Pendidikan
Al Fina

Kemenag Tak Rekrut Guru Bahasa Inggris Baru untuk MI? Ini Strategi Menyiapkan Pengajar

Kemenag Tak Rekrut Guru Bahasa Inggris Baru untuk MI? Ini Strategi Menyiapkan Pengajar

21 Oktober 2026 | 16:07

KebonCinta.com - Kebijakan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa kelas 3 sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) mulai tahun ajaran 2027/2028 menghadirkan tantangan baru bagi Kementerian Agama (Kemenag). Salah satu persoalan yang perlu diselesaikan adalah menyiapkan tenaga pendidik agar mampu mengajarkan bahasa Inggris kepada siswa sekolah dasar.

Kepala Subdirektorat Bina Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah, Direktorat GTK Madrasah Kemenag, Rini Rizki Rahmayani, mengakui bahwa persiapan kebijakan tersebut sempat membuat pihaknya kebingungan.

Pasalnya, Kemenag harus menyiapkan guru dalam waktu relatif singkat, sementara tenaga pendidik yang tersedia memiliki latar belakang pendidikan beragam. Tidak semua guru MI merupakan lulusan pendidikan bahasa Inggris.

Dalam kebijakan yang disiapkan ini, Kemenag tidak berencana mengandalkan perekrutan guru bahasa Inggris baru untuk mengatasi kebutuhan pengajar. Sebaliknya, guru kelas yang sudah mengajar di MI akan dipersiapkan agar dapat menyampaikan materi bahasa Inggris.

Baca Juga: Kapan PPG Daljab Kemenag Dibuka? Guru Madrasah Wajib Pantau Informasi Resmi Ini 

Kemenag Akui Latar Belakang Guru Jadi Tantangan

Rini menjelaskan bahwa guru kelas MI umumnya berasal dari program studi seperti Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) atau bidang pendidikan lain, bukan khusus bahasa Inggris. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah tersendiri dalam penerapan kebijakan baru.

"Karena kita tidak merekrut guru bahasa Inggris, tetapi membuat guru kelas di Madrasah Ibtidaiyah ini mengajarkan bahasa Inggris yang mungkin latar belakang pendidikannya justru bukan di sana ya. Kebanyakan kan ada lulusan PGMI atau lainnya. Nah itu kan PR yang sangat besar," tuturnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah peluncuran program Strengthening the Teaching of English in Primary Schools through Communities of Practice (STEPS-CoP) di Kantor Kementerian Agama, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2026).

Tantangan ini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan bahasa Inggris. Guru juga perlu memahami cara menyampaikan materi kepada anak usia sekolah dasar, memilih aktivitas pembelajaran yang sesuai, serta menyesuaikan bahan ajar dengan kemampuan siswa.

Karena itu, pelatihan guru menjadi salah satu langkah penting agar kebijakan tersebut dapat diterapkan secara efektif.

British Council Hadirkan Program Pelatihan Guru

Upaya menyiapkan guru MI mendapat dukungan melalui program pelatihan dari British Council. Rini menyambut baik pendekatan yang ditawarkan karena dinilai memiliki struktur yang jelas dan memungkinkan dampaknya dievaluasi.

Menurutnya, pola pelatihan tersebut juga berpotensi menjadi acuan bagi pengembangan program lain di lingkungan Kemenag.

Pendekatan yang digunakan adalah Community of Practice (CoP), yakni komunitas belajar yang memungkinkan para pendidik saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik mengajar.

School Systems Lead British Council, Buyung Sudrajat, mengatakan pendekatan serupa telah diterapkan di Mesir dan Vietnam dengan jumlah peserta mencapai 16 ribu orang. Model tersebut dinilai dapat membantu guru mengembangkan kemampuan melalui kolaborasi dengan sesama pendidik.

Alih-alih sepenuhnya bergantung pada moderator internasional, pelatihan di Indonesia akan melibatkan fasilitator dari lingkungan pendidikan, seperti guru, pengawas sekolah, dosen, dan praktisi yang memiliki kemampuan serta pengalaman mendampingi rekan sejawat.

Apa yang Perlu Disiapkan Guru MI?

Melalui pelatihan tersebut, guru diharapkan tidak hanya memahami materi bahasa Inggris, tetapi juga mampu menerapkannya sesuai kebutuhan kelas masing-masing.

Guru akan diperkenalkan pada sumber belajar, rencana pembelajaran, aktivitas, dan materi pendukung yang disesuaikan dengan capaian pembelajaran dalam kurikulum. Mereka juga akan mengikuti lokakarya untuk mempelajari cara mengakses, memilih, dan mengadaptasi bahan ajar.

Pendekatan ini penting karena kondisi setiap kelas tidak selalu sama. Tingkat kemampuan siswa, karakteristik lingkungan sekolah, serta ketersediaan sarana pembelajaran dapat memengaruhi cara guru menyampaikan materi.

Dengan persiapan tersebut, Kemenag diharapkan dapat mengurangi kesenjangan kemampuan pengajar sebelum bahasa Inggris diterapkan sebagai mata pelajaran wajib di kelas 3 MI.

Meski demikian, keberhasilan kebijakan tetap bergantung pada kesiapan guru, kualitas pelatihan, ketersediaan bahan ajar, dan pendampingan berkelanjutan hingga program diterapkan pada tahun ajaran 2027/2028.

Tags:
pelatihan guru bahasa inggris kementerian agama Guru MI British Council

Komentar Pengguna