Pendekatan tersebut membuat asesmen tidak semata-mata menilai kemampuan menghafal atau melakukan perhitungan langsung. Siswa juga dituntut menggunakan penalaran untuk memahami persoalan yang disajikan.
Hasilnya diharapkan memberikan gambaran kemampuan akademik berdasarkan kompetensi yang diukur. Informasi tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bagi murid dan guru.
Di tengah kekhawatiran mengenai pelaksanaan asesmen, Abdul Mu'ti kembali menegaskan bahwa TKA bukan ujian yang menentukan kelulusan.
Pelaksanaan pada pertengahan tahun ajaran justru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki kemampuan sebelum menyelesaikan pendidikan SMA. Setelah hasil tes diketahui, murid masih memiliki waktu untuk memperdalam materi yang belum dikuasai.
Oleh sebab itu, siswa sebaiknya memandang TKA sebagai bagian dari proses evaluasi pembelajaran, bukan sebagai penentu tunggal keberhasilan akademik.
Pada akhirnya, manfaat hasil TKA bergantung pada bagaimana informasi tersebut digunakan. Bagi siswa, hasil asesmen dapat membantu mengenali kemampuan dan menentukan langkah belajar berikutnya. Bagi guru, data tersebut dapat menjadi bahan untuk menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kebutuhan murid.
Hasil TKA tidak perlu menjadi sumber tekanan berlebihan. Asesmen ini justru dapat membantu siswa dan pendidik memahami aspek yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan.
Dengan pemahaman tersebut, pelaksanaan TKA diharapkan tidak hanya menghasilkan data akademik, tetapi juga mendukung proses pembelajaran yang lebih terarah dan sesuai kebutuhan siswa.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir