Menariknya, beberapa penelitian tentang pola makan intermittent fasting menunjukkan bahwa waktu makan yang teratur dan terencana dapat membantu tubuh beradaptasi lebih baik terhadap puasa. Sahur dalam konteks ini bukan hanya tradisi, tetapi bagian dari strategi tubuh untuk tetap seimbang.
Tentu saja, kualitas sahur juga menentukan manfaatnya. Alam tetapi jangan berlebihan. Terlalu banyak makanan berminyak atau tinggi gula justru membuat tubuh cepat haus dan lesu. Sebaliknya, makanan yang kaya serat, protein, dan cairan akan membantu energi bertahan lebih lama.
Pada akhirnya, sahur bukan sekadar rutinitas dini hari. Ia adalah bentuk persiapan fisik dan mental untuk menjalani ibadah puasa dengan lebih kuat dan tenang. Ketika dipahami dengan lebih sadar, sahur bukan lagi beban bangun pagi, melainkan momen penting yang sering kali diremehkan.
Karena dalam setiap anjuran ibadah, selalu ada hikmah yang kadang baru kita rasakan setelah benar-benar menjalaninya dengan penuh kesadaran.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir