Sains
Hilmi An Naufal

BNPB Kaji Teknologi Dry Ice untuk Tangani Karhutla, Uji Coba di Sumsel Berlangsung hingga 24 Oktober

BNPB Kaji Teknologi Dry Ice untuk Tangani Karhutla, Uji Coba di Sumsel Berlangsung hingga 24 Oktober

19 Oktober 2026 | 07:56

KebonCinta.com — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sedang mengevaluasi penggunaan teknologi dry ice atau es kering untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Teknologi tersebut telah diuji coba di Sumatera Selatan sebagai bagian dari upaya mengurangi kabut asap dan mendukung operasi modifikasi cuaca.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi menyampaikan perkembangan tersebut ketika berada di Palembang pada Minggu, 18 Oktober 2026.

Menurutnya, pemerintah masih melakukan evaluasi untuk memastikan apakah penggunaan teknologi tersebut efektif serta memungkinkan diterapkan di wilayah lain.

APA ITU TEKNOLOGI DRY ICE?

Baca Juga: Benarkah Mentimun Bisa Menurunkan Tekanan Darah Tinggi? Ini Fakta yang Perlu Diketahui 

Dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang memiliki suhu sangat rendah.

Dalam operasi modifikasi cuaca yang sedang diuji coba di Sumatera Selatan, bahan tersebut digunakan dengan pendekatan yang berbeda dari metode penyemaian awan menggunakan garam atau natrium klorida.

Berdasarkan penjelasan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan, penyemaian dry ice diharapkan dapat membantu mengangkat lapisan asap ke atmosfer dan membuka peluang terbentuknya bibit awan hujan.

Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan kondisi kabut asap yang memengaruhi kualitas udara serta jarak pandang di sejumlah wilayah.

Namun, penggunaan dry ice masih berada dalam tahap pengujian dan evaluasi sehingga keberhasilannya belum dapat disimpulkan secara menyeluruh.

OPERASI DIJADWALKAN HINGGA 24 OKTOBER

Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Selatan M Iqbal Alisyahbana menjelaskan bahwa kegiatan penyemaian dry ice dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, mulai 15 hingga 24 Oktober 2026.

Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui kerja sama Kementerian Kehutanan dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Evaluasi dilakukan secara berkala untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan.

Dalam laporan yang dipublikasikan ANTARA pada 18 Oktober, BPBD Sumatera Selatan menyampaikan bahwa jarak pandang di Palembang meningkat dari sekitar 25 meter menjadi 2.000 meter setelah kegiatan penyemaian dilaksanakan.

Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) juga dilaporkan mengalami penurunan dari kondisi sebelumnya yang masuk kategori berbahaya.

Meski demikian, perubahan kondisi udara selama uji coba belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh perbaikan tersebut hanya disebabkan oleh teknologi dry ice.

Faktor cuaca dan perkembangan kebakaran di lapangan tetap perlu diperhitungkan dalam evaluasi.

BNPB PELAJARI PELUANG PENERAPAN DI DAERAH LAIN

Kepala BNPB Kristomei Sianturi menjelaskan bahwa teknologi yang telah diuji coba di Sumatera Selatan akan dievaluasi dari sisi efektivitas dan kebutuhan biaya.

Apabila hasil pengujian menunjukkan manfaat yang memadai, teknologi tersebut berpotensi dipertimbangkan untuk mendukung penanganan karhutla di wilayah Indonesia lainnya.

BNPB juga mengingatkan bahwa penanganan kebakaran hutan tidak dapat hanya mengandalkan teknologi.

Pencegahan pembakaran lahan, pengawasan kawasan rawan kebakaran, serta kerja sama pemerintah, masyarakat, dan perusahaan tetap diperlukan.

Selain penggunaan dry ice, petugas juga memantau kemungkinan pelaksanaan modifikasi cuaca menggunakan natrium klorida jika kondisi awan mendukung.

Kegiatan penanganan karhutla juga dapat melibatkan helikopter untuk melakukan pemadaman dari udara.

Melalui berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap risiko kebakaran dan dampak kabut asap dapat ditekan.

Meski demikian, penggunaan teknologi dry ice sebagai metode penanganan karhutla secara lebih luas masih membutuhkan hasil evaluasi sebelum dapat ditetapkan sebagai langkah operasional di berbagai daerah.

Tags:
teknologi dry ice BNPB karhutla 2026 kabut asap Sumatera Selatan modifikasi cuaca bmkg teknologi lingkungan

Komentar Pengguna