keboncinta.com- Peralatan laboratorium sekolah perlu dicatat agar lokasi, kondisi, dan riwayat penggunaannya dapat diketahui. Tanpa pencatatan yang teratur, alat yang rusak atau dipindahkan sering baru diketahui ketika akan dipakai untuk praktikum.
Kartu inventaris membantu petugas mengenali setiap alat dan menentukan kebutuhan pemeriksaan. Formatnya dapat dibuat sederhana, tetapi perlu digunakan secara konsisten.
Untuk alat yang memiliki identitas tersendiri, seperti mikroskop atau timbangan digital, gunakan satu kode unik bagi setiap unit.
Informasi yang dapat dicatat meliputi:
Kartu operasional ini dapat melengkapi pencatatan aset sekolah. Jika sekolah memiliki format resmi untuk pelaporan barang, tetap gunakan format tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.
Baca Juga: Cara Membuat Kisi-Kisi dan Kartu Soal untuk Guru, Lengkap dengan Contoh Format
| Kolom | Contoh Pengisian |
|---|---|
| Kode alat | LAB-BIO-001 |
| Nama alat | Mikroskop |
| Merek/tipe | Diisi sesuai label alat |
| Nomor seri | Diisi jika tersedia |
| Lokasi | Lemari A, rak 2 |
| Kondisi | Dapat digunakan; pemeriksaan terakhir tercatat |
| Penanggung jawab | Petugas laboratorium |
| Pemeriksaan berikutnya | Diisi sesuai jadwal sekolah |
Jangan mengarang nomor seri, tahun perolehan, atau harga ketika bukti belum ditemukan. Tuliskan “belum terverifikasi” dan tentukan siapa yang akan menelusuri dokumennya.
Inventaris menjelaskan barang yang dimiliki. Catatan pemakaian menjelaskan kapan alat digunakan, siapa yang meminjam, dan bagaimana kondisi saat dikembalikan.
Untuk alat yang sering berpindah ruang, tambahkan buku peminjaman dengan tanggal keluar, pengguna, tujuan penggunaan, tanggal kembali, dan hasil pemeriksaan.
Bahan habis pakai sebaiknya memiliki pencatatan stok tersendiri. Jumlah bahan yang berkurang karena digunakan tidak dicatat sebagai kerusakan alat.
Baca Juga: Cara Menganalisis Butir Soal: Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda dengan Contoh
Jadwal berikut merupakan contoh pengelolaan internal, bukan interval wajib untuk semua jenis alat.
| Waktu | Pemeriksaan |
|---|---|
| Sebelum praktikum | Ketersediaan alat, kebersihan, kelengkapan, dan kerusakan yang terlihat |
| Setelah praktikum | Jumlah kembali, kondisi, dan lokasi penyimpanan |
| Bulanan | Kecocokan daftar inventaris dengan barang serta kebutuhan perawatan |
| Awal semester | Kesiapan alat untuk kegiatan praktikum yang direncanakan |
Sesuaikan interval dengan frekuensi penggunaan, risiko, dan petunjuk produsen. Pemeriksaan visual tidak menggantikan pengujian atau kalibrasi yang diperlukan oleh alat tertentu.
Gunakan uraian yang spesifik, misalnya “kenop fokus tidak bergerak lancar” atau “kabel terkelupas”. Hindari hanya menulis “rusak” tanpa penjelasan.
Alat yang diduga tidak aman perlu dipisahkan dan diberi penanda agar tidak digunakan sebelum dinilai oleh petugas yang kompeten.
Catat tanggal laporan, tindakan yang direncanakan, pihak yang menangani, dan hasil pemeriksaan setelah perbaikan. Ketika alat kembali digunakan, perbarui kondisinya berdasarkan pemeriksaan, bukan sekadar karena alat sudah dikembalikan ke lemari.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir