KebonCinta.com – Sebagian anak langsung bercerita tentang teman dan pelajaran sepulang sekolah. Sebagian lainnya memilih diam, masuk kamar, atau menjawab singkat ketika ditanya. Perilaku ini tidak selalu menunjukkan masalah. Anak mungkin lelah, membutuhkan waktu sendiri, atau belum menemukan kata-kata untuk menjelaskan pengalamannya. Orang tua bisa membuka komunikasi tanpa menjadikan percakapan sebagai pemeriksaan.
Seharian di sekolah, anak mengikuti pelajaran, berinteraksi dengan teman, dan menyesuaikan diri dengan aturan. Sesampainya di rumah, ia mungkin ingin makan, beristirahat, atau melakukan kegiatan yang menenangkan.
Namun, diam juga dapat berkaitan dengan masalah pertemanan, kesulitan belajar, atau pengalaman yang membuat anak tidak nyaman. Jangan langsung menyimpulkan penyebabnya hanya dari satu sore. Perhatikan perubahan dibanding kebiasaan anak dan dengarkan ceritanya ketika ia siap.
Hindari langsung melontarkan banyak pertanyaan begitu anak melepas sepatu. Sambut dengan hangat, tawarkan minum atau makanan, lalu berikan waktu untuk mengganti pakaian dan beristirahat.
Orang tua boleh mengatakan, “Selamat datang. Istirahat dulu, ya. Kalau nanti ingin cerita, Ayah atau Ibu siap mendengar.” Kalimat sederhana ini menunjukkan perhatian tanpa menuntut jawaban seketika.
Tidak ada waktu tunggu yang wajib bagi semua anak. Sesuaikan dengan usia, kondisi, dan kebiasaannya.
Baca Juga: Bukan Sekadar Lama Main HP, Ini Tantangan Parenting Anak di Era Digital
Pertanyaan “Bagaimana sekolah tadi?” sering dijawab dengan “Biasa saja.” Cobalah pertanyaan yang lebih ringan dan spesifik:
Tidak perlu mengajukan semuanya sekaligus. Pilih satu pertanyaan yang sesuai situasi, kemudian beri kesempatan anak menentukan panjang ceritanya. UNICEF merekomendasikan pertanyaan terbuka dan mendengarkan secara aktif, bukan mengejar jawaban yang dianggap benar.
Saat anak mulai berbicara, hentikan sementara pekerjaan yang mengganggu perhatian. Hindari memotong cerita dengan nasihat, menyalahkan teman, atau langsung menyimpulkan guru bertindak keliru.
Misalnya anak berkata, “Aku tidak suka kerja kelompok.” Orang tua dapat menjawab, “Bagian mana yang membuatmu tidak nyaman?” atau “Sepertinya ada hal yang mengganggumu. Mau ceritakan sedikit?”
Ulangi inti cerita dengan bahasa sendiri untuk memastikan pemahaman: “Jadi, kamu kecewa karena tugasnya belum dibagi merata, begitu?” Jika anak mengoreksi, dengarkan kembali.
Sebagian anak lebih mudah bercerita ketika berjalan kaki, menggambar, menyiapkan camilan, atau melakukan pekerjaan ringan bersama. Percakapan tidak harus berlangsung sambil duduk berhadapan dan menatap mata terus-menerus.
Untuk anak kecil, bermain peran menggunakan boneka atau menggambar pengalaman sekolah bisa membantu membuka topik. Untuk remaja, waktu singkat di perjalanan atau ketika mengerjakan kegiatan bersama mungkin terasa lebih nyaman.
Jangan menjadikan setiap momen kebersamaan sebagai kesempatan mengorek persoalan. Hubungan hangat juga tumbuh dari bercanda dan berbicara tentang hal menyenangkan.
Hormati jawabannya, sambil menegaskan bahwa bantuan tersedia. Katakan, “Tidak apa-apa kalau sekarang belum ingin cerita.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir