keboncinta.com- Menyusun rumusan masalah merupakan salah satu tahap penting dalam penulisan skripsi. Meskipun biasanya hanya terdiri atas beberapa pertanyaan, bagian ini menentukan arah penelitian, mulai dari pengumpulan data, pemilihan metode, hingga pembahasan hasil.
Tidak sedikit mahasiswa mengalami kesulitan ketika menyusun rumusan masalah. Sebagian membuat pertanyaan terlalu luas, sementara yang lain justru menuliskan pertanyaan yang tidak sesuai dengan latar belakang dan tujuan penelitian.
Padahal, cara membuat rumusan masalah skripsi dapat dipelajari secara bertahap. Mahasiswa perlu memahami persoalan yang ingin diteliti, menentukan batasannya, kemudian menyusun pertanyaan yang jelas dan memungkinkan untuk dijawab melalui penelitian ilmiah.
Rumusan masalah skripsi adalah pertanyaan yang disusun untuk menjelaskan persoalan utama yang ingin dijawab melalui suatu penelitian.
Rumusan masalah biasanya dicantumkan dalam Bab I Pendahuluan setelah pembahasan latar belakang dan identifikasi masalah, sesuai sistematika penulisan yang berlaku di perguruan tinggi.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa ingin meneliti hubungan penggunaan media sosial dengan motivasi belajar.
Topik tersebut masih luas karena penggunaan media sosial memiliki banyak aspek. Peneliti dapat mempersempitnya menjadi hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dan motivasi belajar siswa kelas XI di sekolah tertentu.
Baca Juga: Cara Membuat Batasan Masalah Skripsi agar Penelitian Tidak Terlalu Luas
Pertanyaan penelitiannya kemudian dapat ditulis:
"Apakah terdapat hubungan antara intensitas penggunaan TikTok dan motivasi belajar siswa kelas XI SMA X?"
Rumusan tersebut lebih terarah karena menjelaskan aspek yang akan diteliti, kelompok responden, serta hubungan yang ingin diketahui.
Menurut panduan akademik Monash University, pertanyaan penelitian yang baik harus jelas, terfokus, mempunyai ruang lingkup sesuai, dan memungkinkan untuk dijawab melalui penelitian.
Secara umum, rumusan masalah skripsi yang baik memiliki beberapa karakteristik berikut.
Rumusan masalah tidak harus menggunakan kalimat panjang. Pertanyaan yang ringkas justru sering lebih mudah dipahami selama informasi utamanya sudah lengkap.
Langkah pertama adalah memahami topik yang akan diteliti.
Misalnya, mahasiswa tertarik dengan penggunaan teknologi digital dalam pendidikan.
Topik tersebut perlu dipersempit karena teknologi pendidikan mencakup banyak persoalan, seperti penggunaan aplikasi belajar, kemampuan guru, motivasi siswa, dan efektivitas media pembelajaran.
Mahasiswa dapat memilih persoalan tentang hubungan penggunaan aplikasi pembelajaran dengan motivasi belajar siswa.
Pemilihan masalah sebaiknya didukung data awal atau temuan penelitian terdahulu agar persoalan tersebut memiliki alasan akademik yang jelas.
Baca Juga: Cara Membuat Daftar Isi Otomatis di Microsoft Word untuk Makalah dan Skripsi
Rumusan masalah harus memiliki hubungan logis dengan latar belakang.
Jika latar belakang membahas rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, pertanyaan penelitian seharusnya berkaitan dengan partisipasi tersebut, bukan tiba-tiba membahas hasil ujian nasional atau persoalan lain yang tidak dijelaskan sebelumnya.
Mahasiswa juga perlu membaca jurnal ilmiah untuk mengetahui hal yang sudah diteliti dan persoalan yang masih membutuhkan penjelasan.
Proses ini berkaitan dengan identifikasi research gap atau kesenjangan penelitian.
Baca Juga: Cara Menentukan Research Gap Skripsi dari Penelitian Terdahulu
Setelah menemukan persoalan utama, tentukan ruang lingkup penelitian.
Batasan dapat meliputi subjek penelitian, lokasi, periode, variabel, atau aspek yang ingin dikaji.
Sebagai contoh, topik tentang literasi keuangan dapat dibatasi pada hubungan literasi keuangan dengan minat menabung mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah di sebuah perguruan tinggi.
Pembatasan tersebut membantu mahasiswa menentukan responden dan jenis data yang dibutuhkan.
Baca Juga: Cara Membuat Batasan Masalah Skripsi agar Penelitian Tidak Terlalu Luas
Bentuk rumusan masalah perlu disesuaikan dengan tujuan dan metode penelitian.
Penelitian deskriptif dapat menggunakan pertanyaan seperti "Bagaimana tingkat kepuasan mahasiswa terhadap layanan perpustakaan kampus?"
Penelitian kuantitatif yang menguji hubungan dapat menggunakan pertanyaan "Apakah terdapat hubungan antara kualitas layanan perpustakaan dan kepuasan mahasiswa?"
Sementara itu, penelitian kualitatif dapat menggunakan pertanyaan "Bagaimana pengalaman mahasiswa dalam memanfaatkan layanan perpustakaan digital?"
Pemilihan kata tanya tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pertanyaan mengenai hubungan dua variabel berbeda dengan pertanyaan mengenai pengaruh sebab-akibat.
Penelitian survei yang hanya mengamati hubungan antarvariabel, misalnya, tidak otomatis dapat membuktikan bahwa satu variabel menyebabkan perubahan pada variabel lainnya.
Setelah menentukan fokus, tuliskan pertanyaan menggunakan bahasa yang jelas.
Contohnya:
Rumusan masalah:
"Bagaimana tingkat motivasi belajar siswa kelas XI setelah mengikuti pembelajaran menggunakan media digital?"
Tujuan penelitian:
"Untuk mendeskripsikan tingkat motivasi belajar siswa kelas XI setelah mengikuti pembelajaran menggunakan media digital."
Keduanya harus saling berhubungan.
Panduan penelitian dari University of North Carolina at Charlotte juga menekankan pentingnya pertanyaan yang terfokus, dapat diteliti, realistis, dan relevan dengan bidang kajian.
Penelitian kuantitatif menggunakan data yang dapat diukur dan dianalisis secara statistik.
Contoh judul skripsi:
"Hubungan Literasi Keuangan dengan Minat Menabung Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah Universitas X."
Contoh rumusan masalah:
Ketiga pertanyaan tersebut menggambarkan fokus penelitian secara bertahap, mulai dari kondisi masing-masing variabel hingga hubungan antarvariabel.
Data dapat dikumpulkan menggunakan instrumen yang sesuai, kemudian dianalisis dengan teknik statistik berdasarkan karakteristik data dan rancangan penelitian.
Penelitian kualitatif biasanya berfokus pada pengalaman, persepsi, proses, makna, atau fenomena tertentu secara mendalam.
Contoh judul skripsi:
"Pengalaman Guru Sekolah Dasar dalam Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi."
Contoh rumusan masalah:
Rumusan tersebut dapat dijawab melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen yang relevan.
Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang menekankan pengukuran variabel, penelitian kualitatif berupaya memahami fenomena berdasarkan pengalaman dan konteks subjek penelitian.
Penelitian tindakan kelas atau PTK sering digunakan untuk memperbaiki proses pembelajaran melalui tindakan yang direncanakan dan dievaluasi.
Contoh judul penelitian:
"Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa Kelas VIII pada Mata Pelajaran IPA."
Contoh rumusan masalah:
Pertanyaan tersebut mengarahkan peneliti untuk mengevaluasi proses penerapan model pembelajaran dan perubahan yang terjadi selama siklus tindakan.
Agar lebih mudah dipahami, perhatikan perbandingan berikut.
Contoh pertama:
Kurang tepat: "Bagaimana pendidikan di Indonesia?"
Lebih tepat: "Bagaimana pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi pada siswa kelas V SD X?"
Pertanyaan pertama terlalu luas, sedangkan pertanyaan kedua mempunyai fokus yang lebih jelas.
Contoh kedua:
Kurang tepat: "Apakah media sosial memberikan dampak buruk?"
Lebih tepat: "Apakah terdapat hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan kualitas tidur mahasiswa Universitas X?"
Pertanyaan kedua lebih netral dan memungkinkan pengujian menggunakan data yang sesuai.
Contoh ketiga:
Kurang tepat: "Mengapa semua siswa malas membaca?"
Lebih tepat: "Faktor apa saja yang berkaitan dengan rendahnya minat membaca siswa kelas VIII SMP X?"
Perbaikan tersebut menghilangkan anggapan bahwa seluruh siswa memiliki perilaku yang sama sebelum penelitian dilakukan.
Tidak ada satu jumlah rumusan masalah yang wajib berlaku untuk seluruh skripsi.
Sebagian penelitian cukup menggunakan satu pertanyaan utama, sedangkan penelitian lain memerlukan beberapa pertanyaan yang saling berkaitan.
Jumlah tersebut bergantung pada tujuan, cakupan, desain penelitian, dan pedoman akademik masing-masing perguruan tinggi.
Mahasiswa sebaiknya tidak menambah pertanyaan hanya agar rumusan masalah terlihat banyak.
Setiap pertanyaan yang dicantumkan harus dapat dijawab melalui penelitian dan mempunyai hubungan dengan tujuan serta pembahasan.
Beberapa kesalahan yang sering muncul dalam penyusunan rumusan masalah antara lain:
Sebelum mengajukan proposal, mahasiswa dapat memeriksa kembali apakah setiap rumusan masalah memiliki hubungan dengan judul, latar belakang, batasan masalah, tujuan penelitian, dan metode yang direncanakan.
Rumusan masalah yang baik bukan ditentukan oleh panjang kalimat atau banyaknya pertanyaan, melainkan oleh kejelasan persoalan serta kemungkinan memperoleh jawaban yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Mahasiswa juga perlu mendiskusikan rumusan tersebut bersama dosen pembimbing, terutama untuk memastikan bahwa rancangan penelitian sudah sesuai dengan kaidah metodologi dan ketentuan program studi.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir