Pendidikan
Tegar Bagus Pribadi

Kata Depan “di” dan Awalan “di-”: Mengapa Sering Tertukar?

Kata Depan “di” dan Awalan “di-”: Mengapa Sering Tertukar?

12 Oktober 2026 | 10:14

keboncinta.com – Akar dari kebingungan tersebut bermula dari wujud fisik keduanya yang sama persis saat diucapkan, namun memiliki status tata bahasa dan fungsi yang bertolak belakang. Secara konseptual, kita harus membedakan antara unsur yang berdiri sendiri dan unsur yang menempel untuk membentuk kata baru. Ketika kita berbicara tentang kata depan, kita sedang membahas sebuah kata utuh yang memiliki tugas penunjuk yang independen. Sebaliknya, ketika kita berbicara tentang awalan, kita sedang membahas sebuah partikel pembentuk kata yang tidak memiliki makna mandiri jika tidak disandarkan pada kata lain. Pemahaman atas fungsi dasar inilah yang menjadi kunci utama untuk melepaskan diri dari kebiasaan salah tulis yang sudah terlanjur mengakar.

Mari kita bedah fungsi yang pertama, yaitu "di" sebagai kata depan atau preposisi. Sebagai kata depan, "di" berfungsi untuk menunjukkan arah, tempat, atau lokasi keberadaan suatu benda maupun peristiwa. Aturan baku yang harus selalu diingat adalah kata depan "di" wajib ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Kata yang mengikuti preposisi ini hampir selalu berupa kata benda yang merujuk pada keterangan tempat atau ruang. Sebagai contoh, dalam kalimat "Siswa-siswi sedang mendengarkan pengarahan guru di bengkel praktik," penulisan "di" dan "bengkel" harus dipisah karena bengkel adalah keterangan tempat. Contoh lainnya yang sering digunakan adalah "di ruang kelas", "di sekolah", "di atas meja", atau "di Jakarta". Spasi yang memisahkan "di" dan kata tempat tersebut merupakan simbol tata bahasa yang menegaskan bahwa "di" adalah kata yang mandiri.

Kondisi yang sangat berbeda berlaku untuk "di-" sebagai awalan atau prefiks. Dalam kapasitasnya sebagai awalan, "di-" berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif, yaitu kata kerja yang subjeknya dikenai suatu tindakan, keadaan, atau pekerjaan. Karena statusnya hanyalah sebagai imbuhan pembentuk kata, maka penulisannya wajib dirangkai atau digabung secara langsung dengan kata dasar yang mengikutinya. Kata dasar yang melekat pada awalan ini umumnya adalah kata kerja aktif. Perhatikan contoh kalimat "Buku panduan penulisan esai itu dibaca oleh para murid dengan saksama." Penulisan "dibaca" harus disatukan tanpa spasi karena "baca" adalah kata kerja dasar yang diubah menjadi bentuk pasif oleh awalan "di-". Contoh lain yang sering kita jumpai dalam teks deskripsi atau laporan adalah "ditulis", "diamati", "dilihat", dan "dikerjakan". Kesatuan penulisan ini menandakan bahwa imbuhan dan kata dasar telah melebur menjadi satu kata kerja utuh yang baru.

Lantas, mengapa kesalahan penulisan antara kedua fungsi ini masih sangat sering terjadi di masyarakat? Selain karena bunyi fonetisnya yang sama persis saat dibaca keras, kebiasaan mengetik cepat di media sosial dan aplikasi pesan singkat turut menyumbang andil yang sangat besar. Dalam komunikasi informal sehari-hari, aspek efisiensi sering kali mengalahkan kaidah ejaan yang benar, sehingga memori otot tangan kita terbiasa menggabungkan atau memisahkan penulisan "di" secara acak tanpa memikirkan fungsinya. Selain itu, kebingungan juga muncul karena kurangnya pembiasaan membaca teks formal yang disunting dengan ketat, sehingga mata kita menjadi toleran terhadap bentuk penulisan yang salah kaprah.

Baca Juga: Mengenal Konjungsi dalam Bahasa Indonesia dan Fungsi Masing-Masing 

Tags:
pendidikan Bahasa Indonesia Ejaan Bahasa Indonesia Tata Bahasa

Komentar Pengguna