KebonCinta.com - Anak yang biasanya senang mengobrol mendadak lebih banyak diam. Saat istirahat, ia memilih duduk sendirian dan mulai menghindari kegiatan bersama teman. Perubahan seperti ini dapat mengundang pertanyaan dari orang di sekitarnya.
Sikap pendiam bukan sesuatu yang salah. Namun, ketika perilaku anak berubah dari kebiasaannya, orang tua, guru, maupun teman perlu memberikan perhatian tanpa terburu-buru menyimpulkan penyebabnya.
Setiap anak memiliki cara berinteraksi yang berbeda. Ada yang nyaman berada dalam kelompok, ada pula yang membutuhkan lebih banyak waktu sendiri.
Baca Juga: Pentingnya Transparansi Keuangan & Aset Orang Tua Sejak Dini
Hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan dibandingkan kebiasaan sebelumnya. Misalnya, anak yang biasanya antusias bersekolah mulai enggan berangkat atau menghindari teman tertentu.
Perhatikan kapan perubahan muncul, seberapa sering terjadi, dan apakah mulai mengganggu kegiatan sehari-hari. Pengamatan ini membantu orang dewasa membuka percakapan berdasarkan kejadian nyata.
Perubahan perilaku dapat berkaitan dengan berbagai keadaan, seperti perselisihan pertemanan, kesulitan mengikuti pelajaran, atau persoalan keluarga. Karena itu, menyendiri tidak cukup untuk memastikan bahwa anak mengalami perundungan.
Baca Juga: Jangan Tunggu Darurat! Ini Rahasia Bicara Uang & Warisan Sama Orang Tua Tanpa Bikin Tersinggung
Meski demikian, kemungkinan tersebut perlu ditanggapi serius apabila anak bercerita tentang ejekan, ancaman, pengucilan, atau tindakan menyakitkan lainnya.
Hindari menunggu cerita lengkap sebelum menunjukkan kepedulian. Anak dapat membutuhkan waktu untuk merasa aman dan percaya kepada orang yang mendengarkannya.
Pilih waktu yang tenang dan tempat yang menjaga privasi. Mulailah dengan menyampaikan pengamatan, misalnya, “Belakangan kamu lebih sering sendiri saat istirahat. Ada yang ingin kamu ceritakan?”
Dengarkan jawaban tanpa menyalahkan atau memaksa anak segera menjelaskan semuanya. Hindari komentar seperti “Kamu terlalu sensitif” karena dapat membuatnya enggan melanjutkan cerita.
Jika belum siap berbicara, sampaikan bahwa bantuan tetap tersedia. Berikan pilihan untuk bercerita kepada orang dewasa lain yang ia percayai.
Baca Juga: Contoh Surat Keterangan Penghasilan Orang Tua untuk Beasiswa bagi Pekerja Informal
Apabila terdapat ancaman, kekerasan, atau anak merasa tidak aman, orang dewasa perlu segera membantu melindunginya dan berkoordinasi dengan pihak sekolah.
Teman sebaya dapat mendampingi anak menemui guru BK, wali kelas, atau orang tua. Mereka tidak harus menghadapi pelaku sendiri.
Kepedulian dapat dimulai dari pertanyaan sederhana, lalu dilanjutkan dengan pendampingan yang konsisten.
Tujuannya memastikan anak memiliki tempat aman untuk berbicara dan memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya.
Baca Juga: Me Time untuk Orang Tua: Cara Mendapatkan Waktu Istirahat tanpa Mengabaikan Anak
Setelah percakapan pertama, tetap tanyakan kabarnya tanpa menjadikannya pusat perhatian di depan teman-temannya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir