KebonCinta.com-- Mengajarkan anak untuk bersikap ramah, peduli, dan menghargai orang lain merupakan bagian penting dari pola asuh. Namun, orang tua juga perlu memahami bahwa menjadi anak yang baik bukan berarti harus selalu menuruti keinginan orang lain.
Ketika anak terus berusaha membuat semua orang senang, bahkan sampai mengabaikan perasaan dan kebutuhannya sendiri, orang tua perlu memberikan perhatian lebih. Kebiasaan ini dapat berkaitan dengan perilaku people pleaser, yakni kecenderungan berlebihan untuk menyenangkan orang lain karena takut ditolak, tidak disukai, atau mengecewakan seseorang.
Perilaku tersebut tidak selalu mudah dikenali. Anak mungkin terlihat penurut, jarang membantah, dan selalu bersedia membantu. Akan tetapi, di balik sikap itu, bisa saja terdapat kekhawatiran bahwa dirinya tidak akan diterima jika berani menyampaikan pendapat atau menolak permintaan.
Terapis keluarga berlisensi Nina Westbrook, LMFT, menyoroti bagaimana kebutuhan untuk selalu terlihat baik dapat berkaitan dengan keinginan anak memperoleh penerimaan. Sementara itu, psikolog Leon Seltzer mengingatkan tentang risiko ketika seseorang terlalu berorientasi pada keinginan orang lain hingga mengabaikan dirinya sendiri.
Karena itu, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa empati dan kebaikan hati tetap bisa berjalan bersama keberanian menetapkan batasan.
Baca Juga: Mengenal Pendidikan Karakter pada Anak, dari Pengertian hingga Cara Menerapkannya
People pleaser adalah istilah untuk menggambarkan kecenderungan seseorang mengutamakan kepuasan orang lain secara berlebihan, bahkan ketika hal itu membuat dirinya tidak nyaman atau dirugikan.
Pada anak, kecenderungan ini dapat terlihat ketika mereka selalu mengatakan setuju meskipun sebenarnya tidak ingin, merasa bersalah saat orang lain kecewa, atau terus mencari kepastian bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan.
Ada banyak faktor yang mungkin berperan, seperti rasa percaya diri yang rendah, ketakutan terhadap penolakan, pengalaman sosial, serta kebiasaan komunikasi di lingkungan keluarga.
Meski demikian, anak yang penurut atau suka membantu belum tentu merupakan people pleaser. Perilaku tersebut perlu dilihat berdasarkan pola yang berulang, alasan di balik tindakannya, dan dampaknya terhadap kesejahteraan anak.
Yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah anak bersikap baik, melainkan apakah ia merasa bebas memilih untuk membantu atau justru melakukannya karena takut kehilangan kasih sayang dan penerimaan.
Berikut 5 tanda anak mulai terlalu berusaha menyenangkan orang lain:
Anak yang memiliki kecenderungan menyenangkan orang lain secara berlebihan mungkin mudah mengucapkan kata maaf, bahkan ketika situasinya bukan kesalahannya.
Misalnya, ia meminta maaf ketika temannya terlihat murung, ketika seseorang tidak menyukai pendapatnya, atau saat terjadi masalah yang sebenarnya berada di luar tanggung jawabnya.
Kebiasaan meminta maaf tentu bukan hal buruk. Namun, jika anak terus merasa bertanggung jawab atas perasaan semua orang, orang tua dapat membantunya memahami perbedaan antara mengakui kesalahan dan merasa bersalah atas sesuatu yang tidak dilakukannya.
Baca Juga: Anak di Bawah 16 Tahun Sebaiknya Jauh dari Medsos? Ternyata ini Manfaatnya bagi Tumbuh Kembang
Pernah mendengar anak berulang kali bertanya, "Kamu masih marah sama aku?" atau "Aku tadi salah, ya?"
Pertanyaan semacam ini sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, jika terus muncul karena anak sangat takut membuat orang lain kecewa, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ia membutuhkan dukungan untuk membangun rasa aman dan percaya diri.
Orang tua dapat mengajaknya membicarakan apa yang membuatnya khawatir. Hindari langsung menyebutnya terlalu sensitif atau berlebihan, sebab respons seperti itu dapat membuat anak enggan mengungkapkan perasaannya.
Anak yang terlalu ingin menyenangkan orang lain mungkin kesulitan mengatakan tidak, termasuk ketika diminta melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak ia sukai.
Ia bisa terus membantu teman meskipun kelelahan, meminjamkan barang karena takut dijauhi, atau mengikuti ajakan yang bertentangan dengan keinginannya.
Dalam situasi seperti ini, anak perlu memahami bahwa menolak permintaan bukan berarti menjadi egois. Ia tetap dapat menghormati orang lain sambil mempertimbangkan kemampuan, kenyamanan, dan kebutuhannya sendiri.
Anak mungkin berpura-pura menyukai permainan, musik, atau kegiatan tertentu hanya agar diterima dalam kelompok pertemanan.
Menyesuaikan diri dengan lingkungan merupakan bagian normal dari perkembangan sosial. Namun, jika anak terus menyembunyikan kesukaan dan pendapatnya karena takut tidak disukai, orang tua perlu membantunya membangun keyakinan terhadap dirinya sendiri.
Ajarkan bahwa perbedaan minat tidak harus menjadi penghalang persahabatan. Anak tetap bisa berteman dengan orang yang memiliki kegemaran berbeda tanpa harus mengubah seluruh kepribadiannya.
Baca Juga: Anak Gen Z Makin Sulit Diajak Ngobrol? Ini 6 Cara Orang Tua Membangun Komunikasi yang Hangat
Tanda lain yang perlu diperhatikan adalah ketika anak selalu mendahulukan kepentingan orang lain hingga mengabaikan waktu istirahat, perasaan, atau kewajibannya sendiri.
Ia mungkin merasa tidak enak ketika tidak bisa membantu teman, sulit meminta pertolongan, atau memilih diam saat diperlakukan tidak adil.
Jika pola ini berlangsung terus-menerus, anak dapat mengalami kelelahan emosional dan kesulitan menjaga hubungan yang seimbang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir