KebonCinta.com β Pengembangan hidrogen mulai mendapat perhatian lebih besar sebagai salah satu bagian dari masa depan energi Indonesia.
Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian dan industri membahas peluang tersebut dalam Hydrogen Day 2026 di Institut Teknologi Bandung.
Kegiatan berlangsung di Aula Timur ITB dengan tema Driving The Future with Hydrogen.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menilai Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan natural hydrogen atau hidrogen alami.
Hidrogen alami berbeda dengan hidrogen yang diproduksi melalui proses industri.
Sumber tersebut terbentuk secara alami di bawah permukaan bumi dan keberadaannya masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Indonesia mulai mengkaji sejumlah wilayah yang berpotensi memiliki sumber daya tersebut.
Salah satu kawasan yang mendapatkan perhatian adalah Sulawesi Tengah.
Kajian dilakukan melalui kolaborasi Pertamina Hulu Energi, akademisi dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Peneliti masih membutuhkan pengambilan sampel bawah permukaan untuk mengetahui karakter sumber daya secara lebih mendalam.
Stella menekankan bahwa penelitian harus menjadi fondasi sebelum pengembangan masuk ke tahap lebih besar.
βKita perlu research. Research ini perlu regulasi. Research juga perlu financing,β ujarnya.
Menurutnya, penelitian, aturan dan pembiayaan harus berjalan beriringan agar teknologi dapat berkembang dari laboratorium menuju pemanfaatan.
Pemerintah juga melihat peluang ekonomi dari pengembangan hidrogen.
Apabila sumber daya dapat dibuktikan layak secara ilmiah dan ekonomis, Indonesia berpotensi ikut masuk dalam rantai industri energi hidrogen dunia.
Tidak hanya hidrogen alami, Indonesia juga mulai mengembangkan green hydrogen.
Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menyebut lebih dari 23 lokasi telah diidentifikasi bersama PLN.
Green hydrogen umumnya dihasilkan melalui proses elektrolisis menggunakan energi yang berasal dari sumber rendah emisi atau terbarukan.
Produksi saat ini disebut telah mencapai sekitar 200 ton per tahun dan diharapkan meningkat.
Namun teknologi hidrogen masih menghadapi sejumlah tantangan.
Biaya produksi, infrastruktur penyimpanan, transportasi, regulasi hingga kepastian pasar perlu diperhitungkan.
Karena itu, kerja sama antara kampus dan industri dinilai penting.
Perguruan tinggi dapat berperan melakukan penelitian dan menghasilkan teknologi.
Pemerintah menyediakan kerangka kebijakan, sementara industri diperlukan untuk membawa teknologi menuju tahap produksi dan penggunaan.
Pengembangan hidrogen juga berkaitan dengan kebutuhan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dalam jangka panjang.
Sektor transportasi dan industri merupakan beberapa bidang yang berpotensi memanfaatkan hidrogen apabila teknologinya berkembang secara ekonomis.
Meski demikian, masyarakat perlu memahami bahwa potensi hidrogen alami Indonesia masih membutuhkan pembuktian ilmiah.
Temuan potensi bukan berarti sumber energi tersebut dapat langsung diproduksi secara komersial.
Tahapan eksplorasi, penelitian dan pengujian masih harus dilakukan.
Hydrogen Day 2026 menjadi salah satu forum untuk mempertemukan pihak-pihak yang dibutuhkan dalam proses tersebut.
Jika riset dan investasi berjalan sesuai harapan, hidrogen dapat menjadi salah satu komponen penting dalam pengembangan energi Indonesia di masa mendatang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir