keboncinta.com- Setelah memeriksa hasil tes, guru dapat menganalisis setiap butir soal untuk melihat bagaimana soal tersebut bekerja pada kelompok siswa yang mengerjakannya.
Dua ukuran yang sering digunakan adalah tingkat kesukaran dan daya pembeda. Keduanya membantu guru meninjau soal, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan kesesuaian materi, kejelasan bahasa, dan ketepatan kunci jawaban.
Siapkan Data Jawaban Siswa
Untuk contoh soal pilihan ganda dengan satu jawaban benar, beri skor 1 pada jawaban benar dan 0 pada jawaban salah atau kosong.
Susun tabel dengan satu baris untuk setiap siswa dan satu kolom untuk setiap soal. Tambahkan skor total masing-masing siswa.
Periksa kunci sebelum menghitung. Kunci yang keliru dapat membuat hasil analisis menyesatkan dan merugikan siswa.
Apa Itu Tingkat Kesukaran?
Dalam analisis klasik untuk soal berskor 0 atau 1, indeks kesukaran menunjukkan proporsi siswa yang menjawab benar.
Rumusnya:
p = B ÷ N
Keterangan:
Nilai p berada antara 0 dan 1. Semakin besar nilainya, semakin banyak siswa menjawab benar sehingga soal semakin mudah bagi kelompok tersebut.
Baca Juga: Jangan Sampai Salah Strategi! Ini 2 Bentuk Soal TKA SMA 2026 yang Wajib Dipahami Siswa
Contoh Menghitung Tingkat Kesukaran
Sebuah soal dikerjakan oleh 40 siswa. Sebanyak 26 siswa menjawab benar.
p = 26 ÷ 40 = 0,65
Artinya, 65 persen peserta menjawab benar.
Salah satu pengelompokan praktis yang sering digunakan adalah:
| Nilai p | Kategori |
|---|---|
| 0,00–0,30 | Sukar |
| Lebih dari 0,30 sampai 0,70 | Sedang |
| Lebih dari 0,70 sampai 1,00 | Mudah |
Batas kategori merupakan konvensi analisis, bukan ukuran mutlak untuk semua tujuan tes. Soal mudah tetap dapat berguna untuk memeriksa penguasaan kemampuan dasar.
Apa Itu Daya Pembeda?
Daya pembeda menunjukkan perbedaan proporsi jawaban benar antara kelompok dengan skor total tinggi dan kelompok dengan skor total rendah.
Salah satu rumus yang dapat digunakan:
D = (BA ÷ JA) − (BB ÷ JB)
Keterangan:
Nilai positif berarti proporsi jawaban benar lebih besar pada kelompok atas. Nilai negatif menunjukkan keadaan sebaliknya dan perlu diperiksa.
Baca Juga: Soal TKA SMA 2026 Penuh Bacaan Panjang? Jangan Panik! Ini 3 Kunci Lolos yang Diingatkan Mendikdasmen
Contoh Menghitung Daya Pembeda
Urutkan 40 peserta berdasarkan skor total. Untuk contoh sederhana ini, gunakan 10 peserta teratas dan 10 peserta terbawah. Sebanyak 20 peserta di tengah tidak digunakan dalam perhitungan D.
Dari kelompok atas, 9 siswa menjawab benar. Dari kelompok bawah, 4 siswa menjawab benar.
D = (9 ÷ 10) − (4 ÷ 10)
D = 0,90 − 0,40 = 0,50
Proporsi jawaban benar pada kelompok atas lebih tinggi 50 poin persentase. Pemilihan 25 persen kelompok atas dan bawah pada contoh ini perlu dicatat; metode lain dapat menggunakan proporsi berbeda.
Membaca Kedua Hasil Bersama
Pada contoh tersebut, p = 0,65 menunjukkan soal berkategori sedang menurut batas yang digunakan. D = 0,50 menunjukkan pemisahan yang cukup kuat antara kedua kelompok dalam contoh.
Jangan menyamakan D = 0,50 dengan “kualitas soal 50 persen”. D merupakan selisih proporsi, bukan persentase mutu keseluruhan.
Hasil dapat berubah apabila soal dikerjakan kelompok siswa berbeda. Sampel kecil juga membuat hasil lebih mudah berubah.
Tindak Lanjut Setelah Analisis
Periksa kembali soal yang memiliki daya pembeda rendah atau negatif. Kemungkinan penyebabnya antara lain kunci salah, pertanyaan ambigu, atau materi yang belum dipelajari secara merata.
Tinjau pula pilihan pengecoh dan kesesuaian soal dengan tujuan pembelajaran. Untuk soal uraian, gunakan pendekatan yang mempertimbangkan skor maksimum serta pedoman penskorannya; jangan langsung menerapkan rumus jawaban benar di atas.
Simpan hasil analisis bersama naskah soal, kunci, jumlah peserta, dan metode pembentukan kelompok agar keputusan revisi dapat ditelusuri.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir