keboncinta.com- Menentukan research gap atau kesenjangan penelitian merupakan salah satu tantangan yang sering dihadapi mahasiswa ketika menyusun proposal skripsi. Banyak mahasiswa telah menemukan topik yang menarik, tetapi masih kesulitan menjelaskan mengapa topik tersebut perlu diteliti kembali dan apa kontribusi yang dapat diberikan dibandingkan penelitian sebelumnya.
Kesulitan tersebut biasanya muncul karena mahasiswa menganggap research gap harus berupa topik yang sama sekali belum pernah diteliti. Padahal, dalam dunia akademik, kesenjangan penelitian tidak selalu berarti belum ada satu pun penelitian mengenai suatu masalah.
Research gap dapat muncul ketika hasil penelitian sebelumnya saling bertentangan, suatu kelompok responden belum banyak diteliti, metode yang digunakan memiliki keterbatasan, atau perubahan kondisi menimbulkan pertanyaan baru yang belum terjawab.
Untuk menemukan kesenjangan yang kuat, mahasiswa perlu membaca, membandingkan, dan mengevaluasi penelitian terdahulu secara sistematis.
Research gap adalah bagian dari pengetahuan ilmiah yang masih belum lengkap, belum memperoleh jawaban memadai, atau memerlukan pengujian lebih lanjut.
University of Chicago melalui panduan tinjauan literaturnya menjelaskan bahwa research gap dapat berupa persoalan konseptual, metodologis, maupun empiris yang belum atau kurang dieksplorasi, termasuk pengetahuan yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan terbaru.
Dengan kata lain, research gap menunjukkan adanya alasan akademik mengapa suatu penelitian perlu dilakukan.
Sebagai contoh, sejumlah penelitian mungkin telah membahas literasi keuangan terhadap minat investasi.
Namun, hasilnya belum tentu dapat menjelaskan bagaimana literasi keuangan syariah berkaitan dengan keputusan menggunakan layanan investasi emas digital pada kelompok pengguna tertentu.
Apabila telaah literatur yang memadai menunjukkan bahwa hubungan tersebut belum dijelaskan secara cukup, kondisi itu dapat menjadi kandidat research gap.
Penting dicatat bahwa contoh tersebut merupakan ilustrasi. Keberadaan kesenjangan harus dibuktikan melalui penelusuran artikel ilmiah, bukan hanya berdasarkan dugaan.
Research gap membantu mahasiswa menjelaskan posisi penelitiannya di antara pengetahuan yang sudah tersedia.
Tanpa kesenjangan yang jelas, sebuah skripsi dapat terlihat hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa tujuan pengembangan yang memadai.
Research gap juga membantu mahasiswa:
Namun, keberadaan research gap saja belum cukup.
Mahasiswa juga perlu menunjukkan bahwa kesenjangan tersebut penting, dapat diteliti, dan relevan dengan bidang keilmuan.
Baca Juga: Cara Membuat Batasan Masalah Skripsi agar Penelitian Tidak Terlalu Luas
Dua istilah yang sering dianggap sama adalah research gap dan novelty.
Research gap menunjukkan persoalan atau keterbatasan dalam penelitian terdahulu yang belum memperoleh penjelasan memadai.
Sementara itu, novelty atau kebaruan berkaitan dengan unsur baru yang ditawarkan penelitian untuk menjawab persoalan tersebut.
Contohnya, penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang berbeda mengenai hubungan kualitas layanan digital dan kepuasan pelanggan.
Perbedaan temuan itu dapat menjadi kandidat research gap.
Penelitian baru kemudian mungkin menawarkan kebaruan berupa pengujian pada layanan dengan karakteristik tertentu, pengukuran yang lebih tepat, atau pendekatan analisis yang berbeda.
Namun, kebaruan tidak harus selalu berupa penambahan variabel.
Kebaruan dapat muncul dari pengembangan konsep, metode, konteks, data, maupun penjelasan teoretis yang lebih baik.
Empirical gap muncul ketika bukti empiris yang tersedia belum cukup atau menunjukkan hasil yang belum konsisten.
Misalnya, beberapa penelitian menemukan hubungan positif antara variabel tertentu, sedangkan penelitian lain tidak menemukan hubungan yang bermakna secara statistik.
Namun, perbedaan hasil saja belum otomatis membuktikan adanya research gap.
Mahasiswa perlu memeriksa apakah perbedaan tersebut disebabkan oleh metode, ukuran sampel, instrumen, atau konteks penelitian.
Theoretical gap berkaitan dengan keterbatasan teori dalam menjelaskan suatu fenomena.
Misalnya, sebuah teori telah digunakan untuk menjelaskan penerimaan teknologi, tetapi belum cukup menjelaskan peran faktor tertentu pada konteks penggunaan layanan yang berbeda.
Mahasiswa dapat menelaah apakah teori tersebut perlu diuji, diperluas, atau dibandingkan dengan kerangka lain.
Methodological gap muncul ketika metode penelitian sebelumnya memiliki keterbatasan yang penting.
Sebagai contoh, sebagian besar penelitian menggunakan survei sekali waktu sehingga belum dapat menjelaskan perubahan perilaku dari waktu ke waktu.
Penelitian lanjutan mungkin memerlukan rancangan longitudinal atau pendekatan kualitatif untuk memahami proses yang belum terjelaskan.
Namun, penggunaan metode berbeda tidak otomatis menghasilkan kontribusi. Perubahan metode harus relevan dengan pertanyaan penelitian.
Baca Juga: Cara Membuat Daftar Isi Otomatis di Microsoft Word untuk Makalah dan Skripsi
Population gap muncul ketika kelompok tertentu belum terwakili secara memadai dalam penelitian terdahulu.
Misalnya, sebagian besar penelitian mengenai literasi digital dilakukan pada mahasiswa perkotaan, sementara kelompok pengguna lain belum banyak dipelajari.
Mahasiswa harus menjelaskan mengapa karakteristik kelompok baru berpotensi menghasilkan pengetahuan yang berbeda.
Kesenjangan kontekstual muncul ketika hasil penelitian dari suatu lingkungan belum tentu dapat diterapkan pada lingkungan lain.
Contohnya, temuan dari perusahaan besar mungkin belum sepenuhnya menjelaskan kondisi usaha mikro.
Namun, sekadar mengganti nama kota, kampus, atau perusahaan tidak cukup untuk membuktikan kontribusi ilmiah.
Perlu ada alasan teoretis atau empiris mengapa konteks baru tersebut penting.
Temporal gap berkaitan dengan perubahan waktu atau kondisi yang dapat membuat hasil penelitian lama perlu diuji kembali.
Perubahan teknologi, kebijakan, pola konsumsi, atau lingkungan ekonomi dapat menjadi alasan untuk memperbarui bukti.
Namun, penelitian yang berusia beberapa tahun tidak otomatis dianggap usang. Relevansinya harus diperiksa berdasarkan perkembangan bidang terkait.
Sebelum mencari research gap, mahasiswa perlu mempersempit topik.
Topik seperti “teknologi digital” terlalu luas.
Topik yang lebih terarah misalnya “pengalaman pengguna layanan perbankan digital pada mahasiswa”.
Mahasiswa kemudian dapat menentukan aspek yang ingin dipelajari, seperti kemudahan penggunaan, kepercayaan, keamanan, atau kualitas layanan.
Topik yang spesifik membantu proses pencarian literatur menjadi lebih terarah.
Gunakan sumber akademik seperti Google Scholar, portal jurnal universitas, repositori institusi, atau basis data ilmiah yang dapat diakses melalui perpustakaan kampus.
Kata kunci pencarian sebaiknya mencakup istilah dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Contohnya:
Gunakan variasi istilah agar penelitian relevan yang menggunakan terminologi berbeda tidak terlewat.
Utamakan artikel yang relevan, memiliki metode jelas, dan diterbitkan melalui sumber akademik yang dapat diperiksa.
Jangan menentukan kualitas artikel hanya berdasarkan tahun terbit atau jumlah sitasi.
Mahasiswa tidak harus langsung membaca seluruh artikel dari awal sampai akhir tanpa strategi.
Mulailah dengan abstrak untuk memahami tujuan dan temuan umum.
Kemudian periksa pendahuluan, tinjauan pustaka, metode, hasil, pembahasan, keterbatasan, dan saran penelitian lanjutan.
Bagian keterbatasan sering membantu menemukan kandidat research gap.
Namun, saran penelitian lanjutan dari satu artikel tidak boleh langsung dianggap sebagai kesenjangan yang masih ada.
Mahasiswa perlu memeriksa apakah penelitian lain telah menjawabnya.
Matriks membantu mahasiswa membandingkan penelitian secara sistematis.
Berikut contoh format sederhana.
| Aspek | Informasi yang Dicatat |
|---|---|
| Penulis dan tahun | Identitas bibliografi artikel |
| Tujuan penelitian | Pertanyaan atau masalah yang diteliti |
| Teori | Kerangka konsep yang digunakan |
| Metode | Kuantitatif, kualitatif, campuran, atau lainnya |
| Sampel atau partisipan | Kelompok dan jumlah responden |
| Variabel atau tema | Aspek utama yang dianalisis |
| Temuan | Hasil penelitian yang benar-benar dilaporkan |
| Keterbatasan | Batasan yang diakui atau teridentifikasi |
| Potensi gap | Pertanyaan yang belum terjawab |
Matriks dapat dibuat menggunakan Excel atau Word.
Untuk menjaga ketepatan, catat juga DOI atau tautan artikel dan nomor halaman yang relevan.
Setelah mengumpulkan beberapa artikel, mahasiswa perlu melakukan sintesis.
Sintesis berarti menghubungkan hasil penelitian untuk menemukan pola, kesamaan, perbedaan, dan persoalan yang belum terselesaikan.
Contohnya, tiga artikel membahas hubungan keamanan digital dan kepercayaan pengguna.
Dua artikel melaporkan hubungan positif, sedangkan satu artikel tidak menemukan hubungan yang signifikan.
Mahasiswa kemudian memeriksa perbedaan instrumen, sampel, konteks, dan teknik analisis.
Apabila perbedaan tersebut belum dapat dijelaskan secara memadai, mahasiswa dapat mengembangkan pertanyaan penelitian yang lebih spesifik.
Inilah perbedaan antara tinjauan pustaka yang bersifat deskriptif dan tinjauan pustaka yang bersifat analitis.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap sebuah gap masih terbuka hanya karena ditemukan dalam artikel lama.
Misalnya, artikel tahun 2020 menyarankan penelitian mengenai penggunaan aplikasi tertentu.
Mahasiswa yang menyusun skripsi pada tahun 2026 tidak boleh langsung menyatakan bahwa topik tersebut belum pernah diteliti.
Perlu dilakukan pencarian penelitian yang terbit setelah tahun 2020.
Gunakan kata kunci yang lebih spesifik, periksa artikel yang mengutip penelitian awal, dan telusuri penelitian dengan konsep serupa.
Jika telah ada penelitian yang menjawab pertanyaan tersebut, mahasiswa perlu memperbarui analisisnya.
Setelah menemukan kesenjangan yang cukup kuat, tentukan kontribusi yang ingin diberikan.
Kontribusi dapat berupa:
Kontribusi sebaiknya dirumuskan secara realistis sesuai kemampuan penelitian skripsi.
Mahasiswa tidak harus mengklaim akan menciptakan teori baru jika penelitiannya hanya bertujuan menguji hubungan beberapa variabel.
Misalnya, mahasiswa tertarik meneliti minat menggunakan layanan investasi digital.
Setelah menelaah literatur, mahasiswa menemukan bahwa beberapa studi menekankan literasi keuangan, sedangkan studi lain lebih menonjolkan kepercayaan terhadap platform.
Mahasiswa juga menemukan bahwa mekanisme hubungan antarfaktor tersebut belum dijelaskan secara memadai pada kelompok yang relevan.
Dari kondisi itu, mahasiswa dapat merumuskan pertanyaan mengenai hubungan literasi, kepercayaan, dan minat penggunaan.
Namun, pernyataan bahwa hubungan tersebut belum diteliti harus didukung oleh artikel nyata yang telah ditelaah.
Contoh ini hanya menggambarkan proses berpikir, bukan klaim adanya gap yang sudah terbukti dalam literatur investasi digital.
Mahasiswa ingin meneliti pengalaman guru dalam menerapkan asesmen formatif.
Penelitian terdahulu mungkin telah mengukur frekuensi penggunaan asesmen melalui survei.
Namun, apabila kajian literatur menunjukkan bahwa pengalaman guru ketika menafsirkan hasil asesmen dan mengubah strategi pembelajaran masih kurang dipahami, mahasiswa dapat mengembangkan penelitian kualitatif.
Pertanyaan penelitiannya dapat berfokus pada pengalaman, tantangan, dan proses pengambilan keputusan guru.
Pendekatan ini perlu didukung oleh alasan metodologis mengapa wawancara, observasi, atau analisis dokumen dapat menjawab persoalan yang belum terjelaskan.
Baca Juga: Skor Integritas Pendidikan Naik, KPK Masih Temukan Joki Skripsi hingga Penyalahgunaan Dana BOS
Berikut contoh struktur penulisan yang dapat disesuaikan setelah mahasiswa memiliki sumber penelitian yang nyata.
“Penelitian terdahulu telah membahas hubungan antara variabel A dan variabel B dalam berbagai konteks. Namun, hasil yang dilaporkan belum sepenuhnya konsisten, terutama ketika mempertimbangkan perbedaan karakteristik responden dan pendekatan pengukuran. Oleh karena itu, penelitian ini diarahkan untuk menguji kembali hubungan tersebut pada konteks C dengan menggunakan pendekatan D.”
Kalimat tersebut hanyalah kerangka.
Dalam skripsi sebenarnya, mahasiswa harus mencantumkan nama peneliti, tahun, hasil temuan, serta alasan ilmiah yang menjelaskan kesenjangan.
Hindari menulis “belum pernah ada penelitian” tanpa melakukan penelusuran yang cukup luas.
Tidak selalu.
Research gap dapat ditemukan melalui artikel nasional maupun internasional selama sumbernya relevan, dapat dipertanggungjawabkan, dan cukup kuat untuk mendukung argumentasi.
Jurnal internasional dapat membantu memahami perkembangan teori dan penelitian lintas negara.
Sementara itu, penelitian nasional dapat memberikan informasi penting mengenai konteks Indonesia.
Kombinasi sumber sering lebih bermanfaat daripada hanya memilih salah satu berdasarkan label publikasinya.
Tidak ada satu jumlah artikel yang otomatis menjamin research gap telah ditemukan.
Kebutuhan literatur bergantung pada keluasan topik, kedalaman masalah, dan ketentuan program studi.
Mahasiswa dapat memulai dengan kumpulan artikel inti yang paling relevan, kemudian memperluas pencarian hingga pola temuan dan perdebatan menjadi lebih jelas.
Jika masih terdapat hasil yang bertentangan atau pertanyaan penting yang belum terjawab, pencarian perlu dilanjutkan.
Jumlah referensi harus mengikuti kebutuhan argumentasi dan pedoman akademik kampus.
Hanya mengganti lokasi penelitian. Perbedaan lokasi perlu memiliki alasan ilmiah.
Menganggap hasil tidak signifikan sebagai bukti otomatis adanya gap. Hasil tersebut harus dianalisis bersama konteks dan metode.
Menggunakan satu artikel sebagai satu-satunya dasar. Kesenjangan perlu diuji terhadap literatur yang lebih luas.
Mengandalkan abstrak tanpa membaca metode dan pembahasan. Informasi penting dapat terlewat.
Mengutip sumber yang tidak dibaca. Hal ini berisiko menghasilkan interpretasi keliru.
Menggunakan referensi palsu atau tidak dapat diverifikasi. Seluruh sitasi harus sesuai dengan publikasi yang benar-benar ada.
Menyamakan novelty dengan penambahan variabel. Kontribusi penelitian tidak selalu ditentukan oleh banyaknya variabel.
Sebuah kandidat research gap layak dikembangkan apabila mahasiswa dapat menjelaskan empat hal.
Pertama, apa yang sudah diketahui berdasarkan penelitian terdahulu.
Kedua, bagian mana yang masih belum jelas, terbatas, atau diperdebatkan.
Ketiga, mengapa kekurangan pengetahuan tersebut penting untuk diteliti.
Keempat, bagaimana penelitian yang direncanakan dapat membantu menjawabnya dengan metode yang sesuai.
University of Chicago juga menekankan pentingnya mempertimbangkan relevansi, kontribusi, kelayakan, serta ketepatan metodologis ketika mengevaluasi suatu kesenjangan penelitian.
Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mencari topik yang berbeda dari skripsi sebelumnya, tetapi membangun alasan akademik yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir