Pendidikan
Dewi Safitri

Hari Guru Sedunia 2026, Mengapa Profesi Guru Makin Kurang Dilirik Anak Muda?

Hari Guru Sedunia 2026, Mengapa Profesi Guru Makin Kurang Dilirik Anak Muda?

08 Oktober 2026 | 14:58

KebonCinta.com - Peringatan Hari Guru Sedunia setiap 5 Oktober tidak hanya menjadi momentum untuk mengapresiasi jasa pendidik. Di tengah perubahan orientasi karier generasi muda, peringatan tersebut juga dapat menjadi ruang untuk melihat kembali bagaimana profesi guru dipandang oleh generasi saat ini.

Jumlah mahasiswa yang memilih program studi kependidikan memang masih cukup tinggi. Namun, pilihan untuk kuliah di bidang pendidikan tidak selalu berakhir dengan keinginan menjadi guru. Setelah lulus, sebagian memilih berkarier di sektor perbankan, BUMN, perusahaan rintisan, hingga industri kreatif.

Baca Juga: Guru Non-PNS Jadi Salah Satu yang Berpeluang Ikut Beasiswa Moderasi Beragama 2026, Cek Ketentuan Pesertanya 

Fenomena tersebut pada dasarnya bukan persoalan. Lulusan pendidikan memiliki kebebasan untuk memilih jalur karier sesuai kompetensi dan minatnya. Namun, kondisi menjadi penting ketika profesi guru justru diposisikan sebagai pilihan alternatif setelah peluang di sektor lain tidak sesuai harapan.

Dosen sekaligus Koordinator Program Studi S-1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Putri Rachmadyanti, menilai perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran cara generasi muda melihat profesi guru.

Baca Juga: Guru Non-PNS Jadi Salah Satu yang Berpeluang Ikut Beasiswa Moderasi Beragama 2026, Cek Ketentuan Pesertanya 

Profesi guru kini tidak cukup ditawarkan melalui narasi pengabdian. Generasi muda juga mempertimbangkan kesejahteraan, lingkungan kerja, kesempatan berkembang, jenjang karier, hingga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan.

Pandangan tersebut menjadi relevan karena guru bukan sekadar penyampai materi pembelajaran. Terutama pada jenjang sekolah dasar, guru ikut membangun fondasi karakter, kemampuan sosial, cara berpikir, serta kebiasaan belajar peserta didik.

Baca Juga: Guru Pamong PPG Wajib Tahu! Pendaftaran Pelatihan Teknis 2026 Dibuka, Ini Syarat Lengkapnya 

Di sisi lain, perkembangan kecerdasan artifisial (AI) justru semakin memperjelas fungsi yang tidak mudah digantikan teknologi. AI dapat membantu menyediakan informasi dan menyelesaikan pekerjaan teknis dalam waktu singkat, tetapi proses pendidikan tetap membutuhkan manusia yang mampu membangun empati, daya kritis, karakter, keteladanan, dan kemampuan mengambil keputusan secara etis.

Karena itu, keberadaan AI tidak semestinya diposisikan sebagai ancaman bagi profesi guru. Teknologi justru dapat membuat peran guru bergeser dari sekadar sumber informasi menjadi pendamping peserta didik dalam memahami, menilai, dan menggunakan informasi secara kritis serta bertanggung jawab.

Persoalannya kemudian bukan sekadar bagaimana mengajak anak muda menjadi guru, tetapi bagaimana menciptakan kondisi yang membuat mereka ingin menjadi guru.

Jika profesi tersebut ingin kembali menjadi pilihan utama, kesejahteraan tidak dapat dipahami sebatas penghasilan. Perlindungan hukum, beban kerja yang proporsional, lingkungan kerja yang sehat, pengembangan kompetensi, serta jenjang karier yang jelas juga menjadi bagian dari daya tarik profesi.

Hari Guru Sedunia akhirnya bukan hanya tentang memberikan penghormatan kepada mereka yang telah berdiri di depan kelas. Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan sangat bergantung pada apakah profesi guru mampu menarik generasi terbaik untuk memilihnya dengan kesadaran, bukan sekadar karena tidak ada pilihan lain.

Tags:
Guru Profesi Guru hari guru sedunia 2026 Hari Guru Sedunia

Komentar Pengguna