Kesehatan
Hilmi An Naufal

Hari Osteoporosis Nasional 2026, Perwatusi Ingatkan Keropos Tulang Bisa Terjadi Tanpa Gejala

Hari Osteoporosis Nasional 2026, Perwatusi Ingatkan Keropos Tulang Bisa Terjadi Tanpa Gejala

25 Oktober 2026 | 21:47

KebonCinta.com — Perkumpulan Warga Tulang Sehat Indonesia (Perwatusi) mengingatkan masyarakat tentang pentingnya pencegahan osteoporosis atau keropos tulang sejak usia muda.

Peringatan tersebut disampaikan dalam rangka Hari Osteoporosis Nasional (HON) 2026 yang dipusatkan di Jawa Barat.

Berdasarkan laporan ANTARA pada Minggu (25/10/2026), osteoporosis menjadi perhatian karena penurunan kepadatan tulang dapat berlangsung tanpa menimbulkan gejala yang mudah dikenali.

Kondisi tersebut membuat sebagian penderita baru mengetahui masalah kesehatan tulangnya setelah mengalami patah tulang.

Dokter spesialis ortopedi sekaligus Ketua DPC Perwatusi Kota Cirebon, Lusiana S. Yulianti, menjelaskan persoalan tersebut dalam konferensi pers di Bandung pada Sabtu (24/10/2026).

OSTEOPOROSIS DIKENAL SEBAGAI SILENT DISEASE

Baca Juga: Kemnaker Buka Pelatihan Green Skills Gratis, Kuota 100 Peserta dan E-Sertifikat, Daftar hingga 20 November 2026 

Osteoporosis merupakan kondisi ketika kekuatan tulang menurun sehingga risiko terjadinya patah tulang meningkat.

Penyakit ini sering dijuluki silent disease karena dapat berkembang tanpa keluhan yang jelas.

Pada sebagian orang, masalah baru terdeteksi ketika terjadi patah tulang setelah benturan atau jatuh yang relatif ringan.

Sebelum berkembang menjadi osteoporosis, seseorang dapat mengalami osteopenia, yaitu kondisi berkurangnya kepadatan mineral tulang yang belum mencapai kriteria osteoporosis.

Tidak semua orang dengan osteopenia akan mengalami osteoporosis.

Namun, kondisi tersebut dapat menjadi alasan untuk melakukan evaluasi faktor risiko dan memperbaiki kebiasaan hidup.

PEREMPUAN PASCAMENOPAUSE LEBIH RENTAN

Dalam penjelasannya, Lusiana menyampaikan bahwa perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami osteoporosis, terutama setelah menopause.

Penurunan hormon estrogen menjadi salah satu faktor yang berperan terhadap berkurangnya kepadatan tulang.

Risiko juga dipengaruhi usia, riwayat keluarga, kondisi medis tertentu, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, serta pemenuhan kebutuhan gizi.

Karena itu, pencegahan tidak sebaiknya baru dimulai ketika seseorang memasuki usia lanjut.

Kebiasaan menjaga kesehatan tulang perlu dibangun sejak masa pertumbuhan.

PENTINGNYA AKTIVITAS FISIK DAN NUTRISI

Perwatusi menekankan pentingnya menjaga kesehatan tulang melalui aktivitas fisik dan pemenuhan nutrisi.

Aktivitas yang sesuai dapat membantu mempertahankan kekuatan otot, keseimbangan tubuh, dan kesehatan tulang.

Latihan pembebanan dan penguatan otot termasuk kegiatan yang dapat bermanfaat jika dilakukan dengan intensitas yang sesuai kondisi kesehatan.

Selain itu, pemenuhan kebutuhan kalsium, vitamin D, dan zat gizi lain juga berperan dalam menjaga kesehatan tulang.

Masyarakat perlu memperoleh sumber nutrisi dari makanan yang beragam serta mengikuti anjuran tenaga kesehatan apabila membutuhkan pemeriksaan atau penanganan khusus.

Bagi lansia atau orang yang telah mengalami osteoporosis, jenis latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi fisik untuk mengurangi risiko jatuh maupun cedera.

PERWATUSI KEMBANGKAN EDUKASI DIGITAL

Ketua Umum DPP Perwatusi, Anita A. Hutagalung, menyampaikan bahwa pencegahan dini menjadi salah satu perhatian utama organisasi tersebut.

Perwatusi mengembangkan kegiatan edukasi bagi berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia.

Salah satu kegiatan yang diperkenalkan adalah latihan fisik terukur, termasuk chair exercise atau senam menggunakan kursi.

Perwatusi juga melaksanakan program senam virtual yang dilaporkan telah mencapai 925 episode.

Kegiatan tersebut menjangkau peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan sejumlah wilayah luar negeri.

Organisasi juga menargetkan pengembangan 500 instruktur berkompetensi setiap tahun untuk memperluas penyebaran informasi kesehatan tulang.

PUNCAK HARI OSTEOPOROSIS NASIONAL DI BANDUNG

Perwatusi menjadwalkan puncak peringatan Hari Osteoporosis Nasional 2026 pada Minggu (25/10/2026) di Bale Rame, Kabupaten Bandung.

Kegiatan tersebut mengusung tema Mendampingi Indonesia Bertulang Kuat.

Berdasarkan keterangan penyelenggara yang dilaporkan ANTARA, acara mencakup senam tulang sehat, edukasi medis interaktif, serta diskusi mengenai pencegahan osteoporosis.

Sekitar 3.000 peserta diperkirakan menghadiri kegiatan tersebut menurut rencana penyelenggara.

Jumlah itu merupakan perkiraan sebelum pelaksanaan, bukan angka kehadiran akhir yang telah diverifikasi.

KAPAN PERLU MEMERIKSA KESEHATAN TULANG?

Masyarakat yang mempunyai faktor risiko osteoporosis disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Pemeriksaan kepadatan mineral tulang dapat dipertimbangkan berdasarkan usia, kondisi medis, riwayat patah tulang, serta faktor risiko lainnya.

Pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai kebutuhan pencegahan maupun penanganan.

Melalui peringatan Hari Osteoporosis Nasional 2026, masyarakat diajak meningkatkan perhatian terhadap kesehatan tulang sejak dini.

Pencegahan diharapkan membantu masyarakat menjaga mobilitas, mengurangi risiko patah tulang, dan mempertahankan kemandirian pada usia lanjut.

Tags:
Hari Osteoporosis Nasional 2026 osteoporosis keropos tulang Perwatusi kesehatan tulang pencegahan osteoporosis kesehatan lansia senam tulang sehat Lusiana Yulianti kesehatan Jawa Barat

Komentar Pengguna