Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui batasan yang berlaku, tetapi juga memahami pertimbangan di baliknya.
Membuka diri kepada orang tua tidak selalu mudah, terutama jika anak khawatir ceritanya akan berujung pada kemarahan atau hukuman. Oleh sebab itu, respons orang tua ketika anak mulai berbicara memiliki peran besar dalam membangun kepercayaan.
Ucapan sederhana seperti, "Terima kasih sudah mau cerita," atau "Mama senang kamu percaya untuk berbagi," dapat membuat anak merasa dihargai.
Apresiasi bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui tindakan anak. Jika ada perilaku yang perlu diperbaiki, hal tersebut tetap dapat dibicarakan setelah anak merasa didengarkan.
Pisahkan antara menghargai keberanian anak untuk bercerita dan menilai tindakan yang mereka lakukan. Dengan pendekatan ini, anak belajar bahwa mereka tetap dapat meminta bantuan orang tua meskipun sedang menghadapi kesalahan atau kesulitan.
Baca Juga: 5 Contoh Soal Pilihan Ganda UTS Sosiologi Kelas 11 Semester 1 Beserta Jawabannya
Ponsel dan media sosial sering menjadi sumber kekhawatiran bagi orang tua. Namun, melarang penggunaan perangkat digital tanpa dialog yang memadai belum tentu membuat anak memahami risiko yang mungkin mereka hadapi.
Orang tua perlu mengajak anak membicarakan keamanan internet, privasi, perundungan siber, serta cara menyikapi informasi yang belum tentu benar.
Berikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pengalaman mereka di dunia digital. Jika mereka menghadapi masalah, usahakan agar respons pertama orang tua tidak langsung berupa kemarahan atau penyitaan ponsel.
Tentu saja, pengawasan tetap dibutuhkan sesuai usia dan kondisi anak. Namun, pengawasan sebaiknya berjalan bersama komunikasi terbuka agar anak memahami bahwa aturan dibuat untuk melindungi mereka.
Ketika kepercayaan tumbuh, anak diharapkan lebih berani meminta pertolongan saat menemukan situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Membangun kedekatan dengan anak Gen Z tidak selalu membutuhkan metode pengasuhan yang rumit. Orang tua dapat memulainya melalui kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, menghargai minat anak, menyediakan waktu bersama, dan memberikan respons yang menenangkan.
Perlu dipahami bahwa setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan komunikasi yang berbeda. Ada anak yang mudah bercerita secara langsung, sementara yang lain membutuhkan waktu sebelum bersedia mengungkapkan perasaannya.
Karena itu, orang tua tidak perlu memaksa anak untuk selalu terbuka dalam satu waktu. Berikan ruang, tunjukkan perhatian secara konsisten, dan bangun suasana rumah yang membuat mereka merasa aman.
Pada akhirnya, hubungan orang tua dan anak tidak hanya dibangun melalui banyaknya waktu yang dihabiskan bersama, tetapi juga melalui kualitas interaksi di dalamnya. Ketika anak merasa didengar, dihormati, dan dipercaya, komunikasi keluarga dapat menjadi lebih hangat sekaligus menjadi fondasi penting bagi tumbuh kembang mereka di era digital.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir