KebonCinta.com — Badan Riset dan Inovasi Nasional memperkuat kemampuan peneliti Indonesia dalam mengembangkan teknologi radioisotop berbasis siklotron.
Pengembangan tersebut penting karena radioisotop banyak digunakan dalam bidang kedokteran nuklir, termasuk untuk membantu proses pencitraan dan diagnosis penyakit.
Program penguatan dilakukan di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan pada 5 hingga 9 Oktober 2026.
BRIN bekerja sama dengan International Atomic Energy Agency atau IAEA.
Program tersebut juga menghadirkan ahli dari Korea Atomic Energy Research Institute, Min Goo Hur.
Kepala Pusat Riset Teknologi Radioisotop, Radiofarmaka dan Biodosimetri BRIN Tita Puspitasari mengatakan kerja sama tersebut membantu peneliti mengembangkan teknologi targetry.
“Radioisotop lain juga dibutuhkan untuk mendukung kebutuhan rumah sakit dan pasien,” ujar Tita.
Ia menjelaskan fasilitas siklotron selama ini banyak digunakan memproduksi Fluor-18 atau F-18.
F-18 antara lain digunakan untuk menghasilkan fluorodeoxyglucose atau FDG dalam pemeriksaan pencitraan medis.
Namun kebutuhan layanan kesehatan tidak berhenti pada satu jenis radioisotop.
BRIN juga melihat kebutuhan terhadap Copper-64, Gallium-68 dan Zirconium-89.
Setiap radioisotop memiliki karakteristik yang dapat digunakan untuk kebutuhan penelitian maupun medis tertentu.
Karena itu, kemampuan memproduksi berbagai jenis radioisotop menjadi penting.
Salah satu fokus BRIN adalah pengembangan sistem targetry agar siklotron DECY 13 dapat digunakan lebih luas.
Sistem target menjadi bagian penting dalam proses produksi radioisotop menggunakan siklotron.
Penguatan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu Indonesia mengembangkan kemampuan produksi secara mandiri.
Ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri dapat menjadi persoalan karena beberapa radioisotop memiliki waktu paruh yang relatif singkat.
Artinya, bahan tersebut tidak selalu dapat disimpan atau dikirim dalam waktu lama.
Produksi yang lebih dekat dengan rumah sakit maupun fasilitas penelitian dapat memberikan keuntungan dalam ketersediaan.
Kerja sama dengan peneliti Korea juga membuka kesempatan bagi periset BRIN mempelajari pengalaman teknologi yang sudah diterapkan di negara lain.
KAERI memiliki pengalaman dalam pengembangan dan pemanfaatan siklotron.
Di Korea, salah satu jenis radioisotop bahkan telah didistribusikan ke sejumlah rumah sakit, universitas dan lembaga penelitian.
Teknologi siklotron sendiri mempunyai penggunaan yang lebih luas daripada kebutuhan medis.
Siklotron dapat menghasilkan berkas proton yang dimanfaatkan untuk berbagai penelitian.
Bidang tersebut antara lain mencakup modifikasi material, penelitian biologi dan DNA hingga pemuliaan tanaman melalui mutasi benih.
BRIN juga sedang menyiapkan pengembangan siklotron dengan energi 30 MeV.
Pengembangan tersebut membutuhkan penelitian lebih lanjut, termasuk sistem target yang sesuai.
Kepala Pusat Riset Teknologi Akselerator BRIN Muhammad Rifai mengatakan kerja sama dengan KAERI mempunyai sejarah panjang dan dapat diperluas.
Pertukaran tenaga ahli maupun kunjungan peneliti menjadi salah satu kemungkinan kerja sama berikutnya.
Bagi masyarakat, teknologi radioisotop mungkin terdengar sangat teknis.
Namun hasil pengembangannya dapat berhubungan langsung dengan pelayanan kesehatan.
Teknologi kedokteran nuklir digunakan dalam sejumlah pemeriksaan untuk membantu dokter melihat proses yang terjadi di dalam tubuh.
Pengembangan kemampuan produksi dalam negeri karena itu bukan hanya persoalan riset.
Dalam jangka panjang, teknologi tersebut berpotensi mendukung ketersediaan radiofarmaka bagi fasilitas kesehatan dan pasien.
BRIN berharap transfer pengetahuan dari program ini dapat mempercepat penguasaan teknologi oleh peneliti Indonesia.
Semakin kuat kemampuan riset nasional, semakin besar pula peluang teknologi nuklir dimanfaatkan secara aman untuk kesehatan, penelitian dan berbagai kebutuhan masyarakat.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir