KebonCinta.com — Kementerian Agama (Kemenag) mengungkap perkembangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi peserta didik di lingkungan pendidikan keagamaan.
Berdasarkan laporan capaian pemerintah yang disampaikan pada Senin, 19 Oktober 2026, program MBG tercatat telah menjangkau 6.335.217 siswa dan santri binaan Kementerian Agama.
Sementara itu, program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau 3.209.783 siswa dan santri.
Data tersebut menjadi bagian dari laporan capaian program Kemenag dalam dua tahun pelaksanaan agenda pemerintah.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan perkembangan sejumlah program dalam konferensi pers yang berlangsung pada 19 Oktober 2026.
Menurut Kemenag, layanan pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi merupakan bagian dari upaya mendukung peningkatan kualitas generasi muda.
6,3 JUTA SISWA DAN SANTRI TERJANGKAU MBG
Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu kegiatan pemerintah yang menyasar peserta didik di berbagai lembaga pendidikan.
Di lingkungan Kementerian Agama, sasaran program mencakup siswa dan santri sesuai pendataan yang telah dilakukan.
Berdasarkan angka yang diumumkan, lebih dari 6,3 juta peserta didik telah terjangkau layanan MBG.
Namun, angka tersebut merupakan jumlah penerima yang dilaporkan dalam capaian Kemenag, bukan keseluruhan penerima program MBG secara nasional.
Kemenag menekankan bahwa perluasan program harus diikuti pengelolaan data yang akurat agar layanan diterima oleh peserta didik sesuai sasaran.
Selain itu, kualitas makanan dan distribusi menjadi perhatian dalam penyelenggaraan program.
CEK KESEHATAN GRATIS JANGKAU 3,2 JUTA PESERTA DIDIK
Baca Juga: Hari Santri 2026 di Kuningan Diramaikan Festival Genjring Rudat dan Bola Api, Ini Rangkaian Acaranya
Selain program pemenuhan gizi, pemerintah juga menyediakan layanan Cek Kesehatan Gratis.
Layanan tersebut dilaporkan telah menjangkau lebih dari 3,2 juta siswa dan santri binaan Kemenag.
Program ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan perhatian terhadap kesehatan peserta didik di lingkungan pendidikan.
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi'i menekankan pentingnya kondisi kesehatan dan kecukupan gizi bagi proses belajar anak.
Menurutnya, peserta didik yang memperoleh dukungan kesehatan dan gizi memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar dan mengembangkan kemampuan.
PESANTREN DIDORONG TERLIBAT DALAM EKOSISTEM MBG
Kementerian Agama juga mendorong peningkatan keterlibatan pesantren dalam ekosistem program MBG.
Keterlibatan tersebut tidak hanya berhubungan dengan penerimaan makanan oleh santri, tetapi juga berpotensi mendukung kegiatan ekonomi di lingkungan pesantren.
Namun, pelaksanaan program tetap harus memperhatikan ketentuan penyelenggara, mutu makanan, keamanan pangan, dan ketepatan sasaran.
Pemerintah menilai pendataan santri menjadi unsur penting agar pengembangan layanan dapat berjalan sesuai kebutuhan.
BAGAIMANA JIKA SEKOLAH ATAU PESANTREN BELUM MENERIMA MBG?
Perlu dipahami bahwa angka capaian program tidak berarti seluruh madrasah dan pondok pesantren di Indonesia sudah menerima layanan MBG.
Lembaga pendidikan yang ingin mengetahui perkembangan program dapat berkoordinasi dengan Kantor Kementerian Agama kabupaten/kota sesuai wilayahnya.
Pengelola juga dapat memastikan data lembaga dan peserta didik telah tercatat dengan benar pada sistem pendataan yang berlaku.
Informasi mengenai penetapan penerima, jadwal layanan, serta perluasan wilayah sebaiknya diperoleh melalui pengumuman resmi pemerintah.
Penting untuk diketahui bahwa laporan capaian Kemenag pada 19 Oktober 2026 tidak sekaligus mengumumkan pembukaan pendaftaran umum baru bagi penerima MBG.
Dengan meningkatnya cakupan program, pemerintah berharap dukungan gizi dan kesehatan dapat membantu peserta didik memperoleh lingkungan belajar yang lebih baik.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026, yang juga menyoroti peran pesantren dalam peningkatan kualitas generasi muda.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir