Baca Juga: Persiapan Menghadapi Musim Hujan, Ini Langkah Penting agar Rumah dan Keluarga Tetap Aman
Tantrum tidak selalu terjadi karena anak ingin mendapatkan sesuatu. Ada kalanya perilaku tersebut muncul akibat kebutuhan fisik atau emosional yang belum terpenuhi.
Anak yang lapar, mengantuk, kelelahan, merasa tidak nyaman, atau mengalami perubahan rutinitas bisa menjadi lebih mudah frustrasi. Kesulitan berkomunikasi juga dapat membuat anak meluapkan perasaan melalui tangisan atau kemarahan.
Orang tua dapat mengamati situasi sebelum tantrum terjadi. Apakah anak mulai rewel menjelang waktu tidur? Apakah ia sering menangis ketika harus berhenti bermain? Atau apakah tantrum muncul ketika berada di tempat ramai?
Mengenali pola tersebut membantu orang tua melakukan pencegahan. Misalnya, menyediakan waktu istirahat, membawa camilan sesuai kebutuhan, atau memberi tahu anak sebelum berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya.
Anak perlu mengetahui bahwa perasaannya boleh muncul, termasuk marah, kecewa, dan sedih. Mengakui emosi bukan berarti menyetujui semua tindakan yang dilakukan ketika sedang marah.
Orang tua dapat mengatakan, "Kamu kecewa karena belum boleh menonton lagi, ya?" Setelah itu, sampaikan batasan secara jelas, misalnya, "Waktu menontonnya sudah selesai. Sekarang kita bersiap untuk tidur."
Cara ini membantu anak memahami bahwa perasaannya didengar, tetapi aturan tetap berlaku. Sebisa mungkin, hindari mengejek, mempermalukan, atau memberi label negatif seperti nakal dan cengeng ketika anak sedang kesulitan mengendalikan emosi.
Jika permintaan anak memang tidak dapat dipenuhi, orang tua tidak harus mengubah keputusan hanya untuk menghentikan tangisan. Konsistensi yang disertai sikap hangat dapat membantu anak belajar menghadapi kekecewaan.
Setelah anak mulai tenang, orang tua dapat mengajaknya berbicara tentang apa yang terjadi. Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak dan jangan memaksanya menjawab jika ia belum siap.
Bantu anak mengenali emosi melalui kata-kata sederhana, seperti marah, sedih, takut, kecewa, atau lelah. Orang tua juga dapat memberikan contoh kalimat yang bisa digunakan saat menghadapi situasi serupa.
Misalnya, ketika anak merebut mainan karena ingin memakainya, ajarkan kalimat, "Aku juga ingin bermain. Boleh bergantian?" Dengan latihan berulang, anak dapat belajar menyampaikan keinginan tanpa harus berteriak atau memukul.
Pujilah usaha anak ketika ia mulai menggunakan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya. Penguatan positif dapat membantu anak memahami perilaku yang diharapkan dan membangun kemampuan mengelola emosi secara bertahap.
Tidak semua tantrum dapat dicegah, tetapi rutinitas yang sesuai dapat membantu mengurangi pemicunya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir