiatan yang disukai, atau berbicara kepada wali kamar ketika merasa kesepian.

Orang tua dapat menanyakan perkembangan tersebut dalam komunikasi berikutnya.

Tidak perlu menetapkan target yang terlalu besar, seperti meminta anak langsung merasa nyaman dengan semua kegiatan.

Penyesuaian diri dapat berlangsung secara bertahap.

Namun, kesepakatan untuk mencoba beradaptasi harus tetap dievaluasi. Jangan menggunakannya sebagai alasan menunda tindakan ketika kondisi anak justru semakin buruk.

8. Kenali Tanda Anak Membutuhkan Bantuan Lebih Serius

Tidak semua tangisan santri dapat diselesaikan dengan nasihat agar bersabar.

Orang tua perlu memperhatikan apabila anak menunjukkan perubahan perilaku yang berat atau berlangsung terus-menerus.

Misalnya, anak mengalami gangguan tidur dan makan yang nyata, ketakutan berlebihan, menarik diri dari orang lain, atau berulang kali menyatakan tidak merasa aman.

National Health Service menjelaskan bahwa kecemasan anak memerlukan perhatian ketika mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, kesejahteraan, atau hubungan sosialnya.

Jika kondisi tersebut terjadi, orang tua perlu mempertimbangkan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan atau psikolog anak.

Apabila anak mengungkapkan keinginan menyakiti diri sendiri, menyatakan tidak ingin hidup, mengalami kekerasan, atau berada dalam bahaya langsung, segera pastikan keselamatannya dan cari bantuan darurat atau tenaga profesional yang kompeten.

Jangan hanya mengandalkan janji bahwa keadaan akan membaik dengan sendirinya.

9. Jika Anak Mengaku Mengalami Perundungan, Apa yang Harus Dilakukan?

Perundungan merupakan persoalan yang harus ditangani secara serius.

Anak mungkin menceritakan bahwa dirinya sering dihina, dikucilkan, diancam, dipukul, atau dipaksa melakukan sesuatu oleh orang lain.

UNICEF Indonesia menganjurkan orang tua untuk mendengarkan anak secara terbuka dan tenang ketika memperoleh cerita mengenai perundungan.

Orang tua perlu menunjukkan bahwa informasi tersebut dianggap penting dan akan ditindaklanjuti.

Catat kejadian yang diceritakan anak, termasuk waktu, tempat, dan pihak yang terlibat sejauh informasi tersedia.

Selanjutnya, hubungi pihak sekolah atau pesantren yang memiliki tanggung jawab perlindungan anak.

Jika pihak yang dilaporkan merupakan pengasuh atau petugas tertentu, jangan hanya menyerahkan penyelesaian kepada orang tersebut.

Hubungi pimpinan lembaga atau pihak independen yang berwenang, dan gunakan saluran perlindungan anak atau aparat penegak hukum apabila diperlukan.

Dalam keadaan yang membahayakan, keselamatan anak lebih penting daripada mempertahankan keikutsertaannya dalam program pendidikan.

Baca Juga: Membangun Komunikasi Dua Arah: Agar Anak Tidak Takut Bercerita pada Orang Tua

10. Evaluasi Apakah Pesantren Masih Menjadi Lingkungan yang Sesuai

Setelah mendampingi anak dan memeriksa kondisinya, orang tua dapat melakukan evaluasi bersama.

Pertimbangkan apakah anak mulai memiliki hubungan sosial yang baik, mampu mengikuti kegiatan sesuai kemampuannya, merasa aman, serta memperoleh dukungan dari pengasuh.

Jika perkembangannya positif, orang tua dapat terus mendukung proses penyesuaian.

Namun, apabila berbagai upaya telah dilakukan tetapi anak tetap mengalami tekanan berat, orang tua perlu mempertimbangkan pilihan pendidikan yang lebih sesuai.

Memindahkan anak dari pesantren dalam kondisi tertentu bukan berarti mengabaikan pendidikan agama atau kedisiplinan.

Pendidikan yang baik seharusnya juga memperhatikan keamanan, kesehatan, dan kebutuhan perkembangan peserta didik.

Anak dapat mempelajari nilai kemandirian dan tanggung jawab melalui berbagai lingkungan pendidikan yang aman serta mendukung.

Pada akhirnya, ketika anak menelepon sambil menangis dan meminta pulang, hal terpenting bukanlah seberapa cepat orang tua menyuruhnya berhenti menangis.

Yang lebih penting ialah memastikan anak didengarkan, mengetahui penyebab kesulitannya, dan memperoleh bantuan yang sesuai.

Dengan komunikasi terbuka antara keluarga, anak, dan pengasuh, keputusan dapat dibuat berdasarkan kebutuhan nyata, bukan sekadar kepanikan atau tuntutan agar anak selalu terlihat kuat.

Tags:
Parenting Santri Anak Pesantren Rindu Rumah Homesickness Orang Tua Santri Pendidikan Pesantren

Komentar Pengguna