keboncinta.com- Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) meluncurkan Panduan Pendidikan Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai pola makan sehat.
Panduan tersebut diperkenalkan dalam kegiatan yang berlangsung di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, pada Rabu, 14 Oktober 2026, dan disampaikan melalui siaran pers resmi pada 15 Oktober 2026.
Melalui panduan ini, sekolah didorong mengenalkan beragam makanan bergizi yang tersedia di lingkungan sekitar, termasuk sumber karbohidrat, protein, sayuran, dan buah-buahan lokal.
Menariknya, pendidikan pangan dan gizi tidak harus menjadi mata pelajaran baru. Materinya dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran yang sudah berlangsung.
Lantas, apa saja isi penting panduan tersebut, bagaimana cara menerapkannya, dan apa manfaatnya bagi guru maupun peserta didik?
Panduan Pendidikan Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal merupakan referensi pembelajaran yang dikembangkan untuk membantu satuan pendidikan mengenalkan prinsip konsumsi pangan sehat dengan memanfaatkan kekayaan bahan makanan daerah.
Menurut siaran pers resmi Kemendikdasmen, panduan tersebut ditujukan untuk mendukung integrasi pengetahuan pangan dan gizi ke dalam pembelajaran serta pembiasaan di sekolah.
Sasarannya mencakup jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga SMA atau sederajat.
Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan memahami bahwa makanan bergizi tidak harus berasal dari bahan mahal atau produk impor.
Jagung, ubi, singkong, ikan, telur, tempe, dan sayuran setempat merupakan contoh bahan pangan yang dapat dikenalkan dalam pembelajaran.
Namun, pemilihan makanan tetap harus memperhatikan keseimbangan zat gizi, kebersihan, dan kebutuhan anak.
Salah satu hal penting dari panduan ini adalah penerapannya dapat dilakukan melalui kurikulum yang sudah berjalan.
Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen, Laksmi Dewi, menjelaskan bahwa materi pangan dan gizi dapat dimasukkan ke dalam capaian pembelajaran yang sudah tersedia.
Pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, maupun budaya sekolah.
Artinya, guru tidak harus membuat pelajaran tersendiri mengenai pangan lokal.
Sebagai contoh, guru IPAS dapat membahas kandungan dan fungsi zat gizi, sedangkan guru Matematika menggunakan data bahan makanan untuk latihan pengukuran atau pengolahan informasi.
Kegiatan tersebut dapat dikembangkan sesuai jenjang dan kebutuhan peserta didik.
Panduan ini turut menekankan pola konsumsi B2SA, yaitu Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman.
Prinsip tersebut mencakup tiga hal penting.
Beragam berarti mengonsumsi berbagai jenis makanan agar kebutuhan zat gizi tidak hanya bergantung pada satu bahan pangan.
Bergizi Seimbang berarti memilih kombinasi makanan sesuai kebutuhan tubuh, termasuk sumber energi, protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya.
Aman berarti makanan harus memenuhi aspek kebersihan dan keamanan pangan sehingga layak dikonsumsi.
Menurut Badan Pangan Nasional, penguatan pendidikan B2SA menjadi bagian dari upaya membentuk kebiasaan makan sehat sejak usia sekolah.
Baca Juga: Gizi Seimbang, Edukasi Sederhana yang Berdampak Besar bagi Masyarakat
Guru dapat menggunakan bahan makanan yang dikenal siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, pembelajaran mengenai sumber energi dapat menggunakan singkong, jagung, atau ubi yang tersedia di wilayah sekolah.
Pendekatan ini membuat materi lebih dekat dengan pengalaman peserta didik.
Siswa tidak hanya diminta menghafal jenis zat gizi, tetapi juga belajar memahami alasan pentingnya memilih makanan yang bervariasi.
Sekolah dapat mengembangkan kegiatan membaca label pangan, mengenal menu seimbang, atau berdiskusi tentang pilihan jajanan yang aman.
Setiap daerah Indonesia mempunyai potensi pangan yang berbeda.
Melalui pendidikan pangan lokal, siswa dapat mengenal hasil pertanian, perikanan, dan bahan makanan tradisional di wilayahnya.
Kegiatan ini juga dapat menjadi sarana menghargai pengetahuan masyarakat serta keberagaman kuliner Nusantara.
Panduan ini juga berkaitan dengan upaya edukasi pada pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Guru dapat memanfaatkan kegiatan makan bersama untuk mengenalkan bahan makanan, membahas manfaat sayuran, dan membiasakan kebersihan sebelum makan.
Meski demikian, panduan pendidikan pangan dan gizi bukan pengganti standar penyediaan maupun pengawasan keamanan makanan dalam program MBG.
Baca Juga: BGN Minta Guru Jadi Teladan Saat MBG, Makan Bersama Siswa Kini Didorong Jadi Momen Edukasi Gizi
Sekolah dapat memulai melalui kegiatan sederhana tanpa membutuhkan peralatan mahal.
| Jenjang | Contoh Kegiatan |
|---|---|
| PAUD | Mengenali warna dan nama buah serta sayuran lokal |
| SD | Mengelompokkan bahan makanan menurut fungsi gizinya |
| SMP | Membandingkan kandungan gizi dan harga bahan pangan setempat |
| SMA | Menganalisis kebiasaan konsumsi dan potensi pangan daerah |
Sebagai contoh untuk kelas 5 SD, guru dapat menyiapkan gambar jagung, telur, tempe, bayam, dan pepaya.
Siswa diminta mengelompokkan bahan tersebut berdasarkan zat gizi utamanya.
Selanjutnya, guru membimbing diskusi mengenai alasan tubuh membutuhkan makanan yang bervariasi.
Untuk SMP, kegiatan dapat dikembangkan menjadi proyek survei makanan lokal di pasar sekitar sekolah.
Siswa mencatat jenis bahan, harga, serta informasi gizi berdasarkan sumber yang dapat dipercaya.
Hasilnya kemudian dipresentasikan dalam bentuk tabel atau poster.
Kegiatan ini merupakan contoh pengembangan pembelajaran yang dapat disesuaikan guru, bukan satu-satunya bentuk pelaksanaan yang diwajibkan pemerintah.
Langkah pertama adalah mempelajari panduan resmi dan mengidentifikasi materi yang relevan dengan capaian pembelajaran.
Setelah itu, guru dapat memetakan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekolah.
Sekolah juga dapat melibatkan UKS, orang tua, serta pengelola kantin dalam kegiatan edukasi.
Penting untuk memastikan tidak ada siswa yang dipermalukan karena kondisi ekonomi keluarga, jenis bekal, atau keterbatasan akses terhadap makanan tertentu.
Jika kegiatan melibatkan konsumsi makanan, sekolah perlu memperhatikan alergi, kebersihan, keamanan, dan kebutuhan khusus peserta didik.
Keberhasilan kegiatan dapat dievaluasi melalui pemahaman siswa dan perubahan kebiasaan yang diamati secara wajar, bukan melalui penilaian terhadap bentuk tubuh atau berat badan anak.
Badan Pangan Nasional menyatakan bahwa buku panduan sudah dapat diakses secara terbuka melalui situs resmi pemerintah.
Sekolah dan guru dapat mencarinya melalui dua laman berikut:
1. Portal Kurikulum Kemendikdasmen
https://kurikulum.kemendikdasmen.go.id/rujukan/panduan-panduan-kurikulum
2. Perpustakaan Digital Badan Pangan Nasional
https://pustaka.badanpangan.go.id/
Cari dokumen berjudul "Panduan Pendidikan Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal".
Gunakan dokumen resmi sebagai acuan sebelum mengembangkan aktivitas atau materi pembelajaran.
Berita paling banyak dibaca dalam 7 hari terakhir