KebonCinta.com-- Memasuki usia lanjut, menjaga kesehatan otak menjadi hal yang tidak kalah penting dibandingkan merawat kebugaran tubuh. Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah berolahraga secara rutin. Menariknya, olahraga raket seperti tenis, tenis meja, dan pickleball disebut memiliki manfaat untuk membantu mempertahankan kemampuan kognitif.
Penurunan fungsi otak dapat terjadi seiring bertambahnya usia. Jika tidak diimbangi dengan kebiasaan hidup sehat, seseorang berisiko mengalami gangguan kognitif yang dapat memengaruhi daya ingat dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Karena itu, aktivitas fisik menjadi salah satu kebiasaan yang layak dipertimbangkan untuk mendukung kesehatan otak.
Baca Juga: Kabar Guru 2027, PPPK Paruh Waktu Direncanakan Jadi Penuh Waktu, Simak Aturan dan Jadwalnya
Dr. Avinish Reddy, seorang dokter yang berfokus pada kesehatan dan umur panjang, menyoroti olahraga raket sebagai salah satu aktivitas yang menarik untuk menjaga fungsi otak. Jenis olahraga ini menuntut pemain untuk terus memperhatikan arah bola sekaligus mengatur gerakan tubuh dengan cepat.
Ketika bola bergerak ke berbagai arah, pemain harus memproses informasi visual, memperkirakan lintasan bola, kemudian menggerakkan tangan dan tubuh sesuai kebutuhan. Rangkaian aktivitas tersebut melibatkan koordinasi mata dan tangan, keterampilan yang berperan penting dalam berbagai kegiatan sehari-hari.
Kemampuan koordinasi ini juga penting ketika seseorang melakukan aktivitas seperti mengemudi, mengambil benda, atau menjangkau sesuatu. Harvard Health Publishing menyoroti pentingnya koordinasi mata dan tangan dalam menunjang aktivitas tersebut.
Bermain tenis maupun tenis meja bukan sekadar mengandalkan kekuatan fisik. Pemain juga perlu berkonsentrasi, memperkirakan pergerakan bola, serta menentukan respons dalam waktu singkat.
Jennifer Packard, seorang terapis okupasi, menjelaskan bahwa olahraga raket melibatkan kemampuan mengendalikan gerakan, termasuk ketika objek yang hendak dijangkau berada di luar bidang penglihatan langsung. Latihan semacam ini dapat membantu menstimulasi keterampilan motorik dan koordinasi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, olahraga raket bukan jaminan seseorang terhindar dari demensia atau penyakit Alzheimer. Aktivitas fisik sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari pola hidup sehat yang mendukung kesehatan tubuh dan otak.
Manfaat olahraga raket tidak berhenti pada gerakan tubuh dan koordinasi. Karena umumnya dimainkan bersama orang lain, aktivitas ini juga membuka kesempatan untuk bersosialisasi.
Bertemu teman, bergabung dengan komunitas olahraga, atau bermain secara berpasangan dapat membantu seseorang tetap aktif dalam kehidupan sosialnya. Hubungan sosial yang baik dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis, rasa bahagia, dan kualitas hidup yang lebih baik.
Bagi orang yang memasuki usia lanjut, kesempatan untuk tetap berinteraksi dengan orang lain menjadi hal penting. Olahraga dapat menjadi cara yang menyenangkan untuk menggabungkan aktivitas fisik dan interaksi sosial dalam satu kegiatan.
Tidak perlu langsung bermain dengan intensitas tinggi untuk memulai kebiasaan ini. Pilih jenis olahraga yang disukai, sesuaikan durasi dengan kondisi tubuh, dan tingkatkan aktivitas secara bertahap.
Bagi lansia atau orang yang memiliki keterbatasan gerak, sebaiknya pilih permainan dengan intensitas ringan dan perhatikan keamanan saat bergerak. Jika memiliki penyakit tertentu atau sudah lama tidak berolahraga, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan aktivitas yang sesuai.
Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu Januari 2027 Tanpa Tes Ulang, Benarkah Berlaku untuk Semua?
Pada akhirnya, menjaga kesehatan otak tidak harus selalu dilakukan dengan cara yang rumit. Olahraga raket bisa menjadi alternatif yang menyenangkan karena memadukan gerakan fisik, latihan koordinasi, konsentrasi, dan kesempatan bersosialisasi.
Dengan menjadikannya bagian dari rutinitas serta menerapkan pola hidup sehat secara menyeluruh, seseorang dapat berupaya menjaga kebugaran dan mendukung fungsi otak seiring bertambahnya usia.***
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir