KebonCinta.com - Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan siswa menjawab soal atau memperoleh nilai akademik yang tinggi. Sikap, karakter, dan kemampuan membangun hubungan sosial juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Kementerian Agama (Kemenag) mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendekatan pendidikan yang menempatkan nilai kasih sayang, kepedulian, dan kemanusiaan dalam kegiatan belajar mengajar.
Pendekatan ini diharapkan dapat membantu membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Menag Ajak Umat Beralih ke Pola Pikir Progresif, Perkenalkan Konsep Kurikulum Cinta
Kurikulum Berbasis Cinta diluncurkan Kemenag pada 24 Juli 2025 di Makassar.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kehidupan sosial yang harmonis dengan menekankan persamaan, bukan memperbesar perbedaan.
Pendidikan agama diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi juga membentuk perilaku yang menghargai sesama manusia.
Dalam pengembangan KBC, terdapat enam nilai dasar yang menjadi perhatian, yaitu spiritual, personal, sosial, ekologis, kebangsaan, dan intelektual.
Nilai spiritual berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan nilai personal menekankan penghargaan terhadap diri sendiri.
Nilai sosial mendorong empati dan kepedulian, sementara nilai ekologis menumbuhkan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Adapun nilai kebangsaan memperkuat persatuan dan cinta tanah air, sedangkan nilai intelektual mendorong kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Menag Ajak Umat Beralih ke Pola Pikir Progresif, Perkenalkan Konsep Kurikulum Cinta
Pengetahuan akademik perlu diimbangi dengan kemampuan menggunakan ilmu secara bertanggung jawab.
Siswa yang memiliki kemampuan akademik baik tetap membutuhkan sikap jujur, disiplin, dan menghormati orang lain.
Melalui Kurikulum Berbasis Cinta, nilai tersebut diharapkan dapat tumbuh melalui pembelajaran, keteladanan guru, dan kebiasaan di lingkungan madrasah.
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir