News
Al Fina

Kemenag Siapkan Kurikulum Baru untuk MA dan Pesantren, Lulusannya Bakal Dibekali Skill Kerja

Kemenag Siapkan Kurikulum Baru untuk MA dan Pesantren, Lulusannya Bakal Dibekali Skill Kerja

21 Oktober 2026 | 16:01

KebonCinta.com - Lulusan Madrasah Aliyah (MA) dan pesantren akan didorong memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja maupun membangun usaha mandiri. Upaya tersebut menjadi salah satu tujuan rencana kurikulum pemberdayaan yang disiapkan Kementerian Agama (Kemenag) bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM).

Program ini secara khusus memperhatikan kondisi ekonomi peserta didik. Kemenag menyebut mayoritas peserta didik di sekitar 80 ribu madrasah dan 42 ribu pesantren di bawah naungannya berasal dari kelompok desil 1 sampai 4, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan relatif rendah.

Melalui pembekalan keterampilan sejak pendidikan menengah, pemerintah berharap lulusan memiliki peluang lebih luas untuk memperoleh pekerjaan, menciptakan sumber penghasilan, dan membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Baca Juga: Mulai 2027 Status Guru Berubah? Ini Nasib PPPK Paruh Waktu dan Guru Non-ASN Setelah 31 Desember 2026 

Dua Jalur Setelah Lulus: Bekerja atau Berwirausaha

Menteri Agama Nasaruddin Umar mendukung perubahan pendekatan pembelajaran di tingkat MA dan pesantren. Pelatihan yang selama ini diberikan sebagai keterampilan tambahan akan dikembangkan menjadi paket kurikulum pemberdayaan yang lebih terstruktur dan terintegrasi.

Kurikulum tersebut dirancang dengan dua jalur utama: 

1. Mempersiapkan lulusan memasuki dunia kerja

Peserta didik diharapkan memperoleh keterampilan yang sesuai dengan kualifikasi pendidikan menengah dan kebutuhan lapangan kerja. Dengan bekal tersebut, lulusan diharapkan memiliki kompetensi yang dapat digunakan ketika mencari pekerjaan.

2. Mendorong lahirnya wirausahawan mandiri

Selain menjadi pekerja, lulusan juga diharapkan mampu memanfaatkan keterampilan untuk merintis usaha. Pembekalan kewirausahaan sejak dini dapat menjadi modal untuk mengembangkan kegiatan ekonomi sesuai potensi daerah dan sumber daya yang tersedia.

Kedua jalur ini diharapkan memberikan pilihan yang lebih luas bagi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan.

Santri Diharapkan Menjadi Penggerak Ekonomi Daerah

Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai alumni pesantren dan MA memiliki karakter ulet serta terbiasa bekerja keras. Karakter tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk mendukung penguatan ekonomi masyarakat, terutama di kawasan pedesaan.

Pembekalan keterampilan dan kewirausahaan diharapkan dapat mendorong santri berkontribusi terhadap kegiatan ekonomi di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka tidak hanya dipersiapkan untuk mencari pekerjaan di luar daerah, tetapi juga berpeluang mengembangkan usaha yang memanfaatkan potensi lokal.

Jika didukung pelatihan yang tepat dan akses terhadap pasar, keterampilan yang diperoleh selama pendidikan dapat menjadi salah satu modal untuk membangun kemandirian ekonomi keluarga.

Pesantren Berpeluang Mengembangkan Usaha Produktif

Pemberdayaan ekonomi tidak hanya menyasar individu lulusan, tetapi juga ekosistem pesantren. Dalam rapat khusus mengenai kemandirian pesantren pada Senin (19/10/2026), pemerintah membahas dukungan bagi pesantren yang telah mandiri agar dapat berkembang menjadi ekosistem ekonomi produktif.

Dukungan anggaran serta pendanaan melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR disebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan tersebut.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah komunitas agribisnis di Bandung yang mampu menopang kehidupan pesantren dan masyarakat di sekitarnya. Contoh ini menggambarkan potensi kegiatan ekonomi berbasis pesantren untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan internal lembaga.

Pengembangan usaha produktif juga berpotensi membuka ruang pembelajaran kewirausahaan bagi santri. Namun, keberlanjutannya tetap memerlukan pengelolaan yang baik, pendampingan, akses pasar, dan dukungan mitra.

Bisakah Kurikulum Pemberdayaan Memutus Rantai Kemiskinan?

Pendidikan dan keterampilan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas kesempatan ekonomi bagi keluarga berpenghasilan rendah. Karena itu, kurikulum pemberdayaan MA dan pesantren diharapkan tidak berhenti pada pemberian materi, tetapi menghasilkan kompetensi yang benar-benar bisa diterapkan.

Agar tujuan tersebut tercapai, pelaksanaan program perlu memperhatikan kebutuhan dunia kerja, potensi usaha di setiap daerah, serta ketersediaan pendamping dan sarana praktik. Kemitraan dengan dunia usaha juga dapat membantu menghubungkan keterampilan peserta didik dengan peluang kerja maupun pasar.

Rencana kurikulum ini menempatkan pendidikan sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat. Dengan bekal yang relevan, lulusan MA dan pesantren diharapkan lebih siap membangun masa depan, mendukung ekonomi keluarga, dan berkontribusi terhadap perkembangan daerah.

Meski demikian, dampaknya terhadap pengurangan kemiskinan akan bergantung pada kualitas pelaksanaan program dan tersedianya peluang ekonomi setelah peserta didik lulus.

Tags:
kementerian agama Kurikulum pemberdayaan guru madrasah Santri

Komentar Pengguna