KebonCinta.com - Setelah membaca cerita panjang tentang persoalan pribadi, AI dapat memberikan respons yang tertata, kalimat menenangkan, hingga saran langkah berikutnya. Jawaban seperti ini bisa membuat pengguna merasa sedang berbicara dengan konselor.
Namun, kemiripan gaya bahasa belum berarti percakapan tersebut setara dengan konsultasi psikolog. Ada perbedaan antara mendapatkan respons yang terasa membantu dan menjalani proses profesional untuk memahami persoalan psikologis.
Dalam bahan pemberitaan Republika, pakar psikologi klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Muhammad Arif Rizai, menjelaskan bahwa AI dapat memfasilitasi kebutuhan mengekspresikan perasaan secara instan.
Meski demikian, persoalan mendalam dan kompleks membutuhkan proses terapeutik yang tidak bisa digantikan oleh AI.
AI generatif menyusun jawaban berdasarkan pola bahasa dan informasi yang tersedia dalam percakapan. Responsnya dapat terdengar meyakinkan, tetapi kelancaran menjawab tidak memastikan bahwa kondisi pengguna telah dipahami secara tepat.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa AI dapat membantu mengorganisasi pikiran atau menyusun pertanyaan sebelum konsultasi.
Namun, AI bukan sarana yang akurat untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mental. Diagnosis membutuhkan asesmen menyeluruh yang mempertimbangkan berbagai faktor, riwayat, situasi, dan pengalaman individu.
Sebagai contoh, keluhan sulit berkonsentrasi belum cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan tertentu. Dalam konsultasi, keluhan tersebut perlu ditelusuri bersama informasi lain agar penilaiannya tidak terburu-buru.
Baca Juga: Cara Memanfaatkan Kecerdasan Buatan Tanpa Kehilangan Sentuhan Manusiawimu
Arif menyoroti keterbatasan AI dalam memahami nilai, keyakinan, serta pengalaman hidup seseorang secara utuh. Informasi tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memaknai masalah dan menentukan kebutuhan bantuan.
Menurut APA, asesmen profesional mempertimbangkan beragam informasi verbal dan nonverbal, termasuk nada suara, ekspresi, serta konteks biologis, psikologis, dan sosial. Percakapan chatbot dapat melewatkan sebagian informasi penting tersebut, bergantung pada masukan yang diterimanya.
Karena itu, dua orang dengan keluhan serupa belum tentu membutuhkan pendekatan yang sama. Konsultasi memberi ruang untuk menggali perbedaan tersebut melalui pertanyaan dan klarifikasi.
Baca Juga: Kecerdasan Buatan dan Krisis Identitas: Apa yang Tersisa Jika AI Bisa Melakukan Segalanya?
Perasaan lega setelah bercerita tetap dapat berarti bagi pengguna. Namun, rasa nyaman sesaat tidak cukup untuk menilai apakah saran yang diberikan sesuai dengan kebutuhan jangka panjang.
APA menegaskan bahwa chatbot AI generatif tidak seharusnya menggantikan tenaga kesehatan mental yang berkualifikasi. Dukungan digital dapat ditempatkan sebagai pelengkap dalam hubungan terapeutik yang sedang berlangsung.
Dalam praktiknya, AI bisa membantu merapikan catatan tentang hal yang ingin dibahas. Catatan itu kemudian dibawa ke konsultasi untuk ditelaah bersama psikolog.
Dengan menempatkan AI sebagai alat bantu, pengguna dapat memanfaatkan kemudahannya sekaligus memahami bahwa respons yang menyerupai konselor belum mencakup keseluruhan proses konsultasi profesional.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir