KebonCinta.com-- Pola asuh anak terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya kesehatan emosional dalam keluarga. Salah satu pendekatan yang banyak dibicarakan adalah gentle parenting, yaitu pola pengasuhan yang mengutamakan empati, komunikasi terbuka, dan penghormatan terhadap perasaan anak.
Pendekatan ini semakin dikenal, terutama di kalangan orang tua Milenial yang ingin membangun hubungan lebih dekat dengan anak tanpa mengandalkan bentakan atau hukuman sebagai cara utama untuk mendisiplinkan.
Dalam penerapannya, gentle parenting mengajak orang tua memahami alasan di balik perilaku anak sebelum menentukan respons. Ketika anak menangis, marah, atau menolak mengikuti arahan, orang tua didorong untuk membantu anak mengenali emosinya sekaligus menjelaskan perilaku yang dapat diterima.
Meski terdengar sederhana, menjalankan pola asuh ini tidak selalu mudah. Orang tua tetap perlu menetapkan aturan, mengajarkan tanggung jawab, dan menjaga konsistensi agar pendekatan yang lembut tidak disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas.
Baca Juga: Bukan Hanya Nilai di Sekolah, Ini 6 Cara Orang Tua Membantu Anak Lebih Percaya Diri dan Berprestasi
Gentle parenting merupakan pendekatan pengasuhan yang menempatkan hubungan antara orang tua dan anak sebagai proses belajar bersama. Anak dipandang sebagai individu yang memiliki perasaan, kebutuhan, dan pendapat, tetapi tetap memerlukan arahan dari orang dewasa.
Alih-alih langsung memarahi anak ketika melakukan kesalahan, orang tua berusaha mencari tahu penyebab perilakunya. Setelah itu, mereka membantu anak memahami akibat dari tindakannya dan menunjukkan cara yang lebih tepat untuk menyelesaikan masalah.
Sebagai contoh, ketika anak marah karena tidak diizinkan bermain gawai, orang tua dapat mengakui kekecewaannya tanpa harus mengubah aturan yang sudah dibuat.
Orang tua bisa mengatakan bahwa mereka memahami anak masih ingin bermain, tetapi waktu penggunaan gawai telah selesai. Dengan cara ini, perasaan anak tetap dihargai, sementara batasan yang ditetapkan tidak diabaikan.
Meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental dan perkembangan emosional anak ikut mendorong popularitas pola asuh ini. Banyak orang tua ingin membangun hubungan yang lebih terbuka dibandingkan pola pengasuhan yang mereka alami ketika kecil.
Data Pew Research Center pada 2023 menunjukkan bahwa 44 persen orang tua di Amerika Serikat ingin mengasuh anak dengan cara yang berbeda dari pola asuh yang mereka terima ketika masih kecil. Temuan ini memberikan gambaran tentang keinginan sebagian orang tua untuk mengevaluasi kembali cara mendidik anak antargenerasi.
Media sosial juga berperan dalam memperkenalkan gentle parenting kepada masyarakat luas. Berbagai konten menampilkan perbedaan antara respons orang tua yang langsung memarahi anak dan pendekatan yang berusaha memahami emosi sebelum memberikan arahan.
Meski demikian, popularitas di media sosial tidak otomatis membuktikan bahwa semua praktik gentle parenting efektif untuk setiap anak. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan usia, kebutuhan, kondisi keluarga, dan prinsip pengasuhan yang sehat.
Baca Juga: Mengapa Peran Ayah Penting bagi Anak Perempuan? Ini 7 Dampaknya bagi Tumbuh Kembang
Salah satu prinsip penting dalam gentle parenting adalah validasi emosi. Artinya, orang tua mengakui bahwa perasaan anak itu nyata dan layak didengarkan, meskipun perilaku yang muncul akibat perasaan tersebut belum tentu dapat diterima.
Misalnya, anak boleh merasa kesal ketika keinginannya tidak terpenuhi. Namun, ia tetap perlu belajar bahwa memukul, melempar barang, atau menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk mengekspresikan kemarahan.
Dalam situasi tersebut, orang tua dapat membantu anak menenangkan diri, menyebutkan perasaannya, lalu menjelaskan perilaku yang seharusnya dilakukan.
Pendampingan seperti ini memberi kesempatan kepada anak untuk belajar mengenali emosi dan mengembangkan cara yang lebih sehat dalam menghadapi kekecewaan.
Kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah anggapan bahwa orang tua yang menerapkan gentle parenting tidak boleh berkata tegas atau memberikan konsekuensi kepada anak.
Padahal, pengasuhan yang hangat tetap membutuhkan batasan yang jelas. Anak perlu mengetahui aturan, alasan di balik aturan tersebut, dan konsekuensi yang sesuai ketika melanggarnya.
Sebagai contoh, jika anak menolak membereskan mainan, orang tua dapat menjelaskan bahwa mainan perlu disimpan setelah digunakan. Jika anak kesulitan melakukannya sendiri, orang tua bisa mendampingi sambil secara bertahap mengajarkan tanggung jawab.
Ketegasan juga diperlukan ketika perilaku anak berisiko membahayakan dirinya atau orang lain. Dalam kondisi tersebut, orang tua perlu menghentikan tindakan yang berbahaya terlebih dahulu, kemudian memberikan penjelasan setelah situasi lebih tenang.
Dengan demikian, sikap lembut dan ketegasan bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersama untuk membantu anak memahami aturan sekaligus merasa dihargai.
Baca Juga: 7 Cara Merawat Kucing agar Sehat, Aktif, dan Bahagia di Rumah
Menerapkan pola asuh yang sabar dan penuh empati membutuhkan usaha. Orang tua juga menghadapi kelelahan, tekanan pekerjaan, persoalan rumah tangga, dan berbagai tuntutan lain yang dapat memengaruhi kemampuan mengendalikan emosi.
Ketika anak berulang kali menolak arahan atau mengalami ledakan emosi, orang tua mungkin kehilangan kesabaran dan kembali menggunakan cara yang sebenarnya ingin mereka hindari.
Kondisi tersebut tidak berarti seluruh usaha pengasuhan gagal. Hal yang penting adalah kemampuan orang tua untuk mengevaluasi responsnya, memperbaiki kesalahan, dan berusaha menerapkan pendekatan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Jika telanjur membentak anak, misalnya, orang tua dapat meminta maaf atas cara berbicaranya tanpa menghilangkan aturan yang perlu ditegakkan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir