KebonCinta.com — Ribuan warga di Kelurahan Argasunya, Kota Cirebon, masih membutuhkan pasokan air bersih akibat kondisi kekeringan selama musim kemarau.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Cirebon mencatat telah menyalurkan sekitar 407 ribu liter air sejak Juli hingga 13 Oktober 2026.
Bantuan tersebut diberikan secara berkala kepada wilayah yang mengalami keterbatasan sumber air.
“Dari pendataan yang kami lakukan, ada 1.776 keluarga dengan total 5.914 jiwa yang terdampak,” ujar Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Cirebon Arief Adhitya Firmansya.
Menurutnya, kebutuhan air bersih masih menjadi perhatian utama karena masyarakat belum dapat sepenuhnya mengandalkan sumber air di sekitar tempat tinggal.
Wilayah terdampak berada di beberapa RW Kelurahan Argasunya.
Di antaranya RW 06 Kedung Krisik Selatan, khususnya RT 5 dan RT 6.
Dampak kekeringan juga terjadi di RW 08 Kopiluhur serta RW 09 Cibogo.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, distribusi dilakukan dengan menggunakan armada tangki.
BPBD tidak bekerja sendiri dalam proses tersebut.
Penyaluran melibatkan Perumda Air Minum, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, PMI hingga Kodim 0614/Kota Cirebon.
Dukungan juga diberikan Korpri dan PT Polytama Propindo.
Pemerintah kecamatan dan kelurahan membantu koordinasi agar distribusi dapat menjangkau warga yang membutuhkan.
“Sejak Juli hingga 13 Oktober jumlah air bersih yang sudah disalurkan ke Argasunya mencapai 407 ribu liter,” kata Arief.
Meski jumlah air yang disalurkan cukup besar, bantuan tangki masih bersifat penanganan darurat.
Masyarakat akan tetap membutuhkan pasokan selama sumber air belum kembali normal.
Pemerintah juga memperhatikan perkembangan cuaca.
Berdasarkan informasi yang menjadi acuan BPBD, potensi hujan diperkirakan mulai meningkat pada November.
Namun perubahan kondisi cuaca tetap perlu terus dipantau.
Pemkot Cirebon telah memperpanjang status siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan hingga 30 November 2026.
Status tersebut sebelumnya dijadwalkan berakhir pada 30 September.
Perpanjangan dilakukan agar pemerintah mempunyai dasar untuk terus melakukan penanganan sesuai perkembangan di lapangan.
Air bersih menjadi kebutuhan paling mendasar selama kekeringan.
Warga membutuhkan pasokan untuk minum, memasak, mandi dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Karena itu, distribusi harus dilakukan secara terjadwal agar pasokan dapat dibagi secara merata.
Kondisi di Argasunya juga menjadi pengingat mengenai pentingnya ketahanan sumber air di daerah perkotaan.
Penanganan darurat menggunakan mobil tangki dibutuhkan saat ini, sementara solusi jangka panjang tetap diperlukan untuk mengurangi risiko persoalan yang sama kembali terjadi pada musim kemarau mendatang.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir