KEBONCINTA.COM - Praktik tawasul atau mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui perantara kerap memicu perbedaan pendapat dan rasa penasaran di kalangan umat Islam. Menanggapi hal tersebut, ulama karismatik Buya Yahya memberikan penjelasan menarik dan menyejukkan mengenai tata cara tawasul yang benar sesuai ajaran syariat.
Banyak masyarakat membayangkan tawasul sebagai ritual yang rumit dan dipenuhi persyaratan khusus. Namun, Buya Yahya menegaskan bahwa tawasul pada dasarnya adalah bentuk ikhtiar doa yang sangat sederhana dan berlandaskan rasa cinta serta penghormatan kepada orang-orang saleh, amal baik, maupun Nabi Muhammad SAW.
3 Cara Tawasul yang Benar Menurut Syariat:
1. Tawasul dengan Amal Saleh
Seseorang diperbolehkan berdoa kepada Allah SWT dengan menyebutkan kebaikan atau amal saleh yang pernah dilakukan secara ikhlas (seperti berbakti kepada orang tua atau bersedekah) agar doanya dikabulkan.
2. Tawasul dengan Orang Saleh yang Masih Hidup
Meminta doa kepada ulama, guru, atau orang saleh yang masih hidup agar mendoakan hajat kita kepada Allah SWT merupakan bagian dari tawasul yang disepakati kebolehannya.
3. Tawasul dengan Nabi Muhammad SAW dan Orang Saleh yang Telah Meninggal
Buya Yahya menjelaskan bahwa menjadikan kemuliaan Nabi Muhammad SAW atau kecintaan kepada wali dan orang saleh sebagai perantara doa adalah hal yang diperbolehkan, selama keyakinan utama tetap tertuju penuh bahwa hanya Allah SWT yang Maha Mengabulkan dan Maha Memberi Manfaat/Mudarat.
Hal unik yang ditekankan oleh Buya Yahya adalah batasan tauhid dalam bertawasul. Tawasul menjadi keliru atau bahkan terlarang apabila seseorang memohon dan meminta langsung kepada kuburan atau sosok yang telah meninggal seolah-olah kuburan tersebut yang memberi pertolongan secara mandiri.
"Tawasul itu ibarat kita mengetuk pintu rahmat Allah dengan menyebut nama orang yang dicintai-Nya. Hakikat pemohon dan pengabul doa tetap hanya kepada Allah SWT," tegas Buya Yahya dalam penjelasannya.
Dengan penjelasan yang sejuk ini, masyarakat diharapkan tidak lagi bingung atau saling menyalahkan terkait praktik tawasul, melainkan dapat melaksanakannya dengan pemahaman tauhid yang benar. (swd)
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir