KebonCinta.com - Nilai produksi suatu negara meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Apakah itu selalu berarti ekonominya tumbuh? Belum tentu, sebab kenaikan nilai tersebut bisa dipengaruhi oleh harga barang dan jasa yang semakin mahal.
Untuk mengetahui perubahan produksi dengan lebih tepat, penghitungan pertumbuhan ekonomi menggunakan Produk Domestik Bruto atau PDB riil. Ukuran ini membantu memisahkan perubahan output dari pengaruh kenaikan harga.
Cara menghitungnya cukup sederhana. Kamu hanya perlu menyiapkan data PDB riil dari dua periode yang sebanding, kemudian menghitung persentase perubahannya.
PDB menggambarkan nilai barang dan jasa akhir yang diproduksi di dalam wilayah suatu negara selama periode tertentu.
Baca Juga: Apa Itu Pertumbuhan Ekonomi? Kenali Pengertian dan Indikatornya
Dalam penyajiannya, PDB dapat dihitung atas dasar harga berlaku maupun harga konstan. PDB atas dasar harga berlaku disebut PDB nominal, sedangkan PDB atas dasar harga konstan merupakan PDB riil.
PDB riil menggunakan harga tahun dasar sehingga perubahan nilainya mencerminkan perubahan volume produksi. Karena itu, ukuran ini digunakan untuk menghitung pertumbuhan ekonomi tanpa mencampurkannya dengan pengaruh perubahan harga.
Rumus yang digunakan adalah:
Pertumbuhan ekonomi = [(PDB riil periode berjalan − PDB riil periode sebelumnya) ÷ PDB riil periode sebelumnya] × 100%
Urutan pengerjaannya sebagai berikut:
Pastikan kedua data menggunakan satuan dan dasar penghitungan yang sama.
Baca Juga: Materi TKA SMA Ekonomi, Ini Topik yang Perlu Dipelajari dan Strategi Menghadapi Ujian
Sebagai ilustrasi, PDB riil negara A tercatat sebesar Rp1.200 triliun pada tahun pertama. Pada tahun berikutnya, nilainya meningkat menjadi Rp1.260 triliun.
Perhitungannya adalah:
Pertumbuhan ekonomi
= [(1.260 − 1.200) ÷ 1.200] × 100%
= (60 ÷ 1.200) × 100%
= 5%
Jadi, ekonomi negara A tumbuh sebesar 5 persen.
Artinya, output riil negara tersebut meningkat 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini tidak berarti pendapatan setiap penduduk otomatis naik dengan persentase yang sama.
Bagaimana jika PDB riil justru turun?
Misalnya, PDB riil negara B berkurang dari Rp900 triliun menjadi Rp873 triliun.
Pertumbuhan ekonomi
= [(873 − 900) ÷ 900] × 100%
= (−27 ÷ 900) × 100%
= −3%
Hasil tersebut menunjukkan kontraksi ekonomi sebesar 3 persen. Produksi barang dan jasa secara riil lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Baca Juga: Cara Mengatur Keuangan di Tengah Ketidakpastian Ekonomi agar Lebih Aman, Yuk Disimak
Jika PDB riil kedua periode sama, hasil perhitungannya adalah 0 persen atau tidak mengalami pertumbuhan.
Selain memilih PDB riil, perhatikan periode pembandingnya. Data satu tahun penuh perlu dibandingkan dengan satu tahun penuh sebelumnya.
Untuk data triwulanan, perbandingan dengan triwulan sebelumnya berbeda dari perbandingan dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Keduanya dapat menghasilkan angka pertumbuhan berbeda.
Gunakan pula seri PDB riil dengan tahun dasar yang sama. Dengan data yang konsisten, hasil perhitungan lebih mudah ditafsirkan dan tidak menyesatkan pembaca.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir