Khazanah
M. Panji Maulana

Khilafiyah dalam Fikih Islam: Pengertian dan Adab Menghargai Perbedaan Mazhab

Khilafiyah dalam Fikih Islam: Pengertian dan Adab Menghargai Perbedaan Mazhab

16 Oktober 2026 | 12:51

keboncinta.com- Khilafiyah dalam fikih Islam adalah persoalan yang memungkinkan munculnya perbedaan pendapat di kalangan ulama berdasarkan cara memahami dalil dan menerapkan metode penetapan hukum. Perbedaan semacam ini dapat dijumpai dalam sejumlah praktik ibadah sehari-hari, termasuk persoalan yang sering dibicarakan di masjid, sekolah, dan lingkungan keluarga.

Mengetahui arti khilafiyah penting agar umat Islam tidak mudah menuduh orang lain keliru hanya karena mengikuti pendapat mazhab yang berbeda. Pada saat yang sama, menghormati perbedaan bukan berarti seluruh pendapat otomatis sama kuat atau semua persoalan bebas dipilih tanpa dasar.

Apa Itu Khilafiyah?

Istilah khilafiyah berkaitan dengan perbedaan pendapat. Dalam fikih, perbedaan terjadi ketika para ulama mempunyai kesimpulan hukum yang tidak sama atas suatu persoalan, meskipun sama-sama berupaya merujuk Al-Qur'an, hadis, dan kaidah keilmuan yang diakui.

Contoh yang dikenal masyarakat ialah perbedaan dalam beberapa praktik shalat atau amalan keagamaan. Pembahasan perlu dilakukan secara spesifik: dalil mana yang dipakai, bagaimana kualitas dalil dipahami, dan bagaimana metode mazhab menghasilkan kesimpulan.

Mengapa Ulama Bisa Berbeda Pendapat?

Ada beberapa sebab utama. Pertama, tidak semua ulama memiliki akses yang sama kepada riwayat hadis pada masa penyusunan pendapat. Kedua, mereka bisa berbeda dalam menilai kekuatan suatu riwayat. Ketiga, teks dalil terkadang memungkinkan lebih dari satu pemahaman kebahasaan.

Keempat, terdapat perbedaan metode dalam menggabungkan dalil atau menerapkan kaidah usul fikih. Kelima, situasi nyata yang dihadapi dapat memerlukan penjelasan tambahan mengenai penerapan hukum. 

Contoh Khilafiyah dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam praktik masyarakat, perbedaan dapat muncul mengenai qunut Subuh, sebagian bentuk dzikir setelah shalat, atau rincian praktik bersuci. Namun, menyebut suatu masalah sebagai khilafiyah harus didasarkan pada adanya perbedaan yang benar-benar dibahas dalam literatur ulama, bukan hanya karena ada pendapat baru tanpa landasan.

Guru atau pengasuh pesantren dapat mengajarkan siswa membandingkan dua pendapat secara ringkas dengan menyebut sumber masing-masing. Pelajar tidak perlu dipaksa menentukan siapa yang paling benar melalui debat yang emosional.

Baca Juga: Dirjen Bimas Islam Susun Modul Ngaji Fasolatan, Beri Akses Mudah Masyarakat Belajar Salat

Adab Menghargai Perbedaan Mazhab

Mulailah dengan menanyakan alasan dan rujukan, bukan menebak niat orang yang berbeda praktik. Bila tidak mengetahui sumbernya, nyatakan secara jujur bahwa Anda belum memahami persoalannya. Diskusi dengan cara seperti ini lebih bermanfaat daripada memperbesar perbedaan melalui potongan video atau komentar media sosial.

Hindari menyebut lawan bicara kurang beriman hanya karena mengikuti pendapat mazhab tertentu. Bedakan kritik terhadap argumen dengan penghinaan terhadap orangnya. Pilih ruang diskusi yang tepat, terutama jika pembicaraan menyangkut ibadah yang sedang berlangsung.

Penting pula mengetahui bahwa menghormati khilafiyah tidak menghapus kesepakatan ulama pada persoalan tertentu.  dalam tradisi NU terdapat kaidah la yunkar al mukhtalaf fih untuk menjelaskan perlunya kehati-hatian ketika menilai perkara yang benar-benar diperselisihkan.

Sikap Jika Masjid Memiliki Praktik Berbeda

Ketika salat berjamaah di tempat yang tradisinya berbeda, utamakan ketenangan dan persatuan selama ibadah dijalankan dengan cara yang diakui dalam ketentuan fikih. Jika terdapat persoalan yang perlu ditanyakan, sampaikan setelah shalat kepada imam atau pengurus masjid dengan bahasa yang sopan.

Untuk masalah yang berpotensi memengaruhi sah atau tidaknya ibadah, sebaiknya meminta keterangan guru agama yang memiliki kemampuan menjelaskan fikih perbandingan. Jangan mengganti pendapat hanya berdasarkan konten singkat yang tidak menyebut konteks.

Baca Juga: Doa Agar Anak Rajin Sholat Tanpa Disuruh, Lengkap dengan Cara Mengamalkannya

Cara Mengajarkan Khilafiyah kepada Siswa dan Santri

Guru dapat memulai dari perbedaan sederhana yang sudah dikenal peserta didik. Minta mereka menuliskan dua pandangan, sumber bacaan, dan alasan mengapa keduanya perlu dipahami secara jernih. Setelah itu, ajak kelas menyepakati larangan mengejek serta kebiasaan bertanya sebelum menyimpulkan.

Tags:
khilafiyah perbedaan mazhab adab ikhtilaf fikih islam toleransi beragama NU

Komentar Pengguna