keboncinta.com- Di rumah, anak dapat bercerita panjang tentang permainan atau pengalaman sekolah. Namun, ketika diminta membaca, menjawab pertanyaan, atau presentasi di depan kelas, suaranya mengecil dan tubuhnya terlihat tegang.
Orang tua mungkin ingin segera menyemangati dengan mengatakan, “Jangan takut, maju saja.” Sayangnya, kalimat tersebut belum menjelaskan bagaimana anak dapat menghadapi situasi yang terasa berat baginya.
Dukungan dapat dimulai dengan memahami sumber ketakutan, menyusun latihan kecil, dan bekerja sama dengan guru. Besarnya tantangan disesuaikan dengan kemampuan anak, sehingga ia memperoleh kesempatan mencoba dalam suasana yang aman.
Berikut langkah yang dapat diterapkan orang tua dan pendidik.
Takut tampil dapat berkaitan dengan beberapa hal: khawatir salah, lupa kalimat, ditertawakan, atau belum memahami materi yang harus disampaikan.
Ajak anak berbicara ketika suasana tenang. Gunakan pertanyaan yang konkret:
“Bagian mana yang paling bikin kamu khawatir: mulai bicara, mengingat isi, atau melihat teman-teman?”
Dengarkan jawabannya tanpa langsung membantah. Jika anak mengatakan takut ditertawakan, tanyakan apakah hal itu pernah terjadi.
NHS menyarankan orang tua mencari tahu situasi yang memicu kecemasan dan membicarakan kemungkinan bantuan di rumah maupun sekolah.
Keterangan anak menjadi dasar untuk menentukan dukungan. Kesulitan memahami materi memerlukan bantuan yang berbeda dari ketakutan akibat ejekan teman.
American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa banyak anak yang pemalu tetap dapat berfungsi baik dalam hubungan sosial setelah memiliki waktu untuk menyesuaikan diri.
Karena itu, hindari memperkenalkan anak dengan kalimat, “Dia memang penakut,” atau membandingkannya dengan teman yang lebih mudah tampil.
Gunakan deskripsi situasi:
“Kamu masih merasa gugup kalau berbicara di depan banyak orang. Kita cari langkah yang bisa dicoba.”
Jika anak menceritakan ejekan atau perundungan, sampaikan kepada guru dan pastikan ada tindak lanjut. Latihan berbicara perlu disertai lingkungan kelas yang menghargai anak.
Baca juga: Anak dan Remaja Rentan Jadi Korban Bullying, Orang Tua Perlu Waspadai Tanda Ini
Panduan dukungan kecemasan yang tersedia melalui NHS menjelaskan prinsip menghadapi ketakutan secara bertahap, dimulai dari situasi yang lebih ringan.
Untuk latihan tampil, contoh tahapannya dapat berupa:
Urutan tersebut merupakan contoh, bukan program yang harus selesai dalam jumlah hari tertentu.
Tanyakan tahap mana yang terasa menantang tetapi masih mungkin dicoba. Ulangi sesuai kebutuhan sebelum menambah tantangan.
Hindari menjebak anak dengan tiba-tiba menghadirkan penonton tambahan. Beri tahu siapa yang akan mendengarkan dan apa yang akan dilakukan.
Pada latihan awal, pilih topik yang akrab bagi anak, seperti hewan kesukaan, gambar buatannya, atau pengalaman menyiram tanaman.
Bantu menyusun tiga bagian sederhana:
Contohnya:
“Ini gambar pohon mangga. Pohon membutuhkan air dan cahaya matahari. Buah mangga bisa dimakan ketika sudah matang. Terima kasih.”
Contoh tersebut dibuat untuk latihan singkat. Sesuaikan dengan usia, kemampuan bahasa, dan tugas sekolah.
Anak juga dapat memakai kartu berisi kata pengingat. Jika ia kesulitan membaca, gambar kecil dapat menjadi penanda urutan cerita.
Pilihan kecil membantu anak terlibat dalam latihan. Misalnya:
“Kamu ingin mulai sambil duduk atau berdiri?”
Atau:
“Mau bercerita satu kalimat dulu atau menunjukkan gambarnya dahulu?”
Sepakati target yang jelas dan singkat. Setelah mencoba, tanyakan apa yang terasa lebih mudah dan bagian mana yang masih membutuhkan bantuan.
Jika anak sangat kewalahan, kurangi tingkat kesulitan dan evaluasi pendekatannya. Pendampingan bertahap membutuhkan keluwesan; menaikkan tantangan terlalu cepat dapat membuat latihan terasa tidak aman.
Untuk kecemasan yang berat, penyusunan latihan sebaiknya dibantu tenaga profesional.
Bicarakan pola yang terlihat kepada guru. Jelaskan apakah anak lancar berbicara di rumah, dalam kelompok kecil, atau hanya pada orang tertentu.
Sebagai bahan diskusi, tanyakan kemungkinan anak:
Penyesuaian tetap mempertimbangkan tujuan pembelajaran dan kebutuhan anak.
Guru juga dapat menjelaskan aturan mendengarkan, termasuk tidak mengejek kesalahan, serta memberi waktu anak menyelesaikan kalimat.
Hindari menjanjikan penyesuaian kepada anak sebelum menyepakatinya dengan sekolah.
Setelah anak mencoba, sebutkan usahanya secara spesifik:
“Kamu tadi tetap menyampaikan kalimat pembuka meskipun sempat berhenti.”
Atau:
“Kamu berhasil melanjutkan cerita setelah melihat kartu pengingat.”
Jangan menjadikan kelancaran sempurna sebagai satu-satunya ukuran. Kemajuan dapat berupa bersedia mencoba, menyampaikan satu kalimat, atau kembali melanjutkan setelah terdiam.
Tanyakan pendapat anak tentang pengalamannya. Beri ruang jika ia belum ingin membahasnya panjang lebar.
Cari dukungan apabila ketakutan menetap, terasa berat, atau mengganggu sekolah, pertemanan, tidur, dan kegiatan sehari-hari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir