Inspirasi
Tegar Bagus Pribadi

Goenawan Mohamad dan Perkembangan Esai dalam Sastra Indonesia

Goenawan Mohamad dan Perkembangan Esai dalam Sastra Indonesia

15 Oktober 2026 | 09:02

keboncinta.com – Goenawan Mohamad merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pemikiran dan perjalanan kesusastraan Indonesia modern. Sebelum gagasan-gagasan Goenawan dikenal luas, esai dalam wacana sastra Indonesia kerap hadir dalam bentuk yang kaku, didaktis, atau terlampau terikat pada metodologi akademis. Melalui ikhtiar kepenulisannya, khususnya lewat kumpulan esai Catatan Pinggir yang konsisten terbit sejak era 1970-an, ia menawarkan pendekatan yang sama sekali berbeda. Esai tidak lagi diposisikan sebagai panggung untuk menggurui, melainkan sebagai ruang kontemplasi yang terbuka. Ciri khas tulisan Goenawan terletak pada kemampuannya menyalin kerumitan politik, sosial, dan filsafat ke dalam kalimat-kalimat yang pendek, jernih, namun penuh sublimitas metafora.

Pengaruh besar Goenawan Mohamad terhadap perkembangan esai Indonesia terlihat pada keberhasilannya meruntuhkan sekat antara puisi dan prosa reflektif. Dalam setiap paragraf esainya, pilihan kata dan ritme kalimat dirangkai dengan kecermatan seorang penyair. Ia sering kali mengawali sebuah pembahasan bukan dari dalil-dalil besar, melainkan dari fragmen peristiwa kecil, sebuah kutipan puisi, atau fragmen mitologi, yang kemudian ditarik secara perlahan menuju perenungan universal mengenai kemanusiaan dan kebebasan.

Sebagai gambaran nyata dari karakteristik dan gaya kepenulisannya, salah satu contoh esai ikonik karya Goenawan Mohamad berjudul Tentang Puisi dan Politik menyajikan cara pandang yang sublim:

“Politik acapkali adalah urusan merebut masa depan dengan peta yang terburu-buru, sedangkan puisi adalah ingatan akan hal-hal yang sering terlewatkan dalam perjalanan itu. Dalam politik, manusia sering dibariskan dalam slogan-slogan yang seragam. Namun puisi datang untuk mengingatkan bahwa di balik barisan itu ada individu yang ragu, ada air mata yang tak sempat dicatat, dan ada keheningan yang tak bisa diwakili oleh pengeras suara. Sastra tidak bertujuan memenangkan pemilu, ia ada agar manusia tidak sepenuhnya kehilangan jiwa ketika kekuasaan sedang diperebutkan.”

Contoh di atas memperlihatkan bagaimana sebuah isu pelik mengenai hubungan antara sastra dan kekuasaan disampaikan tanpa kesan dogmatis. Goenawan tidak menyodorkan kesimpulan tunggal yang mutlak, melainkan membuka ruang bagi pembaca untuk berpikir, mempertanyakan kembali, dan merenung. Model kepenulisan seperti inilah yang menginspirasi generasi penulis esai setelahnya di Indonesia untuk berani mengeksplorasi bahasa yang lebih personal, reflektif, dan kaya akan alusi sastra.

Baca Juga: Putu Wijaya dan Eksperimen dalam Drama serta Prosa Indonesia 

Tags:
Goenawan Mohamad Sastra Indonesia Catatan Pinggir Esai Sastra

Komentar Pengguna