Siswa juga perlu memahami rantai makanan, jaring-jaring makanan, serta tingkat trofik. Produsen, seperti tumbuhan, memanfaatkan energi cahaya untuk menghasilkan bahan organik. Energi tersebut kemudian berpindah melalui konsumen dan pengurai dalam ekosistem.
Perpindahan energi tidak berlangsung dengan efisiensi sempurna. Sebagian energi digunakan organisme untuk aktivitas hidup dan dilepaskan sebagai panas, sehingga energi yang tersedia pada tingkat trofik berikutnya umumnya lebih sedikit.
Selain itu, pelajari siklus air, karbon, nitrogen, dan materi lain yang mendukung kehidupan. Konsep-konsep tersebut dapat digunakan untuk memahami dampak pencemaran, perubahan penggunaan lahan, dan perubahan iklim terhadap keseimbangan ekosistem.
Keanekaragaman hayati menunjukkan variasi kehidupan pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi karena kondisi geografis dan lingkungan alamnya beragam.
Keanekaragaman gen dapat terlihat dari variasi dalam satu spesies, sedangkan keanekaragaman spesies berkaitan dengan perbedaan antarjenis organisme. Adapun keanekaragaman ekosistem tampak pada perbedaan lingkungan, seperti hutan hujan tropis, mangrove, padang rumput, dan terumbu karang.
Klasifikasi makhluk hidup dilakukan untuk mengelompokkan organisme berdasarkan persamaan dan perbedaan karakteristik. Dalam mempelajari klasifikasi, siswa perlu mengenali konsep taksonomi, tata nama ilmiah, serta hubungan kekerabatan antarmakhluk hidup.
Nama ilmiah umumnya ditulis menggunakan sistem binomial yang terdiri atas nama genus dan epitet spesifik. Sebagai contoh, Oryza sativa merupakan nama ilmiah padi.
Selain klasifikasi, pelajari pula upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Konservasi dapat dilakukan melalui perlindungan organisme dan habitatnya, baik di lingkungan alami maupun di luar habitat aslinya.
Baca Juga: 6 Ciri Kelelahan Mental yang Sering Tak Disadari, Kenali Sebelum Terlambat
Evolusi menjelaskan perubahan karakteristik yang diwariskan dalam populasi dari generasi ke generasi. Dalam jangka waktu panjang, perubahan tersebut dapat menghasilkan perbedaan antarpopulasi dan berkontribusi terhadap terbentuknya spesies baru.
Salah satu mekanisme utama evolusi adalah seleksi alam. Individu dengan variasi sifat yang meningkatkan keberhasilan bertahan hidup dan bereproduksi dalam lingkungan tertentu dapat meninggalkan keturunan lebih banyak. Akibatnya, sifat yang diwariskan tersebut bisa menjadi lebih umum dalam populasi.
Evolusi juga berkaitan dengan mutasi, aliran gen, hanyutan genetik, dan perkawinan yang tidak berlangsung secara acak. Berbagai mekanisme tersebut dapat mengubah frekuensi alel dalam populasi.
Bukti evolusi dapat dipelajari melalui fosil, kesamaan struktur anatomi, perkembangan embrio, serta data molekuler seperti DNA. Bukti-bukti tersebut membantu ilmuwan menelusuri hubungan kekerabatan dan sejarah kehidupan.
Untuk memperkuat pemahaman, siswa perlu membedakan evolusi sebagai perubahan populasi dari perubahan yang hanya terjadi pada satu individu selama hidupnya.
Bioteknologi memanfaatkan organisme, sel, atau komponen biologis untuk menghasilkan produk dan jasa yang berguna bagi manusia.
Bioteknologi konvensional telah lama digunakan dalam pengolahan pangan melalui fermentasi. Contohnya, mikroorganisme dimanfaatkan dalam pembuatan tempe, yoghurt, roti, dan sejumlah produk pangan lainnya.
Sementara itu, bioteknologi modern dapat melibatkan teknik rekayasa genetika, kultur jaringan, dan metode molekuler untuk tujuan tertentu. Penerapannya dapat ditemukan di bidang pertanian, kesehatan, industri, dan lingkungan.
Contoh penerapan bioteknologi modern antara lain produksi protein tertentu menggunakan mikroorganisme yang direkayasa, perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan, serta penggunaan teknik analisis DNA.
Di samping manfaatnya, bioteknologi juga menimbulkan pertanyaan mengenai keamanan, etika, dampak lingkungan, dan akses terhadap hasil teknologi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir