Parenting
M. Panji Maulana

Anak Mendapat Ejekan dari Teman, Bagaimana Orang Tua Mendengarkan dan Menindaklanjutinya?

Anak Mendapat Ejekan dari Teman, Bagaimana Orang Tua Mendengarkan dan Menindaklanjutinya?

26 Oktober 2026 | 14:58

KebonCinta.com – Mendengar anak bercerita bahwa dirinya mendapat ejekan dari teman dapat membuat orang tua merasa sedih, marah, atau khawatir. Terlebih jika anak mulai menunjukkan perubahan perilaku, seperti enggan pergi ke sekolah, lebih banyak diam, atau tidak ingin bertemu dengan teman tertentu.

Ejekan mungkin terdengar sederhana bagi orang dewasa. Namun, bagi anak, perkataan yang merendahkan dapat memengaruhi perasaan, kepercayaan diri, dan kenyamanannya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Sebagian anak mampu menceritakan pengalaman tersebut secara terbuka. Namun, ada pula yang memilih diam karena takut dianggap lemah, khawatir masalah semakin besar, atau merasa tidak akan dipercaya.

Karena itu, langkah pertama yang perlu dilakukan orang tua bukan langsung memarahi teman yang mengejek, melainkan memahami pengalaman anak secara menyeluruh.

UNICEF Indonesia menekankan pentingnya mendengarkan anak secara tenang dan terbuka ketika mereka mengalami perundungan atau perlakuan tidak menyenangkan.

Pendekatan tersebut membantu anak merasa didukung sekaligus memudahkan orang tua menentukan langkah selanjutnya.

Mengapa Ejekan Teman Bisa Membuat Anak Sangat Sedih?

Setiap anak memiliki pengalaman sosial dan kepekaan emosional yang berbeda.

Ada anak yang dapat mengabaikan komentar tertentu, tetapi ada pula yang merasa sangat terluka ketika diejek mengenai penampilan, kemampuan belajar, kondisi keluarga, atau karakter pribadinya.

Ejekan juga dapat terasa semakin berat apabila dilakukan di hadapan banyak teman.

Misalnya, seorang siswa mendapat julukan yang tidak disukainya setiap kali masuk kelas. Meskipun beberapa teman menganggapnya sebagai candaan, anak tersebut mungkin merasa dipermalukan.

Kondisi semakin mengkhawatirkan apabila ejekan berlangsung berulang, disertai ancaman, atau dilakukan oleh kelompok yang memiliki kekuasaan sosial lebih besar.

Dalam keadaan tersebut, orang tua perlu mempertimbangkan kemungkinan terjadinya perundungan.

Namun, tidak semua pertengkaran atau komentar tidak menyenangkan otomatis memenuhi pengertian perundungan. Situasinya tetap perlu diperiksa.

1. Dengarkan Cerita Anak tanpa Langsung Menyela

Ketika anak mengatakan dirinya diejek, orang tua mungkin spontan memberikan nasihat.

Misalnya, "Jangan dipikirkan," atau "Kalau diejek, balas saja."

Meskipun bertujuan membuat anak lebih kuat, respons tersebut belum tentu menjawab kebutuhan anak saat itu.

Cobalah memberikan kesempatan kepadanya untuk menceritakan kejadian sampai selesai.

Orang tua dapat mengatakan, "Coba ceritakan apa yang terjadi. Ibu ingin mendengarkan."

Hindari menyela dengan pertanyaan yang terkesan menyalahkan, seperti menanyakan apakah anak melakukan sesuatu yang membuat temannya mengejek.

Pertanyaan mengenai kronologi tetap diperlukan, tetapi sebaiknya diajukan dengan nada yang tenang dan tidak menghakimi.

Ketika anak merasa didengarkan, ia lebih mungkin bersedia memberikan informasi yang penting untuk penanganan masalah.

2. Akui Perasaan Anak

Sebagian orang tua menganggap bahwa anak harus segera belajar menghadapi ejekan agar menjadi pribadi yang kuat.

Padahal, keberanian menghadapi masalah tidak berarti seseorang harus mengabaikan perasaan sedih.

Orang tua dapat mengatakan, "Wajar kalau kamu sedih mendengar perkataan seperti itu."

Kalimat tersebut membantu menunjukkan bahwa pengalaman anak dianggap penting.

Namun, mengakui perasaan bukan berarti langsung menyimpulkan bahwa setiap orang yang terlibat pasti mempunyai niat buruk.

Orang tua tetap perlu mencari informasi secara objektif.

Dengan demikian, anak mendapatkan dukungan emosional sekaligus contoh bagaimana menghadapi persoalan tanpa membuat penilaian terburu-buru.

3. Cari Tahu Apa yang Sebenarnya Terjadi

Setelah anak lebih tenang, orang tua dapat mengajukan pertanyaan yang membantu memahami keadaan.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan adalah:

  • Apa yang dikatakan temanmu?
  • Kapan dan di mana kejadian itu terjadi?
  • Apakah kejadian tersebut baru sekali atau sudah berulang?
  • Siapa saja yang berada di lokasi?
  • Bagaimana responsmu ketika itu terjadi?
  • Apakah kamu merasa aman berada di dekat teman tersebut?

Pertanyaan sebaiknya disampaikan secara bertahap, bukan seperti pemeriksaan yang membuat anak merasa tertekan.

Jika anak belum siap bercerita, orang tua dapat memberikan kesempatan pada waktu lain.

Namun, apabila anak menyampaikan adanya ancaman atau kekerasan, keselamatannya harus segera dipastikan.

4. Bedakan Candaan, Konflik, dan Perundungan

Tidak semua interaksi negatif antaranak memiliki karakteristik yang sama.

Candaan yang sehat umumnya berlangsung dalam suasana saling nyaman dan dapat dihentikan ketika salah satu pihak merasa terganggu.

Konflik biasa dapat muncul karena perbedaan pendapat atau perselisihan antara anak yang memiliki posisi relatif setara.

Sementara itu, perundungan sering melibatkan perilaku agresif yang berulang atau berpotensi berulang serta ketimpangan kekuasaan.

Ketimpangan tersebut tidak selalu berupa kekuatan fisik. Status sosial, jumlah anggota kelompok, atau pengaruh dalam pertemanan juga dapat berperan.

Misalnya, sekelompok siswa terus memberikan julukan merendahkan kepada satu anak meskipun sudah diminta berhenti.

Keadaan tersebut memerlukan perhatian lebih serius daripada perselisihan sesaat.

Baca Juga: Anak Jadi Korban Bullying? Ini Peran Penting Orang Tua untuk Melindunginya

5. Jangan Meminta Anak Membalas dengan Kekerasan

Sebagian orang tua mungkin merasa anak perlu membalas ejekan agar tidak terus menjadi sasaran.

Namun, mendorong anak memukul, menghina, atau mengancam kembali dapat memperbesar konflik.

Sebagai alternatif, ajarkan respons yang tegas tanpa kekerasan.

Misalnya, anak dapat mengatakan, "Aku tidak suka dipanggil begitu. Tolong berhenti."

Jika keadaan tidak aman atau teman tetap melanjutkan tindakan tersebut, anak dapat menjauh dan mencari bantuan orang dewasa yang dipercaya.

Orang tua dapat melatih kalimat tersebut melalui permainan peran di rumah.

Namun, latihan membela diri secara verbal bukan berarti tanggung jawab menghentikan perundungan diserahkan sepenuhnya kepada anak.

Sekolah dan orang dewasa tetap mempunyai kewajiban menciptakan lingkungan yang aman.

6. Jangan Langsung Menghubungi Anak yang Mengejek

Ketika mengetahui anaknya diejek, sebagian orang tua ingin langsung mendatangi siswa yang dianggap bertanggung jawab.

Tindakan tersebut perlu dipertimbangkan dengan hati-hati.

Menghadapi anak lain dengan kemarahan, ancaman, atau mempermalukannya dapat memperburuk keadaan.

Lebih tepat apabila orang tua terlebih dahulu berkoordinasi dengan wali kelas atau petugas sekolah yang berwenang.

Sampaikan kejadian yang dilaporkan anak, waktu kejadian, serta dampaknya terhadap kondisi anak.

Kemudian, minta sekolah melakukan pemeriksaan dan menentukan tindakan sesuai prosedur.

Orang tua juga sebaiknya tidak langsung menyebarkan nama atau foto siswa yang diduga melakukan ejekan melalui grup WhatsApp.

7. Bagaimana Cara Berkomunikasi dengan Guru?

Komunikasi dengan guru perlu berfokus pada penyelesaian masalah.

Orang tua dapat menyampaikan, "Anak saya bercerita bahwa beberapa kali mendapat ejekan saat istirahat. Saya ingin mengetahui keadaan di sekolah dan langkah yang bisa dilakukan agar ia merasa aman."

Kalimat tersebut memberikan informasi tanpa langsung menyimpulkan kesalahan seluruh pihak.

Tanyakan apakah guru pernah melihat kejadian yang sama dan bagaimana sekolah menangani laporan perlakuan tidak menyenangkan.

Orang tua juga dapat meminta adanya pemantauan pada waktu atau lokasi ketika ejekan sering terjadi.

UNICEF menganjurkan kerja sama antara keluarga dan sekolah dalam menangani perundungan, termasuk memberikan kesempatan kepada anak untuk menceritakan pengalaman dengan aman.

8. Catat Kejadian jika Berlangsung Berulang

Jika ejekan terus terjadi, orang tua dapat membuat catatan sederhana.

Catat tanggal, lokasi, perkataan atau tindakan yang dilaporkan, serta langkah yang sudah dilakukan.

Untuk ejekan melalui media digital, simpan bukti pesan atau tangkapan layar yang relevan.

Jangan membagikan bukti tersebut kepada pihak yang tidak berkepentingan.

Dokumentasi dapat membantu sekolah memahami pola kejadian dan menghindari kesalahpahaman ketika dilakukan pemeriksaan.

Namun, anak tidak perlu dipaksa menceritakan ulang kejadian berkali-kali apabila hal itu membuatnya semakin tertekan.

9. Perhatikan Perubahan Perilaku Anak

Tidak semua dampak ejekan langsung terlihat.

Sebagian anak mulai kehilangan semangat belajar, mengalami gangguan tidur, atau menghindari kegiatan sosial.

Ada pula yang mengeluh sakit perut menjelang sekolah atau menjadi lebih mudah marah.

Perubahan tersebut perlu diperhatikan, tetapi tidak boleh langsung dijadikan dasar diagnosis.

Orang tua dapat menanyakan bagaimana keadaan anak dari hari ke hari serta berkomunikasi dengan guru.

Jika kesulitan berlangsung lama atau mengganggu kehidupan sehari-hari, bantuan psikolog anak atau tenaga kesehatan yang kompeten dapat dipertimbangkan.

Apabila terdapat ancaman serius, kekerasan, atau risiko anak menyakiti diri sendiri, cari pertolongan segera.

Baca Juga: Cara Mencegah Bullying pada Anak Dimulai dari Rumah, Orang Tua Perlu Tahu

10.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Anak Diejek Teman Parenting perundungan anak Bullying di Sekolah Pola Asuh Positif Psikologi Anak

Komentar Pengguna