KebonCinta.com — Hasil penelitian perguruan tinggi didorong agar tidak berhenti sebagai laporan akademik maupun karya ilmiah di laboratorium.
Badan Pengawas Obat dan Makanan membawa program literasi regulasi dan konsultasi pengembangan riset ke lingkungan perguruan tinggi di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan berlangsung di Universitas Mataram dengan melibatkan dosen, peneliti dan mahasiswa.
Peserta berasal dari sejumlah kampus di NTB.
Di antaranya Universitas Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, Politeknik Medica Farma Husada Mataram serta Universitas Hamzanwadi.
Bidang ilmu yang terlibat juga cukup beragam.
Peserta berasal dari kedokteran dan kesehatan, farmasi, matematika dan ilmu pengetahuan alam, teknologi pangan, agroindustri hingga pertanian.
BPOM membawa program PATRIOTISME yang memberikan pemahaman mengenai aturan obat bahan alam, obat kuasi, suplemen kesehatan dan kosmetik.
Regulasi dinilai perlu dipahami peneliti sejak tahap awal.
Dengan begitu, penelitian tidak baru berhadapan dengan persoalan aturan ketika produk sudah selesai dikembangkan.
Peneliti dapat menyesuaikan proses sejak awal agar hasil penelitian mempunyai peluang lebih besar untuk melangkah menuju tahap pengembangan.
Baca Juga: Pesantren Kini Punya Akses Pelatihan Vokasi Gratis, Santri Bisa Dibekali Keahlian Kerja
Selain PATRIOTISME, BPOM juga menghadirkan fasilitas BRIDGE.
BRIDGE merupakan singkatan dari Bersinergi dalam Riset Inovatif berDaya Saing Global dan Ekspansi Pasar.
Melalui coaching clinic, peneliti dapat membawa bahan maupun hasil penelitian untuk dikonsultasikan secara langsung.
Peserta bahkan diminta membawa laptop serta materi riset yang ingin dibahas.
Pendekatan tersebut memungkinkan pembahasan dilakukan berdasarkan kasus atau penelitian nyata.
Regulator dapat membantu menjelaskan bagian yang perlu diperhatikan jika sebuah hasil riset nantinya ingin dikembangkan lebih jauh.
Kehadiran BPOM di kampus juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa proses menghasilkan produk kesehatan tidak hanya berkaitan dengan ilmu di laboratorium.
Produk juga harus memenuhi standar keamanan, mutu dan persyaratan regulasi sebelum dapat digunakan masyarakat.
Hal serupa berlaku pada kosmetik maupun suplemen.
Sebuah bahan yang terlihat menjanjikan dalam penelitian tetap membutuhkan tahapan pengujian dan evaluasi.
Rangkaian kegiatan juga diisi kuliah umum Kepala BPOM Taruna Ikrar.
Materi yang dibawa membahas perkembangan neuroscience serta kaitannya dengan otak, kognisi, emosi, perilaku dan kesehatan.
Kolaborasi antara kampus dan regulator diharapkan memperpendek jarak antara penelitian dengan penerapan.
Mahasiswa dapat memahami jalur yang harus ditempuh sejak masih berada di lingkungan akademik.
Sementara peneliti mendapatkan kesempatan mengetahui aspek regulasi sebelum riset dikembangkan menjadi inovasi yang lebih luas.
Tujuan akhirnya bukan memaksa seluruh penelitian menjadi produk komersial.
Namun riset yang memang memiliki potensi untuk dimanfaatkan masyarakat diharapkan tidak berhenti hanya karena peneliti tidak memahami jalur regulasi maupun pengembangan selanjutnya.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir