Parenting
M. Panji Maulana

Anak Tidak Mau Berangkat Sekolah pada Pagi Hari? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Anak Tidak Mau Berangkat Sekolah pada Pagi Hari? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

15 Oktober 2026 | 11:09

keboncinta.com- Anak yang tiba-tiba menangis, mengeluh sakit perut, atau menolak memakai seragam ketika hendak berangkat sekolah dapat membuat orang tua kebingungan. Situasi ini sering dianggap sebagai bentuk kemalasan atau kurangnya disiplin. Padahal, penolakan berangkat sekolah dapat berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari kelelahan, kesulitan beradaptasi, masalah pertemanan, hingga kecemasan yang membutuhkan perhatian lebih serius.

Tidak semua anak yang enggan berangkat sekolah mengalami gangguan psikologis. Sesekali merasa malas atau ingin tinggal di rumah merupakan pengalaman yang dapat terjadi pada anak. Namun, apabila penolakan berlangsung berulang, menimbulkan tekanan emosional yang besar, atau menyebabkan anak sering tidak masuk sekolah, orang tua perlu mencari penyebabnya secara lebih mendalam.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa school avoidance atau penghindaran sekolah dapat muncul bersama keluhan fisik seperti sakit perut, sakit kepala, mual, dan pusing, terutama pada hari sekolah. Kondisi tersebut tidak selalu berarti anak berpura-pura sakit.

Memahami penyebab dan memberikan respons yang tepat merupakan langkah penting agar anak merasa aman sekaligus tetap memperoleh dukungan untuk mengikuti pendidikan.

Mengapa Anak Tidak Mau Berangkat Sekolah?

Penolakan berangkat sekolah dapat terjadi karena satu penyebab atau gabungan beberapa faktor.

Anak mungkin mengalami masalah di sekolah, menghadapi perubahan dalam keluarga, kurang tidur, atau belum memiliki keterampilan untuk mengungkapkan perasaan yang dialaminya.

Pada anak usia dini, kesulitan berpisah dengan orang tua juga dapat menjadi faktor penting.

Sementara itu, anak yang lebih besar mungkin menghadapi tekanan akademik, masalah pertemanan, atau kekhawatiran terhadap situasi tertentu di sekolah.

Karena penyebabnya beragam, orang tua sebaiknya tidak langsung memberikan hukuman sebelum memahami situasinya.

Baca Juga: Pola Tidur Anak Bisa Beri Petunjuk Kondisi Emosional, Orang Tua Perlu Tahu Tandanya 

1. Anak Mengalami Kecemasan Berpisah

Sebagian anak merasa sangat tidak nyaman ketika harus berpisah dengan orang tua atau pengasuh.

Kondisi ini dapat terlihat ketika anak menangis saat hendak ditinggalkan, terus meminta ditemani, atau khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi kepada anggota keluarga.

Pada usia tertentu, kecemasan berpisah dapat menjadi bagian dari perkembangan yang umum.

Namun, jika kecemasan sangat kuat, berlangsung terus-menerus, atau mengganggu aktivitas sekolah, anak mungkin membutuhkan dukungan lebih lanjut.

Orang tua dapat membantu dengan membuat rutinitas perpisahan yang singkat, konsisten, dan menenangkan.

Hindari meninggalkan anak secara diam-diam karena tindakan tersebut dapat mengurangi rasa percaya pada sebagian anak.

2. Anak Mengalami Perundungan atau Masalah Pertemanan

Perundungan merupakan salah satu penyebab penting yang perlu diperiksa ketika anak tiba-tiba menolak sekolah.

Anak mungkin mengalami ejekan, pengucilan, ancaman, atau kekerasan dari teman sebaya.

Masalah juga dapat terjadi melalui media digital, termasuk percakapan kelompok dan media sosial.

Tidak semua anak mampu menceritakan pengalaman tersebut secara langsung.

Sebagian anak merasa malu, takut tidak dipercaya, atau khawatir masalahnya akan menjadi lebih buruk.

Orang tua perlu memperhatikan perubahan perilaku, seperti menjadi lebih pendiam, kehilangan minat berinteraksi, atau tampak takut bertemu orang tertentu.

Jika terdapat dugaan perundungan, orang tua perlu bekerja sama dengan pihak sekolah untuk memastikan keselamatan anak.

Jangan memaksa anak menghadapi pelaku sendirian.

3. Anak Mengalami Kesulitan Belajar

Anak yang terus-menerus merasa tertinggal dalam pelajaran dapat mengembangkan rasa takut terhadap kegiatan sekolah.

Misalnya, anak kesulitan membaca, memahami instruksi, menyelesaikan tugas matematika, atau mengikuti kecepatan pembelajaran di kelas.

Jika kesulitan tersebut disertai pengalaman dipermalukan, anak mungkin mulai mengasosiasikan sekolah dengan rasa gagal.

Orang tua dapat berdiskusi dengan guru untuk mengetahui kompetensi yang memerlukan dukungan.

Pendampingan belajar sebaiknya berfokus pada kebutuhan anak, bukan sekadar menambah jam latihan atau membandingkannya dengan teman.

Baca Juga: Ingin Anak Tidak Mudah Menyerah? Begini Cara Melatig Kegigihan Anak Sejak Dini 

4. Anak Takut terhadap Guru atau Situasi di Kelas

Sebagian anak merasa tertekan karena pengalaman tertentu di kelas.

Contohnya adalah takut dimarahi, dipermalukan ketika salah menjawab, atau menghadapi suasana belajar yang dianggap tidak aman.

Perasaan anak perlu didengarkan tanpa langsung menyimpulkan bahwa guru melakukan kesalahan.

Orang tua dapat mengumpulkan informasi secara hati-hati dan berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk memahami situasi yang sebenarnya.

Jika terdapat dugaan kekerasan atau perlakuan tidak pantas, keselamatan anak harus menjadi prioritas.

5. Anak Kurang Tidur atau Terlalu Lelah

Kualitas tidur dapat memengaruhi suasana hati, perhatian, dan kesiapan anak mengikuti kegiatan.

Anak yang tidur terlalu larut mungkin mengalami kesulitan bangun pagi, mudah tersinggung, atau merasa tidak bersemangat.

Penyebabnya dapat berupa jadwal tidur yang tidak teratur, aktivitas malam yang berlebihan, atau penggunaan perangkat digital menjelang tidur.

Orang tua dapat membantu dengan menetapkan rutinitas malam yang konsisten dan menyesuaikan waktu tidur dengan kebutuhan usia anak.

Namun, kelelahan yang terus-menerus perlu diperiksa karena tidak selalu disebabkan oleh kebiasaan tidur.

6. Anak Mengalami Perubahan Besar dalam Kehidupan

Perpindahan rumah, masuk sekolah baru, perubahan pengasuh, konflik keluarga, atau kehilangan orang terdekat dapat memengaruhi rasa aman anak.

Perubahan yang tampak biasa bagi orang dewasa mungkin terasa besar bagi anak.

Anak yang sebelumnya nyaman di sekolah dapat mulai menunjukkan penolakan setelah mengalami perubahan tersebut.

Dukungan emosional, rutinitas yang stabil, dan komunikasi dengan guru dapat membantu anak beradaptasi.

7. Anak Mengalami Keluhan Kesehatan

Keluhan sakit perut, sakit kepala, mual, atau pusing tidak boleh langsung dianggap sebagai alasan untuk menghindari sekolah.

Gejala tersebut dapat disebabkan oleh penyakit fisik maupun berkaitan dengan kecemasan.

American Academy of Pediatrics menjelaskan bahwa sebagian anak yang mengalami penghindaran sekolah menunjukkan keluhan fisik terutama pada hari sekolah.

Namun, orang tua tidak dapat menentukan penyebabnya hanya dari pola waktu munculnya gejala.

Jika anak mengalami keluhan yang menetap, berulang, atau cukup berat, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan.

Bagaimana Membedakan Anak Sesekali Enggan Sekolah dengan Penghindaran Sekolah?

Perbedaan dapat dilihat dari frekuensi, intensitas, dan dampaknya.

Anak yang sesekali enggan berangkat mungkin masih dapat mengikuti kegiatan setelah diberi waktu dan dukungan.

Sementara itu, penghindaran sekolah yang lebih serius dapat ditandai dengan penolakan berulang, tekanan emosional kuat, keluhan fisik yang sering muncul, atau ketidakhadiran yang meningkat.

Berikut gambaran umum.

KondisiHal yang Perlu Diperhatikan
Sesekali mengeluh malasPeriksa kelelahan dan rutinitas harian
Menangis setiap pagiTelusuri kecemasan dan pengalaman sekolah
Sering sakit perut pada hari sekolahPeriksa kondisi fisik dan faktor emosional
Takut bertemu orang tertentuPeriksa kemungkinan konflik atau perundungan
Sering tidak masuk sekolahLibatkan guru dan pertimbangkan bantuan profesional
Mengalami perubahan perilaku drastisPerlu penilaian lebih mendalam

Tabel tersebut bukan alat diagnosis. Anak membutuhkan penilaian individual berdasarkan situasi dan gejala yang dialaminya.

Cara Mengatasi Anak yang Tidak Mau Berangkat Sekolah

1. Dengarkan Anak tanpa Langsung Menghakimi

Mulailah dengan percakapan yang tenang.

Orang tua dapat bertanya, “Bagian apa dari sekolah yang paling membuat kamu tidak nyaman?”

Pertanyaan terbuka biasanya lebih membantu daripada langsung menuduh anak malas.

Jika anak belum mampu menjelaskan perasaannya, berikan waktu.

Anak yang masih kecil mungkin lebih mudah menyampaikan pengalaman melalui gambar, permainan, atau cerita sederhana.

2. Validasi Perasaan tanpa Membenarkan Penghindaran Terus-Menerus

Orang tua dapat mengakui bahwa anak sedang takut atau sedih.

Misalnya, “Ayah mengerti kamu merasa khawatir bertemu teman hari ini.”

Setelah itu, ajak anak mencari solusi yang aman.

Validasi perasaan bukan berarti membiarkan masalah sekolah berlangsung tanpa penanganan.

Tujuannya adalah membantu anak merasa didengarkan sambil membangun kembali kemampuannya mengikuti kegiatan pendidikan.

3. Cari Penyebab yang Paling Mungkin

Perhatikan kapan penolakan muncul.

Apakah hanya terjadi pada hari tertentu? Apakah berkaitan dengan pelajaran tertentu, kegiatan olahraga, atau pertemuan dengan seseorang?

Catat pola yang terlihat tanpa langsung membuat diagnosis.

Informasi tersebut dapat membantu diskusi dengan guru atau tenaga kesehatan.

4. Bangun Rutinitas Pagi yang Konsisten

Rutinitas pagi yang teratur dapat mengurangi situasi terburu-buru.

Siapkan pakaian dan perlengkapan sekolah sejak malam.

Berikan waktu yang cukup untuk bangun, membersihkan diri, dan sarapan.

Hindari pertengkaran panjang setiap pagi karena dapat membuat pengalaman berangkat sekolah semakin menegangkan.

Jika memungkinkan, gunakan urutan kegiatan yang mudah dipahami anak.

5.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Anak Tidak Mau Sekolah Parenting Psikologi Anak

Komentar Pengguna