KebonCinta.com - Lama bekerja di satu perusahaan sering dianggap sebagai bukti loyalitas. Sebaliknya, pekerja yang beberapa kali berpindah tempat mudah mendapat cap tidak betah. Padahal, durasi bekerja saja belum cukup untuk menjelaskan alasan seseorang bertahan atau mencari peluang baru.
Bagi Gen Z dan milenial, menata karier juga berkaitan dengan kesempatan berkembang. Pertanyaannya bukan sekadar ingin tetap bekerja di mana, tetapi apakah pekerjaan tersebut masih memberikan ruang untuk belajar dan menjalani peran yang ingin dibangun.
Perkembangan karier tidak selalu berarti menjadi manajer atau menduduki jabatan yang lebih tinggi. Menguasai keterampilan baru, mendapat tanggung jawab berbeda, dan memperluas pengalaman juga dapat menjadi bentuk kemajuan.
Survei Deloitte Global 2025 terhadap 23.482 responden di 44 negara menunjukkan bahwa hanya 6 persen responden Gen Z dan milenial menyebut mencapai posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama. Temuan tersebut menggambarkan bahwa ambisi kerja dapat memiliki bentuk yang beragam.
Pekerja yang tidak mengejar jabatan tinggi belum tentu kehilangan keinginan berkembang. Ia mungkin sedang memperdalam keahlian atau mencari pengalaman yang sesuai dengan arah kariernya.
Baca Juga: Bukan Cuma Mengandalkan Buku, Ini Strategi Belajar Efektif untuk Gen Z
Seseorang tidak harus berpindah perusahaan untuk memperoleh pengalaman baru. Kesempatan menangani proyek berbeda, mempelajari bidang lain, atau mendapat pendampingan dapat membuat pekerjaan yang sama tetap memberikan ruang perkembangan.
Deloitte menempatkan kesempatan belajar dan pengembangan sebagai salah satu unsur penting untuk menarik serta mempertahankan pekerja Gen Z dan milenial.
Namun, keputusan bertahan tidak otomatis menunjukkan kepuasan. Sebagian pekerja mungkin belum menemukan pilihan lain atau masih mempertimbangkan risiko perubahan. Karena itu, alasan bertahan perlu dipahami dari keadaan masing-masing.
Perpindahan kerja dapat menjadi keputusan untuk mencari ruang belajar yang belum tersedia di tempat sebelumnya. Pekerja mungkin ingin mencoba bidang berbeda atau memperoleh tanggung jawab yang lebih sesuai dengan kemampuannya.
Penilaian terhadap profesionalitas sebaiknya juga melihat cara seseorang menjalankan tanggung jawab. Menyelesaikan pekerjaan, melakukan serah terima, dan menjaga komunikasi saat berpindah merupakan hal yang lebih konkret daripada sekadar menghitung jumlah perusahaan dalam riwayat kerja.
Meski demikian, pindah perusahaan juga tidak otomatis menghasilkan perkembangan. Tawaran baru tetap perlu diperiksa agar perubahan tempat benar-benar sejalan dengan tujuan karier.
Baca Juga: Hari-Hari Gen Z dan Segelas Kopi
Sebelum memutuskan bertahan atau pindah, pekerja dapat meninjau apa yang sudah dipelajari dan pengalaman apa yang masih dibutuhkan. Apakah masih ada kesempatan berkembang di tempat sekarang? Apakah peran baru menawarkan kemajuan yang jelas?
Jawabannya dapat berbeda pada setiap orang. Temuan survei lintas negara juga tidak menentukan perilaku seluruh Gen Z atau milenial di Indonesia.
Bertahan dan berpindah sama-sama dapat menjadi bagian dari penataan karier. Yang perlu diperhatikan adalah alasan di balik keputusan tersebut dan kesesuaiannya dengan perkembangan yang ingin dicapai. ***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir