KebonCinta.com - Listrik yang digunakan setiap hari dapat dihasilkan melalui berbagai sumber energi. Ada pembangkit yang memanfaatkan sinar Matahari, aliran air, atau angin. Namun, ada pula pembangkit yang menggunakan batu bara dan gas alam.
Meskipun sama-sama menghasilkan listrik, sumber energi tersebut memiliki karakteristik berbeda.
Perbedaan utamanya terletak pada ketersediaan sumber daya, cara pemanfaatan, dan dampaknya terhadap lingkungan.
Lantas, apa perbedaan energi terbarukan dan tidak terbarukan?
Energi terbarukan merupakan energi yang berasal dari sumber alam yang dapat diperbarui secara alami dalam rentang waktu yang relatif singkat dibandingkan kebutuhan manusia.
Baca Juga: Tertarik Magang di Museum? Kemenbud Buka Magang Kearsipan Batch 3, Mahasiswa D3-S1 Bisa Daftar!
Contohnya adalah energi Matahari, angin, air, panas bumi, dan biomassa yang dikelola secara berkelanjutan.
Panel surya dapat mengubah cahaya Matahari menjadi listrik melalui sel fotovoltaik.
Pembangkit listrik tenaga angin memanfaatkan gerakan udara untuk memutar turbin yang terhubung dengan generator.
Sementara itu, pembangkit listrik tenaga air menggunakan aliran atau jatuhan air untuk menggerakkan turbin.
Meskipun sumbernya dapat diperbarui, pembangkit energi terbarukan tetap membutuhkan infrastruktur dan pengelolaan lingkungan.
Energi tidak terbarukan berasal dari sumber daya yang persediaannya terbatas atau terbentuk kembali sangat lambat.
Contohnya adalah batu bara, minyak bumi, gas alam, dan uranium yang digunakan sebagai bahan bakar pembangkit nuklir.
Pada pembangkit berbahan bakar fosil, energi dari bahan bakar dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga yang kemudian digunakan dalam proses pembangkitan listrik.
Berbeda dengan energi terbarukan, cadangan bahan bakar tersebut dapat berkurang seiring pemakaian.
Baca Juga: Guru PPPK Berpeluang Ikut Seleksi CPNS 2027, Prioritas Guru Senior Belum Dipastikan
Energi terbarukan umumnya menghasilkan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah selama pengoperasian dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.
Namun, beberapa sumber seperti Matahari dan angin bergantung pada kondisi cuaca sehingga membutuhkan pengelolaan sistem kelistrikan yang sesuai.
Sebaliknya, pembangkit berbahan bakar fosil dapat menyediakan listrik sesuai kebutuhan selama bahan bakar tersedia, tetapi menghasilkan emisi dari proses pembakaran.
Kedua kelompok energi juga memiliki dampak lingkungan yang perlu diperhatikan.
Baca Juga: Syarat Penyembelihan Hewan Halal dalam Islam, Ini Aturan yang Wajib Dipahami Umat Muslim
Memahami perbedaannya membantu masyarakat mengenali pentingnya pengembangan energi bersih, efisiensi pembangkit, dan penggunaan listrik secara bertanggung jawab.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir