KebonCinta.com - Pernah berniat membuka media sosial selama lima menit, tetapi akhirnya menghabiskan waktu hingga berjam-jam? Atau hanya ingin menonton satu episode serial, tetapi justru berlanjut sampai larut malam?
Situasi tersebut cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari di era digital. Berbagai aktivitas menawarkan kesenangan cepat yang membuat seseorang ingin mengulanginya, bahkan ketika ada pekerjaan lain yang perlu diselesaikan.
Salah satu mekanisme yang terlibat adalah sistem penghargaan otak, termasuk dopamin. Zat kimia pembawa pesan di otak ini berperan dalam motivasi, pembelajaran, dan respons terhadap sesuatu yang dianggap menarik atau berharga.
Baca Juga: Punya Banyak Baju tetapi Jarang Dipakai? Metode Friend Stylist Bisa Bantu Kamu Belanja Lebih Bijak
Meski demikian, dopamin bukanlah penyebab tunggal seseorang menjadi malas. Kesulitan mengatur diri dapat dipengaruhi banyak faktor, seperti pola tidur, stres, lingkungan, kebiasaan, dan desain platform digital.
Karena itu, memahami aktivitas yang berpotensi menyita perhatian menjadi langkah penting untuk membangun rutinitas yang lebih seimbang. Berikut lima kebiasaan yang perlu diperhatikan.
1. Doomscrolling Membuat Waktu Produktif Mudah Terkuras
Media sosial dirancang untuk menyajikan beragam konten yang dapat terus diperbarui. Setiap kali menggulir layar, pengguna berpeluang menemukan informasi baru yang memancing rasa penasaran.
Pola tersebut dapat mendorong seseorang terus mencari konten berikutnya. Akibatnya, niat membuka media sosial sebentar bisa berubah menjadi kebiasaan menggulir tanpa menyadari berapa lama waktu telah berlalu.
Doomscrolling menjadi lebih bermasalah ketika seseorang terus membaca informasi yang memicu kecemasan atau kelelahan emosional. Konsentrasi dapat terganggu, sementara pekerjaan yang membutuhkan perhatian penuh menjadi lebih sulit diselesaikan.
Cara mengatasinya: tentukan waktu khusus untuk memeriksa media sosial, matikan notifikasi yang tidak penting, dan jauhkan ponsel ketika harus menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi.
2. Game yang Menyenangkan Bisa Menggeser Prioritas
Permainan digital menawarkan berbagai bentuk pencapaian, mulai dari menyelesaikan misi hingga memenangkan pertandingan. Setiap pencapaian dapat memberikan rasa puas dan mendorong pemain untuk mencoba tantangan berikutnya.
Tidak ada yang salah dengan bermain game sebagai hiburan. Namun, aktivitas ini perlu dievaluasi apabila mulai mengganggu waktu belajar, pekerjaan, interaksi sosial, atau istirahat.
Keinginan menyelesaikan satu misi tambahan dapat membuat durasi bermain sulit diprediksi. Tanpa batasan yang jelas, aktivitas rekreasi berpotensi mengambil alih waktu untuk kebutuhan lain.
Cara mengatasinya: tetapkan jadwal bermain yang realistis, gunakan pengingat waktu, dan selesaikan kewajiban utama sebelum mulai bermain. Pastikan pula waktu tidur tidak dikorbankan demi melanjutkan permainan.
3. Belanja Impulsif Menawarkan Kepuasan yang Tidak Selalu Bertahan
Diskon besar, flash sale, dan promosi dengan batas waktu tertentu dapat memunculkan perasaan harus segera membeli sesuatu. Antisipasi memperoleh barang baru pun dapat terasa menyenangkan sebelum transaksi dilakukan.
Namun, kepuasan sesaat tidak selalu sebanding dengan manfaat barang yang dibeli. Jika terus berulang, kebiasaan ini berpotensi membuat pengeluaran meningkat dan kebutuhan utama terabaikan.
Dopamin berperan dalam motivasi dan proses pembelajaran terkait penghargaan, tetapi keputusan belanja juga dipengaruhi berbagai faktor psikologis dan sosial, bukan semata-mata kadar dopamin.
Cara mengatasinya: buat daftar belanja berdasarkan kebutuhan, tetapkan anggaran, dan terapkan jeda 24 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak. Menghapus notifikasi promosi juga dapat membantu mengurangi godaan belanja spontan.
4.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir