Amalan berikutnya adalah menggunakan wewangian sebelum berangkat ke masjid, terutama bagi jamaah laki-laki, agar tubuh tetap harum dan tidak mengganggu orang lain.
Dalam hadis yang diriwayatkan Ibnu Hibban, Rasulullah SAW menyebutkan sejumlah amalan terkait shalat Jumat, di antaranya mandi, mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian jika tersedia, tidak melangkahi pundak jamaah, dan menyimak khutbah dengan tenang.
Hadis tersebut menjelaskan keutamaan rangkaian amalan itu sebagai sebab penghapusan dosa di antara dua Jumat, sebagaimana diterangkan dalam sumber rujukan.
Gunakan parfum secukupnya dan pilih aroma yang tidak terlalu menyengat. Tujuannya bukan untuk menarik perhatian, melainkan menjaga kebersihan serta kenyamanan bersama selama berada di masjid.
Perjalanan menuju masjid dapat menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak ibadah. Daripada menghabiskannya dengan percakapan yang tidak perlu atau aktivitas yang kurang bermanfaat, seseorang dapat mengisinya dengan zikir, doa, dan membaca Al-Qur'an jika memungkinkan.
Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fath al-Mu'in menganjurkan agar seseorang menyibukkan diri dengan bacaan Al-Qur'an atau zikir selama perjalanan menuju tempat shalat dan ketika berada di sana.
Amalan ini membantu menyiapkan hati agar lebih tenang sebelum ibadah dimulai. Dengan demikian, seseorang tidak hanya hadir secara fisik di masjid, tetapi juga berusaha memusatkan perhatian kepada Allah SWT.
Tetap perhatikan keselamatan selama perjalanan. Jika sedang berkendara, jangan membaca teks atau melakukan aktivitas yang mengalihkan perhatian dari jalan.
Baca Juga: Tata Cara Puasa Ayyamul Bidh, Lengkap dengan Niat, Waktu Berpuasa, dan Ketentuan Khusus Dzulhijjah
Islam mengajarkan adab dalam berbagai kegiatan sehari-hari, termasuk ketika memasuki tempat ibadah. Salah satu adab yang dianjurkan adalah mendahulukan kaki kanan saat masuk masjid.
Sebaliknya, ketika keluar dari masjid, seseorang dianjurkan mendahulukan kaki kiri. Kebiasaan ini merupakan bagian dari adab yang dibahas dalam literatur fikih dan dikaitkan dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW.
Walaupun terlihat sederhana, membiasakan adab tersebut menjadi salah satu cara untuk menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memperhatikan langkah kaki, jamaah juga sebaiknya masuk dengan tertib, tidak berdesakan, serta menjaga ketenangan agar tidak mengganggu orang yang sudah beribadah di dalam masjid.
Setelah masuk masjid, jamaah dianjurkan melaksanakan shalat Tahiyyatul Masjid sebanyak dua rakaat sebelum duduk.
Anjuran ini berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang memerintahkan orang yang memasuki masjid untuk melaksanakan dua rakaat sebelum duduk.
Dalam penjelasan fikih yang dikutip pada sumber, amalan ini juga dibahas bagi orang yang datang ketika khatib sudah berada di mimbar. Shalat tetap dianjurkan dalam keadaan tersebut, dengan pelaksanaan yang ringkas dan tidak lebih dari dua rakaat.
Namun, ada keadaan yang perlu diperhatikan. Jika seseorang yang baru datang menjelang akhir khutbah memperkirakan shalat tersebut akan membuatnya tertinggal takbiratul ihram bersama imam, sumber menjelaskan bahwa ia tidak perlu melaksanakannya dan tetap berdiri hingga shalat dimulai.
Karena itu, jamaah sebaiknya datang lebih awal agar memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan shalat sunnah tanpa tergesa-gesa.
Ketika khatib mulai menyampaikan khutbah, jamaah dianjurkan untuk diam dan menyimak dengan sungguh-sungguh. Hindari mengobrol, bercanda, atau melakukan aktivitas yang mengalihkan perhatian dari isi khutbah.
Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa menegur teman dengan mengatakan “diam” ketika imam sedang berkhutbah pun termasuk perkataan yang sia-sia.
Hadis ini menunjukkan pentingnya menjaga lisan selama khutbah berlangsung. Bahkan, teguran kepada orang lain sebaiknya tidak dilakukan dengan cara yang justru mengganggu jamaah.
Menyimak khutbah bukan hanya soal menjaga ketenangan di masjid. Jamaah juga perlu berusaha memahami nasihat yang disampaikan agar pesan keagamaan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Amalan terakhir yang disebutkan dalam sumber adalah menempuh jalan yang berbeda ketika menuju tempat shalat dan saat kembali. Dalam penjelasan Syekh Zainuddin al-Malibari, perjalanan menuju tempat shalat dianjurkan dilakukan dengan berjalan kaki secara tenang melalui jalan yang lebih jauh, kemudian pulang melalui jalan lain yang lebih dekat.
Amalan ini dapat dilakukan jika kondisi dan jarak memungkinkan. Tentu saja, keselamatan, kesehatan, dan keadaan lingkungan tetap perlu menjadi pertimbangan.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir