Pendidikan
M. Panji Maulana

Cara Membaca Indikator Literasi dan Numerasi pada Rapor Pendidikan Sekolah

Cara Membaca Indikator Literasi dan Numerasi pada Rapor Pendidikan Sekolah

15 Oktober 2026 | 06:01

keboncinta.com- Rapor Pendidikan membantu sekolah memahami mutu layanan pembelajaran berdasarkan data. Dua indikator yang sering menjadi perhatian adalah kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Namun, membaca kedua indikator tersebut tidak cukup hanya dengan melihat angka atau warna yang muncul pada dasbor.

Kepala sekolah, guru, dan tim pengembang sekolah perlu memahami arti capaian, perubahan dari tahun sebelumnya, serta akar masalah yang memengaruhi hasilnya. Dengan demikian, Rapor Pendidikan dapat digunakan sebagai dasar perbaikan pembelajaran.

Apa Itu Indikator Literasi dan Numerasi?

Literasi berkaitan dengan kemampuan peserta didik memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi dalam berbagai jenis teks. Kemampuan ini tidak terbatas pada pelajaran Bahasa Indonesia karena diperlukan dalam hampir seluruh mata pelajaran.

Baca Juga: Siswa Bebas Tak Ikut TKA 2026, tetapi Sekolah Bisa Kehilangan Rapor Pendidikan! Ini Dampaknya 

Numerasi adalah kemampuan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan persoalan dalam berbagai konteks kehidupan.

Karena itu, rendahnya capaian literasi tidak selalu berarti siswa tidak bisa membaca. Mereka mungkin mampu membaca kalimat, tetapi kesulitan menemukan informasi tersirat, menyimpulkan isi bacaan, atau menilai suatu argumen.

Demikian pula, persoalan numerasi tidak selalu berkaitan dengan kemampuan berhitung. Siswa mungkin dapat mengerjakan operasi matematika, tetapi belum mampu memilih cara penyelesaian ketika menghadapi soal cerita atau data dalam grafik.

Cara Membaca Warna Capaian

Pada Rapor Pendidikan, warna membantu pengguna mengenali kondisi indikator secara cepat.

  • Hijau menunjukkan capaian baik yang perlu dipertahankan.
  • Kuning menunjukkan capaian sedang yang masih perlu ditingkatkan.
  • Merah menunjukkan capaian kurang yang memerlukan perhatian.

Akan tetapi, setiap indikator mempunyai definisi dan rentang capaian tersendiri. Sekolah tidak boleh menganggap semua angka pada indikator yang berbeda dapat dibandingkan secara langsung.

Untuk indikator literasi dan numerasi, perhatikan juga penjelasan tentang proporsi peserta didik pada kategori kemampuan yang tersedia. Persentase yang ditampilkan harus dibaca sesuai keterangan indikator, bukan otomatis dianggap sebagai nilai rata-rata ujian siswa.

Langkah Membaca Hasil Rapor Pendidikan

Pertama, masuk ke platform Rapor Pendidikan menggunakan akun yang memiliki kewenangan. Buka halaman ringkasan dan temukan indikator literasi serta numerasi.

Kedua, baca label capaian dan deskripsi yang menyertainya. Jangan berhenti pada warna merah, kuning, atau hijau.

Ketiga, periksa perubahan capaian dari periode sebelumnya. Apabila tersedia angka delta, pahami satuannya terlebih dahulu. Perubahan dalam poin persentase berbeda dengan pertumbuhan persentase relatif.

Keempat, buka bagian akar masalah. Bagian ini membantu sekolah memahami faktor pembelajaran yang mungkin berkaitan dengan capaian tersebut.

Kelima, unduh laporan agar hasilnya dapat dibahas bersama guru dalam rapat evaluasi.

Baca Juga: Rapor Pendidikan 2026 Sudah Keluar? Ini Langkah Penting yang Harus Dilakukan Sekolah 

Contoh Membaca Hasil

Misalnya, sebuah sekolah mempunyai capaian literasi 62 persen pada periode sebelumnya dan 68 persen pada periode berikutnya, dengan definisi pengukuran yang sebanding.

Perubahan tersebut berarti meningkat enam poin persentase, bukan otomatis meningkat enam persen secara relatif.

Jika indikator numerasi masih berada pada kategori kurang, sekolah perlu menelaah kemampuan apa yang paling membutuhkan dukungan. Misalnya, siswa kesulitan memahami pecahan, membaca tabel, atau menyelesaikan persoalan kontekstual.

Angka tersebut adalah contoh ilustratif, bukan data sekolah tertentu.

Apa yang Dilakukan Setelah Membaca Indikator?

Sekolah dapat mengadakan diskusi bersama guru untuk membandingkan data Rapor Pendidikan dengan hasil asesmen kelas, pekerjaan siswa, dan pengamatan pembelajaran.

Apabila siswa kesulitan memahami teks informasi, guru dapat memperbanyak latihan membaca dengan pertanyaan bertingkat. Jika siswa kesulitan menafsirkan data, pembelajaran dapat menggunakan tabel, diagram, dan persoalan kehidupan sehari-hari.

Setiap kegiatan perlu memiliki tujuan yang dapat diamati. Misalnya, sekolah menargetkan peningkatan kemampuan siswa menjelaskan informasi tersirat setelah delapan minggu latihan terstruktur.

Perbaikan tidak harus selalu berupa pembelian perangkat atau penyelenggaraan pelatihan berbiaya besar. Penyesuaian strategi mengajar, diskusi antarguru, dan asesmen formatif dapat menjadi langkah awal.

Rapor Pendidikan sebaiknya diperlakukan sebagai alat refleksi bersama, bukan sarana menyalahkan guru atau membandingkan siswa secara individual.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Rapor Pendidikan Literasi Numerasi Asesmen Nasional

Komentar Pengguna