Parenting
Rahman Abdullah

Anak Mudah Marah atau Menangis? Ini Cara Orang Tua Membantu Anak Mengelola Emosi dengan Sehat

Anak Mudah Marah atau Menangis? Ini Cara Orang Tua Membantu Anak Mengelola Emosi dengan Sehat

21 Oktober 2026 | 20:30

KebonCinta.com-- Melihat anak tiba-tiba marah, menangis, mengamuk, atau memilih diam saat menghadapi masalah terkadang membuat orang tua kebingungan. Tidak sedikit yang langsung menegur anak karena menganggap perilaku tersebut sebagai bentuk kenakalan. Padahal, reaksi itu bisa menjadi tanda bahwa anak sedang kesulitan memahami dan mengendalikan perasaannya.

Marah sebenarnya merupakan emosi yang wajar, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Hal yang perlu diperhatikan bukan semata-mata bagaimana menghilangkan kemarahan, melainkan bagaimana membantu anak mengenali perasaannya dan mengekspresikannya dengan cara yang aman.

Kemampuan mengelola emosi perlu dilatih sejak dini. Jika anak terbiasa memahami perasaan sendiri dan menghargai perasaan orang lain, ia akan memiliki bekal yang lebih baik untuk membangun hubungan sosial ketika tumbuh dewasa.

Baca Juga: Empat Kata Ajaib yang Perlu Diajarkan kepada Anak Sejak Dini, Bekal Penting Membentuk Akhlak Mulia 

Mengenal Tangki Emosional Anak

Untuk memahami perubahan perilaku anak, orang tua bisa membayangkan emosi seperti sebuah tangki yang menampung berbagai perasaan. Anak memiliki kapasitas yang lebih terbatas dalam mengelola tekanan emosional dibandingkan orang dewasa karena kemampuan pengaturan dirinya masih berkembang.

Ketika tangki emosional terasa penuh, anak mungkin menangis, mudah tersinggung, membentak, mengamuk, atau justru menjauh dari orang-orang di sekitarnya. Reaksi tersebut dapat muncul ketika anak merasa kecewa, lelah, takut, tidak dipahami, atau menghadapi situasi yang sulit baginya.

Dalam memahami respons anak, ada tiga zona emosi yang bisa dijadikan gambaran, yaitu zona tenang, fight, dan flight.

Zona tenang merupakan keadaan ketika anak relatif nyaman, mampu berpikir lebih jernih, mendengarkan orang lain, serta menyampaikan keinginannya dengan baik. Pada kondisi ini, anak lebih mudah diajak berbicara dan belajar menyelesaikan masalah.

Zona fight menggambarkan respons ketika anak merasa terancam atau kewalahan lalu menunjukkan perlawanan. Bentuknya bisa berupa berteriak, membentak, memukul, atau melempar barang.

Sementara itu, zona flight terjadi ketika anak cenderung menghindar dari situasi yang membuatnya tertekan. Anak mungkin memilih diam, bersembunyi, menjauh, atau menolak berbicara.

Kedua respons tersebut dapat menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami tekanan emosional. Karena itu, orang tua perlu melihat apa yang mendasari perilaku anak, bukan hanya berfokus pada tindakan yang terlihat.

Mengapa Anak Sulit Berpikir Jernih Saat Marah?

Ketika emosi meningkat, tubuh anak dapat memasuki kondisi siaga. Akibatnya, anak mungkin kesulitan mendengarkan penjelasan, mempertimbangkan akibat tindakannya, atau mengungkapkan perasaan secara teratur.

Pada saat seperti ini, memberikan ceramah panjang atau memaksa anak segera menjelaskan kesalahannya belum tentu efektif. Anak biasanya perlu merasa aman dan lebih tenang terlebih dahulu sebelum bisa diajak berdiskusi.

Orang tua juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki cara dan waktu yang berbeda untuk menenangkan diri. Ada anak yang membutuhkan pendampingan, sementara yang lain memerlukan sedikit ruang dengan tetap berada dalam lingkungan yang aman.

Baca Juga: 3 Cara Mengajarkan Kecerdasan Emosional pada Anak, Orang Tua Perlu Mulai dari Rumah 

4 Cara Membantu Anak Kembali Tenang

1. Kendalikan emosi sebelum menenangkan anak

Ketika anak mengamuk atau menangis keras, orang tua mungkin ikut merasa kesal. Namun, membalas teriakan dengan teriakan justru berisiko membuat situasi semakin memanas.

Cobalah berbicara dengan nada yang lebih rendah, menjaga sikap tetap tenang, dan menghindari ancaman. Anak dapat belajar mengatur emosinya dengan melihat bagaimana orang dewasa menghadapi situasi sulit.

Tenang bukan berarti membiarkan semua perilaku anak. Orang tua tetap dapat menetapkan batasan, misalnya tidak boleh memukul atau menyakiti orang lain, tanpa harus mempermalukan anak.

2. Berikan waktu dan ruang untuk menenangkan diri

Anak tidak selalu bisa langsung berhenti menangis hanya karena diminta. Berikan kesempatan agar ia dapat menurunkan ketegangan emosinya terlebih dahulu.

Orang tua bisa tetap berada di dekat anak sambil mengatakan, “Ibu tahu kamu sedang kesal.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 3
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Emosi Anak Tantrum Anak Parenting Anak

Komentar Pengguna