Khazanah
M. Fadhli Dzil Ikram

Kerukunan Umat Beragama Dimulai dari Keluarga: Peran Penyuluh Agama Islam dalam Menanamkan Sikap Toleran Sejak Dini

Kerukunan Umat Beragama Dimulai dari Keluarga: Peran Penyuluh Agama Islam dalam Menanamkan Sikap Toleran Sejak Dini

27 Oktober 2026 | 08:22

Oleh : Agus Abdurrohim

Keboncinta.com – Kerukunan umat beragama tidak selalu harus dimulai melalui kegiatan besar atau dialog formal antartokoh agama. Kerukunan justru dapat tumbuh dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Dari keluarga, seseorang belajar menghargai orang lain, menjaga ucapan, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Dalam perspektif Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA), keluarga memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi yang mampu hidup berdampingan secara damai di tengah masyarakat yang beragam. Nilai-nilai agama yang ditanamkan sejak dini perlu disertai pendidikan akhlak, penghormatan terhadap sesama, serta pemahaman bahwa perbedaan merupakan bagian dari kehidupan bermasyarakat.

Pendidikan kerukunan dalam keluarga bukan berarti mengurangi keyakinan agama yang dianut. Sebaliknya, pendidikan tersebut membantu setiap anggota keluarga memahami pentingnya menjalankan ajaran agama dengan sikap santun, bertanggung jawab, dan tidak merendahkan orang lain.

Keluarga sebagai Tempat Pertama Belajar Menghargai Perbedaan

Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan contoh perilaku kepada anak-anaknya. Sikap menghormati tetangga, membantu warga yang membutuhkan, serta menghindari perkataan yang merendahkan kelompok lain merupakan bentuk pendidikan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Anak-anak tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat secara langsung. Karena itu, orang tua perlu menunjukkan bahwa perbedaan latar belakang, budaya, maupun keyakinan tidak menjadi alasan untuk membenci atau memperlakukan orang lain secara tidak adil.

Penyuluh Agama Islam dapat mengambil peran melalui bimbingan keluarga, majelis taklim, konsultasi keagamaan, dan kegiatan pembinaan masyarakat. Materi penyuluhan dapat diarahkan pada pendidikan akhlak dalam keluarga, komunikasi yang sehat, serta cara mendidik anak agar memiliki kepedulian sosial.

Dengan pendekatan tersebut, keluarga diharapkan mampu menjadi lingkungan yang menanamkan nilai kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Baca Juga: Peran Tokoh Agama dalam Memelihara Kerukunan 

Menanamkan Toleransi Tanpa Mengaburkan Keyakinan

Salah satu tantangan dalam membangun kerukunan adalah pemahaman yang kurang tepat mengenai toleransi. Sebagian orang menganggap toleransi sebagai sikap yang mengharuskan seseorang mencampuradukkan keyakinan. Padahal, toleransi sosial dapat diwujudkan dengan menghormati hak orang lain, menjaga hubungan baik, dan bekerja sama dalam urusan kemanusiaan tanpa harus meninggalkan prinsip agama masing-masing.

Dalam Islam, pentingnya hubungan sosial yang baik dapat dipahami melalui Surah Al-Mumtahanah ayat 8, yang menjelaskan bahwa Allah tidak melarang umat Islam berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya.

Pesan tersebut menunjukkan pentingnya sikap baik dan adil dalam kehidupan sosial. Nilai ini dapat ditanamkan kepada anak melalui contoh sederhana, seperti tidak mengejek teman yang berbeda keyakinan, tidak menyebarkan kebencian, serta bersikap adil dalam pergaulan.

Bagi Penyuluh Agama Islam, penjelasan mengenai toleransi perlu disampaikan secara proporsional agar masyarakat memahami batas antara keyakinan pribadi dan tanggung jawab sosial.

Tantangan Pendidikan Kerukunan di Era Media Sosial

Perkembangan media sosial memberikan pengaruh besar terhadap cara anak dan remaja memperoleh informasi. Berbagai konten yang mengandung prasangka, penghinaan, dan provokasi dapat memengaruhi cara pandang mereka terhadap kelompok lain.

Karena itu, keluarga perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak mengenai informasi yang mereka temukan di internet. Orang tua dapat mengajarkan pentingnya memeriksa sumber informasi, memahami konteks, dan tidak mudah membagikan konten yang berpotensi memicu konflik.

Penyuluh Agama Islam juga dapat memanfaatkan media digital untuk menyebarkan pesan keagamaan yang mendidik, memperkuat akhlak, serta mengajak masyarakat membangun hubungan sosial yang harmonis.

Kerja sama antara keluarga, lembaga pendidikan, penyuluh agama, dan masyarakat menjadi penting agar generasi muda tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata.

Penyuluh Agama Islam sebagai Pendamping Keluarga

Penyuluh Agama Islam di KUA memiliki peluang untuk memperkuat pendidikan kerukunan melalui program bimbingan keluarga dan kegiatan penyuluhan masyarakat. Bimbingan tersebut dapat mencakup penguatan komunikasi keluarga, pendidikan akhlak, pencegahan kekerasan, serta penanaman sikap saling menghormati.

Kegiatan majelis taklim, bimbingan perkawinan, pembinaan remaja, dan penyuluhan di lingkungan masyarakat dapat menjadi ruang untuk menyampaikan bahwa keluarga yang harmonis tidak hanya ditandai dengan hubungan internal yang baik, tetapi juga dengan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Penyuluh dapat mendorong keluarga agar berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, membantu warga yang mengalami kesulitan, dan membangun komunikasi yang baik dengan tetangga tanpa membedakan latar belakangnya.

Upaya ini tentu membutuhkan keteladanan dan kerja sama berbagai pihak. Kerukunan tidak cukup diajarkan sebagai konsep, tetapi perlu dipraktikkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Moderasi Beragama: Menjaga Keimanan, Merawat Kerukunan 

Membangun Masa Depan yang Damai dari Rumah

Kerukunan umat beragama merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan pendidikan berkelanjutan. Keluarga menjadi tempat awal untuk menanamkan nilai penghormatan, sementara sekolah, lingkungan masyarakat, dan lembaga keagamaan memperkuat nilai tersebut melalui pengalaman sosial.

Dalam konteks ini, Penyuluh Agama Islam tidak hanya berperan menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga mendampingi masyarakat agar mampu menerapkan nilai agama secara bijaksana dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketika keluarga membiasakan anak untuk menghormati sesama, menyelesaikan perbedaan dengan dialog, dan menghindari kebencian, sesungguhnya keluarga sedang membangun fondasi bagi masyarakat yang damai.

Kerukunan yang kuat tidak lahir secara instan. Kerukunan tumbuh melalui pendidikan, keteladanan, keadilan, dan kepedulian yang dilakukan terus-menerus. Dari rumah, nilai-nilai tersebut dapat berkembang menjadi budaya masyarakat yang menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan bangsa.

FAQ

1. Mengapa keluarga penting dalam menjaga kerukunan umat beragama?

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi anak untuk belajar menghormati orang lain, membangun akhlak, dan memahami pentingnya hidup berdampingan secara damai.

2. Bagaimana cara orang tua menanamkan toleransi kepada anak?

Orang tua dapat memberikan keteladanan, mengajarkan sikap adil, menghormati perbedaan, serta membiasakan anak membantu sesama tanpa diskriminasi.

3.

LANJUT MEMBACA
Jelajahi Artikel
1 / 2
LANJUTKAN MEMBACA Selanjutnya
Tags:

Komentar Pengguna