KebonCinta.com — Santri kini mendapatkan peluang lebih luas untuk mengikuti pelatihan keterampilan kerja melalui kolaborasi Kementerian Agama dan Kementerian Ketenagakerjaan.
Direktorat Jenderal Pesantren membuka akses program pelatihan vokasi bagi santri, alumni, pengelola usaha pesantren hingga masyarakat sekitar.
Program dijalankan melalui skema Tailor Made Training atau TMT.
Jenis pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pesantren maupun peluang kerja di wilayah masing-masing.
“Pesantren tidak hanya memiliki fungsi pendidikan dan dakwah, tetapi juga pemberdayaan masyarakat,” ujar Dirjen Pesantren Basnang Said.
Menurutnya, kolaborasi dengan kementerian lain diperlukan agar kemampuan santri dan alumni dapat dikembangkan secara lebih optimal.
Program dapat mencakup berbagai keterampilan praktis.
Beberapa contoh yang dapat diusulkan adalah pelatihan barista, menjahit, digital marketing, otomotif, teknik listrik hingga operator alat berat.
Pemilihan jenis pelatihan tidak harus sama untuk setiap pesantren.
Pesantren dapat melihat potensi ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja di daerahnya sebelum menentukan program yang ingin diajukan.
Pelatihan dilaksanakan melalui Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas serta unit pelatihan Kemnaker lainnya.
Peserta tidak dipungut biaya untuk mengikuti pelatihan.
Selain mendapatkan pelatihan, peserta memperoleh konsumsi dan uang saku sebesar Rp50 ribu per hari sesuai ketentuan program.
Namun pemerintah menegaskan dukungan tersebut bukan bantuan uang tunai yang langsung masuk ke rekening pondok pesantren.
Bentuk fasilitasnya adalah penyelenggaraan program pelatihan.
Pesantren bertugas menyiapkan peserta, tempat, pendamping serta rencana tindak lanjut setelah pelatihan selesai.
“Tailor made berarti pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan,” jelas perwakilan program pelatihan vokasi.
Dengan mekanisme tersebut, keterampilan yang diberikan diharapkan benar-benar mempunyai peluang untuk dimanfaatkan setelah peserta selesai mengikuti program.
Seorang santri misalnya dapat mengikuti digital marketing jika pesantrennya mempunyai produk yang ingin dipasarkan secara daring.
Santri lain dapat mengikuti teknik listrik, menjahit maupun otomotif apabila bidang tersebut memiliki peluang kerja di wilayahnya.
Pada 2026, Program Pelatihan Vokasi Nasional mempunyai target sekitar 270 ribu peserta.
Khusus skema Tailor Made Training, alokasinya mencapai 126.442 peserta.
Program tersebut disalurkan melalui 21 unit pelaksana teknis pelatihan vokasi Kemnaker dan ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026.
Pesantren yang ingin mengakses program dapat menyiapkan proposal melalui sistem e-Proposal Kemnaker setelah mempunyai akun SIAPkerja.
Koordinasi juga dapat dilakukan dengan balai pelatihan vokasi terdekat untuk menentukan kebutuhan dan jenis pelatihan.
Program ini memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren dapat berjalan beriringan dengan penguatan keterampilan profesional.
Santri tetap memperoleh pendidikan agama, namun juga mempunyai pilihan memperkuat kemampuan untuk bekerja, berwirausaha maupun mengembangkan unit ekonomi pesantren.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir