Khazanah
Rahman Abdullah

Hari Santri Nasional 22 Oktober, Menelusuri Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan

Hari Santri Nasional 22 Oktober, Menelusuri Peran Ulama dan Santri dalam Perjuangan Kemerdekaan

20 Oktober 2026 | 13:38

KebonCinta.com-- Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar perayaan tahunan. Momentum ini menjadi pengingat bahwa santri dan ulama pesantren turut mengambil bagian penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama ketika bangsa yang baru merdeka kembali menghadapi ancaman penjajahan.

Peringatan Hari Santri Nasional secara resmi ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Penetapan tersebut menjadi bentuk pengakuan negara terhadap kontribusi kalangan pesantren dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Salah satu peristiwa yang melatarbelakangi pemilihan tanggal 22 Oktober adalah Resolusi Jihad yang diserukan para ulama pada 1945. Seruan tersebut mendorong umat Islam untuk ikut mempertahankan kemerdekaan ketika pasukan Sekutu dan Belanda kembali hadir di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Baca Juga: Mengapa Hari Santri Diperingati Setiap 22 Oktober? Ini Sejarah dan Makna Pentingnya 

Resolusi Jihad Menjadi Bagian Penting Sejarah Hari Santri

Untuk memahami makna Hari Santri, masyarakat perlu melihat kembali situasi Indonesia setelah kemerdekaan. Pada masa itu, bangsa Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari ancaman kekuatan asing yang berusaha mengembalikan kekuasaan kolonial.

Di tengah keadaan tersebut, para ulama mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Seruan yang berkaitan erat dengan peran KH Hasyim Asy’ari itu menegaskan pentingnya mempertahankan kemerdekaan dan mendorong umat Islam mengambil bagian dalam perjuangan.

Resolusi Jihad kemudian menjadi salah satu faktor yang menguatkan semangat perlawanan masyarakat, khususnya di Jawa Timur. Seruan tersebut juga memperlihatkan bahwa pesantren tidak hanya berperan sebagai pusat pendidikan agama, tetapi turut menjadi bagian dari gerakan sosial dan perjuangan kebangsaan.

Bagi para santri, mempertahankan tanah air dipandang sebagai tanggung jawab yang berkaitan dengan nilai agama, kehormatan, dan keberlangsungan kehidupan bangsa.

Perjuangan Santri dan Hubungannya dengan Pertempuran Surabaya

Semangat yang tumbuh setelah Resolusi Jihad memiliki hubungan historis dengan perlawanan rakyat Surabaya pada November 1945. Pertempuran yang mencapai puncaknya pada 10 November itu menjadi salah satu episode paling dikenang dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Rakyat dari berbagai latar belakang bergabung menghadapi pasukan Sekutu yang datang ke Surabaya. Di tengah perlawanan tersebut, semangat yang disuarakan para ulama ikut memperkuat tekad masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan.

Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu alasan penting mengapa Hari Santri pada 22 Oktober memiliki keterkaitan makna dengan Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November.

Kedua peringatan tersebut memang memiliki latar sejarah masing-masing. Namun, keduanya sama-sama mengingatkan masyarakat tentang keberanian, pengorbanan, dan persatuan berbagai kelompok dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Apa Itu Bahtsul Masail di Pesantren? Pengertian, Proses, dan Manfaatnya bagi Santri 

Laskar Hizbullah dan Keterlibatan Pemuda Pesantren

Peran santri dalam perjuangan tidak hanya terlihat melalui seruan para ulama. Keterlibatan pemuda berlatar belakang pesantren juga tercermin dalam sejarah pembentukan Laskar Hizbullah pada masa pendudukan Jepang.

Organisasi tersebut dibentuk pada akhir 1944 sebagai wadah pemuda Islam yang memperoleh pelatihan militer. Keberadaan Laskar Hizbullah menjadi bagian dari perkembangan kekuatan bersenjata yang kemudian terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Setelah Indonesia merdeka, sejumlah anggota laskar tersebut ikut berjuang menghadapi ancaman terhadap Republik Indonesia. Pengalaman dan pelatihan yang mereka peroleh menjadi bekal dalam menghadapi situasi keamanan yang terus berkembang.

Kisah Laskar Hizbullah memperlihatkan bahwa kontribusi kalangan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan hadir melalui berbagai bentuk, mulai dari seruan keagamaan, pengorganisasian masyarakat, hingga keterlibatan langsung dalam perlawanan.

Makna Tema Hari Santri bagi Generasi Masa Kini

Tema Hari Santri yang pernah digunakan, yaitu “Santri Siaga Jiwa dan Raga”, mengandung pesan mengenai kesiapan santri untuk menjaga persatuan, membela bangsa, dan berkontribusi bagi kehidupan masyarakat.

Makna siaga tidak hanya berkaitan dengan kesiapan menghadapi ancaman secara fisik. Dalam kehidupan sekarang, nilai tersebut juga dapat diwujudkan melalui keteguhan moral, kedisiplinan, kepedulian sosial, serta kemampuan menghadapi tantangan zaman.

Pendidikan pesantren membekali santri dengan ilmu agama dan pembentukan akhlak. Nilai-nilai seperti kesederhanaan, tanggung jawab, kesantunan, dan kebersamaan dapat menjadi modal untuk mengambil peran positif dalam masyarakat.

Santri masa kini juga menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi pejuang kemerdekaan. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, serta kebutuhan meningkatkan kualitas pendidikan menuntut mereka untuk terus belajar dan memperluas kemampuan.

Dengan demikian, semangat perjuangan para pendahulu dapat diteruskan melalui karya, pendidikan, pengabdian, dan upaya menjaga kerukunan di tengah keberagaman Indonesia.

Baca Juga: Cara Membuat Sertifikat Lomba Hari Santri di Canva, Lengkap dengan Contoh Teksnya 

Hari Santri Menjadi Pengingat untuk Menjaga Warisan Perjuangan

Peringatan Hari Santri Nasional merupakan kesempatan untuk mengenang jasa para ulama, santri, dan masyarakat yang ikut mempertahankan kemerdekaan. Lebih dari itu, peringatan ini mengajak generasi muda memahami bahwa kemerdekaan merupakan hasil perjuangan bersama yang perlu dijaga.

Warisan perjuangan tersebut tidak cukup hanya dikenang melalui upacara atau kegiatan seremonial. Nilai-nilainya perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menghargai perbedaan, menjaga persatuan, menuntut ilmu, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Melalui peringatan setiap 22 Oktober, masyarakat diharapkan semakin memahami posisi pesantren dalam sejarah Indonesia.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:
Hari Santri resolusi jihad Laskar Hizbullah

Komentar Pengguna